Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Aku akan Menyusulmu


__ADS_3

Alexa terbangun secara reflek, begitu mendengar suara ponsel yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya berbunyi. Sejak kepergian Ravendra ke Jerman, perempuan ini memang tidak lagi bisa merasakan tidur nyenyak. Kerap kali setiap malam Alexa terbangun, hanya karena suara-suara kecil saja. Dan akan merasa kesulitan lagi untuk kembali beristirahat.


"Ha.. ha.. ha.. tuan muda Ravendra, suami dari nona muda Alexa... papa dari Abhimana. Sangat memprihatinkan, hanya demi kalian .. laki-laki muda sombong ini bersedia mengorbankan hidupnya.." membaca pesan yang masuk pada ponselnya, Alexa tersentak.


Tampak sebuah gambar yang menunjukkan ada dua laki-laki yang diikat tangannya ke atas. Darah tampak berlumuran dan masih terlihat basah, berada di atas pakaian yang dikenakannya. Jantung Alexa seperti berhenti berdetak melihat gambar itu, dan sekali lagi perempuan itu melihat lagi dengan jelas.


"Huh,.. begitu mudah sekali mereka berusaha untuk menipuku... mainan receh.." sambil tersenyum smirk, Alexa bergumam.


Pakaian yang dikenakan oleh laki-laki itu memang sama persis dengan pakaian yang dimiliki suaminya. Tetapi bentuk tubuh laki-laki yang berada dalam ikatan itu, jelas-jelas bukan dirinya. Alexa mengenal hampir setiap inchi sudut dan bentuk tubuh dari suaminya. Tetapi perempuan itu akan mencoba masuk dalam permainan itu, dan akan mengikuti apa yang dimaui oleh para pengancam tersebut.


"Jangan sakiti suamiku dan adik iparku. Apa yang kalian inginkan.." Alexa merekam suaranya, dengan voice note perempuan itu membalas pesan yang dikirim kepadanya itu.


Beberapa saat tidak ada jawaban dari pengirim, dan pesan yang dikirimkan oleh Alexa hanya centang satu. Hal itu mungkin disebabkan orang itu mematikan ponselnya, setelah berhasil mengirimkan pesan pada Alexa. Merasa tidak ada respon, Alexa bangun dari posisi tidurnya. Perempuan itu kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya menuju connecting room yang ada di sebelahnya.


Tampak suster Sisca tertidur di single bed yang ada di samping box bayi Abhimana. Merasa kasihan dengan gadis muda itu, ALexa mengambil selimut dan perlahan menyelimuti suster yang sudah membantunya merawat putranya itu. Alexa kemudian mendekati box bayinya, melihat Abhimana yang tertidur pulas, perempuan itu melihatnya dengan penuh keharuan.

__ADS_1


"Putraku.. jika memang dibutuhkan, mama akan pergi mencari keberadaan papamu. Maafkan mama ya  nak, ada Oma Sarah dan Opa Thomas yang akan membantu mengawasi tumbuh kembangmu.." ucap lirih Alexa, sambil mengusap pipi,  dahi ABhimana secara perlahan. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dada perempuan muda itu, dan tanpa disadarinya air mata menetes melalui sudut matanya, Beberapa saat dihabiskan Alexa untuk memandangi wajag Abhimana yang tertidur pulas. Untung bayi itu, dan juga Suster Sisca tidak menyadari kehadirannya di kamar itu.


Tiba-tiba Alexa mendengar ada langkah kaki di luar kamar putranya. Pintu kamar Abhimana memang tidak tertutup rapat, sehingga masih bisa mendengar langkah kaki atau keributan jika terjadi di luar kamar tersebut. Alexa cepat-cepat menghapus air matanya, kemudian perempuan itu memberikan ciuman pada putranya ABhimana.


"Aku akan melihat keluar, karena sepertinya tidak ada orang lain di rumah ini selain mama Nancy dan beberapa pengawal. Papa Abraham sedang berada di Singapura sejak kemarin, ataukah mungkin papa sudah kembali ke Batam..?" Alexa perlahan keluar untuk melihat orang di luar kamar putranya. Kejadian beruntun yang terjadi di perusahaan milik suaminya, membuatnya harus senantiasa berhati-hati dan waspada.


********


Sesampainya di luar kamar Abhimana, Alexa melihat ada bayangan orang di dapur. Perlahan Alexa mengikuti bayangan itu, tetapi begitu perempuan itu sudah berada di dapur, Alexa terkejut melihat siapa yang sedang berada di dalam ruangan itu. Tampak mama Sarah sedang menyeduh black coffee, dan menoleh ke arah putrinya.


"Mama.. kapan mama datang. kenapa tidak memberi kabar kedatangan?" Alexa terlihat bahagia melihat kedatangan mamanya kembali ke rumah ini.


"Terbangun mam.. biasa sedang menengok ABhimana. Dengan tidak adanya kak Ravend, dan belum juga ada kabar darinya, Lexa sering terbangun di tengah malam mam.. Seperti ada yang selalu memanggil kedatangan Alexa untuk menemukan kak Ravendra.." ucap pelan Alexa. gadis itu kemudian duduk di kursi meja makan, kemudian menyandarkan kepalanya di atas meja makan.


"Huh... bangunlah putriku Lexa, jangan seperti itu. Tidak baik jika sampai maid atau pengawal melihat keterpurukanmu. Ikuti mama, kita akan diskusikan masalah ini dengan papamu.." dengan bijak, Nyonya Sarah meminta Alexa untuk mengikutinya.

__ADS_1


Nyonya Sarah kemudian mengangkat cangkir berisi kopi panas, dan juga sandwich ke dalam nampan, kemudian membawanya keluar. Dengan malas, ALexa mengikuti langkah kaki mamanya menuju ke paviliun. Rumah itu memang di desain Ravendra dengan beberapa paviliun terpisah dengan rumah utama, Paviliun itu disediakan Ravendra untuk tempat anggota keluarga yang akan menginap di rumah itu, jadi tidak menjadi satu dengan tempat istirahat utama yang dimiliki oleh pemilik rumah.


"Selamat malam nona muda..." beberapa pengawal yang masih berjaga menyapa ALexa, ketika mereka berpapasan.


"Malam.. lanjutkan tugas kalian. Jangan lupa isi perut dengan makanan dan minuman, agar kalian tetap sehat." ALexa membalas sapaan pengawal itu dengan ramah.


"Baik nona muda, terima kasih. Saya kembali melanjutkan tugas saya.." setelah menjawab ucapan Alexa, pengawal itu segera meminta ijin pada Alexa untuk melanjutkan tugasnya,


Alexa menganggukkan kepala, kemudian kembali berjalan mengikuti Nyonya Sarah. Tampak lampu paviliun yang ditempati mama dan papanya bersinar terang, dan Alexa langsung masuk ke dalamnya. Papa Thomas meletakkan gadget di tangannya dan tersenyum melihat kedatangan putrinya itu.


"Papa.." tanpa disadari, Alexa tiba-tiba memeluk papanya, dan menumpahkan air mata di dada laki-laki itu.


Dari samping Nyonya Sarah hanya melihat keadaan putrinya dengan tatapan prihatin, tetapi hanya mengusap-usap punggung perempuan muda itu yang bisa dilakukannya saat ini. Thomas membiarkan putrinya menumpahkan perasaannya, dan setelah beberapa saat kemudian.


"Tidurlah di pangkuan papa putriku... kamu belum pernah merasakannya bukan..?" suara Thomas meminta Alexa untuk tidur di pangkuannya.

__ADS_1


Tidak diduga, Alexa segera menempatkan kepalanya di pangkuan Thomas. Laki-laki itu tersenyum, dan mengusap rambut di kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang kebapakan. Tidak berapa lama kemudian, perempuan muda itu sudah tertidur pulas. Nyonya Sarah tersenyum melihatnya, dan Thomas membiarkan putrinya untuk tetap beristirahat. Bertemu dengan putrinya ALexa, ketika gadis itu sudah dewasa memang menjadikan Thomas kehilangan moment pada saat putrinya harus bermanja-manja dengannya. Setelah sekian lama, baru kali ini laki-laki itu dapat merasakannya.


*******


__ADS_2