
Tepat pada pukul 19.00 malam, private jet yang membawa Tuan Besar Abraham dan Nyonya Besar Nancy mendarat di Hang Nadim Airport, Batam. Tuan Besar Abraham merahasiakan kedatangannya ke kota ini, bahkan para pengawalnya juga tidak tahu kemana tujuan mereka berdua. Tetapi secara online, laki-laki itu sudah memesan hotel yang tidak di bawah bendera kepemilikannya, maupun kepemilikan Ravendra. Tuan Besar Abraham memutuskan untuk menginap di Batam Marriot Hotel, Harbour Bay.
"Momm.. kita akan naik taksi menuju hotel. Papa sudah memesan eksekutif taxi, Limousine dari Blue Bird sudah menunggu kita di pintu kedatangan." sambil berjalan turun dari private jet, laki-laki itu memberi tahu rencana mereka pada Nancy. Saking sibuknya menjelaskan pada istrinya, Abraham sampai tidak sempat membalas salam yang diberikan pilot dan pramugari. Laki-laki itu dengan sabar menjelaskan pada istrinya, sambil merangkul di bahu perempuan itu.
"No problem pa.., mommy ikut saja. Terus bagaimana barang bagasi kita, apakah harus kita bawa sendiri atau sudah ada yang mengurusnya nanti." melihat barang bawaan yang dibawanya dari Canada, Nancy merasa bingung untuk membawanya.
"Jangan khawatir, dari pihak pilot dan pramugari yang akan mengurus semuanya. Kita langsung keluar saja menuju pintu kedatangan." Tuan Abraham langsung mengarahkan langkah istrinya. Mereka segera menuju ke pintu kedatangan, dan terlihat ada laki-laki yang sudah menunggu mereka dengan membawa kertas berukuran besar. Tulisan "Welcome Mr. Abraham, and Mrs. Nancy at Hang Nadim Airport, Batam." yang sangat besar tertulis di kertas berwarna putih tersebut.
"Itukah orang yang akan menjemput kita pa..?" Nancy merasa ragu melihat orang asing akan mengantarkan mereka pergi.
"Yap.. don.t worry please.. Papa sudah melakukan online booking pada perusahaan mereka. perusahaan transportasi yang papa pesan, memiliki rating keamanan dan kenyamanan tertinggi dari penumpang. Kita juga dengan mudah, bisa melakukan complain jika driver mereka bermasalah. Hilangkan rasa khawatirmu.." menyadari rasa khawatir yang dirasakan Nancy.., Abraham mencoba menenangkan istrinya itu.
Nancy melihat ke arah suaminya, Abraham tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Akhirnya Nancy mencoba menghilangkan rasa khawatirnya. Perempuan itu mengikuti langkah suaminya menuju driver yang sudah menunggu mereka di depan pintu kedatangan.
"Hello .. apakah Tuan dan Madam berdua ini Tuan Abraham dan Madam Nancy..?" dengan ramah, laki-laki yang membawa tulisan pada selembar kertas itu bertanya pada Abraham dan Nancy.
"Yap.. apakah anda ini yang ditugaskan dari Blue Bird Transportation untuk melakukan penjemputan?" Abraham mengiyakan.
__ADS_1
"Benar Tuan Abraham dan madam.. mari ikuti saya. Kita keluar dulu dari terminal kedatangan, kita bisa melanjutkan pembicaraan, setelah berada di dalam mobil. Kami paham, betapa lelahnya menempuh perjalanan jauh lebih dari lima jam waktu perjalanan." driver itu segera mengajak kedua orang itu untuk berjalan keluar dari terminal kedatangan. Tidak mau menunda waktu, Abraham segera menggandeng istrinya, mereka kemudian mengikuti laki-laki itu.
Beberapa saat mereka berjalan, driver itu membukakan pintu mobil limousine yang sudah menunggu mereka di depan. Laki-laki itu tersenyum, dan menggunakan satu tangannya mempersilakan Abraham dan Nancy untuk masuk ke dalam. Abraham membantu istrinya masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, baru kemudian dirinya mengikuti dari belakang. Driver kemudian menutup pintu mobil dengan perlahan, kemudian segera menempatkan dirinya di belakang kemudi.
"Tuan dan Madam.. perjalanan menuju hotel dibutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Apakah Tuan dan Madam, ingin berhenti dulu, misalkan ingin mampir dulu ke beberapa tempat sebelum check in di hotel?" driver sambil menginjak pedal gas, bertanya tujuan pasangan suami istri itu.
"Okay.. antarkan kami berdua untuk dinner terlebih dahulu. Cari restaurant yang bersih dan representatif, dan kami tidak begitu meributkan menu makanan. Semuanya bisa kita toleransi.." Abraham ingin mengisi perut mereka terlebih dahulu.
"Siap Tuan.." dengan cepat, driver menanggapi perkataan laki-laki itu.
*******
Beberapa saat kemudian, driver limousine menghentikan mobilnya di halaman parkir Port House Resto & Bar. Laki-laki itu memilih restaurant itu, karena berada di dekat hotel tempat menginap pasangan suami istri itu. Driver itu menoleh ke belakang, dan melihat pasangan suami istri tertidur, ada keengganan untuk membangunkan mereka. Dengan sabar, driver menunggu mereka dengan tetap menyalakan mesin mobil agar penumpangnya tetap merasakan kenyamanan.
"Apakah kita sudah sampai di lokasi mas..?" tiba-tiba driver dikejutkan oleh suara dari belakang. Ternyata Tuan Besar Abraham sudah terbangun, dan driver itu menoleh ke belakang sambil tersenyum.
"Sudah Tuan Abraham.. hanya saja kita masih berada di halaman parkir restaurant. Jika Tuan berkenan dengan menu makanan di restaurant ini, silakan masuk. Namun jika kurang berkenan, saya akan berganti mencari restaurant yang lain lagi." dengan sopan, driver menawarkan restaurant itu pada Tuan Besar Abraham.
__ADS_1
"Mari kita turun.., kamu sekalian ikut join dinner sama kita. Tadi sepertinya aku sudah katakan, kami berdua tidak ada masalah dengan food negara manapun, Semuanya kita bisa menikmati.." tanpa menunggu driver membuka pintu mobil, Tuan Besar Abraham sudah membuka pintu mobil sendiri. laki-laki itu kemudian menunggu Nancy untuk mengikutinya keluar.
"Ampuni saya Tuan dan Madam.. harusnya saya yang memiliki tugas untuk membukakan pintu. Malah Tuan dan madam membukanya sendiri." dengan wajah penuh khawatir, driver segera keluar dari dalam mobil, dan meminta maaf pada pasangan suami istri itu.
"Sudah no matter ... ayo ikuti kami masuk ke dalam." Abraham segera menggandeng Nancy untuk berjalan masuk ke restaurant, dan tidak melupakan driver itu.
Dengan malu-malu, driver berjalan pelan mengikuti langkah pasangan suami istri itu. Ketiganya segera melangkah kaki masuk, dan seorang waiters dengan ramah mencegat mereka untuk memberikan pelayanan.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya.. apakah ada yang bisa saya bantu. Kira-kira berapa kursi untuk kami bantu siapkan untuk menikmati hidangan di restaurant ini?" waiters bertanya pada mereka.
"Siapkan private room untuk kami bertiga, dan sajikan semua menu makanan dan minuman yang menjadi andalan di restaurant ini." dengan tegas, Abrahan meminta waiters untuk menyiapkan pesanan mereka.
"Siap Tuan.. mohon ikuti saya. Kebetulan masih tersisa satu private room, dan karena hanya tiga orang yang akan menggunakannya, di bill nanti ada tambahan charge untuk room rent." sambil berjalan menunjukkan arah ruangan, waiters menjelaskan syarat dan ketentuan menggunakan private room.
Di sebuah ruangan mewah di lantai dua, mereka disuguhkan pemandangan malam the Promenade Harbour Bay. Gemerlap lampu dari negara Singapura tertangkap jelas, dari jendela kaca yang membatasi ruangan tempat Tuan besar Abraham akan melakukan dinner.
*******
__ADS_1