Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Ke Jerman


__ADS_3

Keesokan Harinya


Ravendra membuka kamar, dan melihat istrinya sedang memberikan ASI pada Abhimana. Laki-laki itu merasa bersalah, karena meninggalkan Alexa sendirian di kamar karena sedang berdiskusi dengan Johan sampai pagi, dan akhirnya mereka tertidur di ruang kerja,


"Morning honey.. pangeran papa.. Abhimana.." Ravendra memberikan kecupan pada Alexa, kemudian berpindah pada putranya.


"Morning.. masih ngantuk kak.. istirahat dulu saja. Nanti agak siangan Lexa bangunkan.." mengetahui jika semalam suaminya pergi ke ruang kerja dan meninggalkannya sendiri, Alexa memahaminya. Meskipun Ravendra tidak memberi tahunya, namun perempuan muda itu mengetahui adanya kesulitan perusahaan, dikarenakan ada Johan juga di ruangan itu.


"Honey memang paling mengerti.. " kembali Ravendra memberikan ciuman, tetapi kemudian terdiam sebentar. Laki-laki itu tampak berpikir, karena sebenarnya siang ini Johan sudah mengatur penerbangan ke Jerman, untuk melakukan negosiasi pada pemilik perusahaan yang memproduksi detonator yang ditemukan oleh tim investigasi perusahaan, di lokasi kebakaran.


"Sebenarnya hari ini kakak ada urusan penting yang harus diselesaikan dengan Johan honey.. Namun.. jika ada keberatan darimu, aku akan membatalkan urusan itu dan membiarkan urusan itu diselesaikan sendiri oleh Johan." Ravendra akhirnya menyampaikan rencananya hari ini,


Ravendra meletakkan Abhimana yang sudah mulai tertidur dalam box bayi.. perempuan itu kemudian duduk di samping laki-laki itu. Melihat kegunndahan di wajah suaminya, Alexa ikut merasakan jika saat ini suaminya memiliki beban pikiran.


"Jangan khawatirkan kami kak.. ada mama Sarah, papa Thomas, Mommy Nancy serta Veena yang akan menemaniku disini. Pergilah kak.. jika memang urusan itu penting karena bersangkutan dengan orang banyak. Tidak mungkin jika kakak hanya mengurung sendiri di rumah ini, berkumpul denganku dan Abhimana. Sedangkan ada tanggung jawab besar yang harus segera diurus." Alexa meraih telapak tangan suaminya, kemudian menanggapi perkataan laki-laki itu.

__ADS_1


"Tapi honey... jika aku memutuskan pergi, aku sendiri belum tahu kapan aku harus kembali. Dan perjalanan kali ini, sedikit berbahaya karena kita akan berurusan dengan teknologi canggih, yang belum umum dipakai di dunia ini.." terlihat Ravendra sendiri seperti memiliki keraguan.


"Jika kita memang memutuskan untuk tetap hidup dan bertahan dalam kehidupan ini, maka kita harus hidup secara normal kak. Kita harus menjalani sesuatu yang bisa membawa manfaat untuk orang yang lain. Sehingga apapun yang kita lakukan, akan ada berkah dari Tuhan.. Balasan akan dirasakan oleh anak-anak kita, bahkan generasi kita selanjutnya.." Alexa berbicara dengan lirih, sambil memegangi tangan suaminya,


Ravendra menundukkan  wajahnya dan melihat ke wajah istrinya. Ada sinar mata dan senyum ketulusan di dalam wajah perempuan muda yang sudah secara resmi menjalin ikatan dengannya itu. Bukan larangan, atau upaya untuk menahannya pergi, tetapi dengan bijak Alexa malah membekalinya dengan nasehat-nasehat kehidupan. Beberapa saat kemudian laki-laki itu terdiam dan termenung, tapi akhirnya..


"Baiklah honey... pukul sebelas siang aku harus sudah berada di airport. Johan akan menjemputku kesini dengan menggunakan helipad untuk menghindari kemacetan menuju arah airport. Doakan suamimu ini honey.. semoga secepatnya dapat menyelesaikan urusan ini, dan kembali untuk menjumpaimu dan Abhimana.." Ravendra akhirnya membuat keputusan. Melihat istrinya tersenyum dan menganggukkan kepala, laki-laki itu langsung memberikan pelukan erat pada perempuan itu.


Setelah beberapa saat, Ravendra melepaskan pelukan istrinya. Lkai-laki itu kemudian berjalan ke box bayi, kemudian mengangkat Abhimana dan memberinya ciuman dalam di kedua pipi dan dahi bayi mungil itu.


********


"Papa.. titip jaga istriku Alexa dan juga putraku Abhimana. Aku tidak tahu akan bagaimana perjalanan kami, karena papa tahu sendiri bagaimana permainan sindikat teknologi dan senjata di pinggiran negara Jerman. Bahkan kepolisian internasional tidak mampu mengendus kawasan itu." Ravendra berbicara lirih pada Thomas.


"Jangan kamu khawatirkan mereka Ravendr.. mereka berdua adalah tanggung jawab papa juga. Semua perusahaanmu di negara Indonesia, yang aku yakin terkena dampak dari kebakaran gudang itu, untuk sementara akan aku handle dengan Abraham. Kami sudah membicarakannya tadi pagi.." Thomas menenangkan perasaan menantunya itu.

__ADS_1


"Fokuskan pencarianmu pada otak di balik kasus peledakan itu. Karena tadi tanpa sengaja, papa mencuri dengar dari Johan. Beberapa gudang perusahaan di beberapa negara lain juga mengalami hal yang sama." Thomas melanjutkan.


"Iya pa.. aku masih merahasiakan hal ini pada Lexa istriku. Baru beberapa jam yang lalu, aku mendengar informasi itu, dan saham beberapa perusahaan langsung anjlok. Bukan kerugian itu yang aku pikirkan, tapi ribuan orang yang bergabung dengan perusahaan, hal itu yang menjadi pemikiran saya pa.." Ravendra mengungkapkan hal yang membuatnya prihatin,


"Aku memahaminya.. pergilah. Istrimu sudah menyampaikan padaku, tidak bisa ikut melihat kepergianmu, karena sedang menggendong Abhimana. Tapi percayalah, Alexa bukan perempuan sembarangan.. dimanapun, perempuan itu akan selalu mendoakanmu, dan berharap kesuksesanmu" Ravendra tersenyum mendengar penjelasan papa mertuanya. Meskipun Alexa tidak ikut mengantarkannya sampai disitu, tetapi laki-laki itu bisa melihat keberadaan istrinya dan juga ABhimana sedang melihatnya dari balkon di depan kamarnya,


Thomas memeluk Ravendra... kemudian tanpa menoleh lagi laki-laki muda itu segera masuk ke dalam helypad. Tidak lama kemudian, pilot segera menerbangkan helipad tersebut meninggalkan hanggar yang ada di halaman bagian belakang rumah baru Alexa, Dari balkon, tanpa sadar Alexa mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari sudut matanya. Tidak tahu apa yang menjadi sebabnya, kepergian suaminya kali ini seperti meninggalkan rasa sakit di sudut hati perempuan muda itu.


"Kak Lexa..." tiba-tiba terdengar suara Raveena dari belakangnya. Dengan cepat Alexa menoleh dan melihat Raveena yang berlari kemudian memeluknya yang sedang menggendong Abhimana.


"Tenangkan dirimu Veena.. kakak tahu apa yang saat ini kamu rasakan. Baru dua hari kamu menikah dengan Johan, hari ini kamu ditinggalkannya untuk waktu yang kita tidak ketahui akan berapa lama." Alexa ikut prihatin dengan kondisi yang dihadapi adik iparnya itu. Padahal nasibnya sendiri juga tidak jauh lebih baik..


"Iya kak... tapi jika sampai dua minggu tidak ada kabar juga dari mereka, maka Veena akan menyusul mereka ke Jerman kak. Banyak teman Veena di negara itu, baik teman dalam artian hubungan wajar, tapi banyak juga yang masuk dalam circle mafia.." tiba-tiba Raveena mengucap niatnya.


"Sudah.. sudah.. jangan terlalu banyak berpikir. Hal itu akan kita diskusikan lagi di laen waktu." dengan cepat, Alexa memutus percakapan itu.

__ADS_1


*********


__ADS_2