
Ravendra menghentikan sejenak aktivitasnya bercanda dengan Alexa. Laki-laki itu kemudian menegakkan badannya ke atas, dan menatap mata perempuan muda yang sudah dinikahinya itu. Alexa tersenyum dan menganggukkan kepala, mencoba meyakinkan suaminya untuk membuka pintu kamar itu.
"Bukalah kak.. percayalah.. Lexa siap untuk menghadapi dan berbicara dengan mama.." Alexa meminta suaminya untuk bergegas membuka pintu kamar,
"Kemana lagi Johan.. bukannya aku sudah memerintah anak muda itu untuk mengurus semuanya. Kenapa secepat ini, pintu kamar sudah mulai berbunyi.." Ravendra terlihat resah, tapi istrinya tetap tersenyum. Hal itu yang menenangkan dan menjadi obat penenang jika hatinya sedang mengalami gundah gulana.
"Ingat kak Ravend.. bukankah kak Johan juga memiliki masalah sendiri dengan Raveena. Apakah kakak tidak berpikir, bagaimana tanggapan Mommy ketika mengetahui putrinya yang belum menikah, tinggal berdua di kamar Johan. Kak Johan pasti juga sedang disibukkan dengan upayanya untuk menyelamatkan diri mereka." Alexa terus berusaha mempengaruhi suaminya, agar tidak menyalahkan siapapun.
"Tapi harusnya laki-laki itu berpikir, kondisimu sedang hamil honey.. Sangat beresiko jika harus mendengarkan omelan Mommy.. kenapa tidak ada yang mampu berpikir seperti itu.." Ravendra terus berbicara dengan nada kesal.
Alexa terdiam, sudah habis bagaimana lagi harus menenangkan suaminya. Tidak diduga, Alexa segera berdiri, perempuan muda itu menempelkan bibirnya di bibir laki-laki itu kemudian ********** beberapa saat. Nafas kedua pasangan suami istri itu saling memburu, dan ketegangan mulai menghilang dari wajah Ravendra..
"Tet.. tet.. tet.." kembali bel pintu kamar berbunyi tiga kali.
Perlahan ALexa melepaskan ciuman di bibir Ravendra, meskipun laki-laki itu menolaknya namun ALexa tetap memaksa. AKhirnya dengan kesal, Ravendra melepaskan bibir ALexa dari bibirnya.
"Apakah kakak tidak bisa membuka pintu itu.., jika tidak biarkan Lexa untuk membukanya.." ucap ALexa pelan, matanya mencoba menembus ke mata suaminya.
"Istirahatlah dulu honey.., kakak yang akan membukanya.." setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Ravendra menyanggupi untuk membuka pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Perlahan laki-laki itu berdiri dan mendudukkan ALexa ke atas sofa. Kemudian Ravendra berjalan meninggalkan Alexa menuju ke arah pintu. Dengan malas, laki-laki itu memutar perlahan kunci pintu kamarnya, yang memang sengaja dia kunci dari dalam. begitu pintu terbuka..
"Ravendra putraku... benarkah ini kamu nak..." suara Nyonya Besar Nancy tercekat melihat kemunculan putra pertamanya itu. Hasratnya tadi untuk menemui gadis muda hamil yang menolongnya tadi siang hilang sudah. Hal itu berganti dengan keharuan menatap wajah tampan putranya, yang sudah bertahun-tahun pergi meninggalkannya sendiri, karena kesalah pahaman.
"Mmm ya Momm... untuk apa Mommy datang kesini.." dengan judes, Ravendra menanggapi perkataan Nancy.
"Ravendra.. jaga bicaramu. Dengan siapa saat ini kamu bicara, ingat dan lihatlah.." mendengar perkataan judes Ravendra pada Mommy nya, terdengar suara keras Tuan Besar Abraham memberi teguran pada putra laki-lakinya.
Ravendra terdiam tidak membantah, laki-laki muda itu hanya mengalihkan tatapan matanya dari Nancy, kemudian bertabrakan dengan tatapan mata Abraham. Nancy mendekatkan tubuhnya ke arah putra laki-lakinya, kemudian memberikan pelukan pada putranya yang sudah lama pergi meninggalkannya itu.
"Kenapa Ravend.. jika kamu berpikir, apa yang Mommy lakukan waktu itu, dianggap salah di matamu. Mommy minta maaf nak.. maafkan Mommy.." Nancy menghiba di hadapan Ravendra yang terlihat masih keukeuh belum bisa menerima kehadiran orang tuanya.
"Ada apa ini pa.. kenapa papa bersuara keras pada kak Ravend..?" tiba-tiba ALexa sudah berdiri di belakang Ravendra. Perempuan muda itu meraih tubuh Ravendra kemudian memeluknya, tetapi mata perempuan itu mencari tanya pada papa mertuanya.
Ravendra diam saja, laki-laki ini kemudian memeluk erat Alexa, dan berusaha memberi perlindungan pada istrinya yang sedang dalam keadaan hamil itu. Thomas juga diam saja, laki-laki ini bergeser mendekati putrinya Alexa, berusaha melindungi gadis ini dari amukan Nancy.
"Maafkan kak Ravend pap.. bukan maksud kak Ravend seperti itu. Yang dilakukan kak Ravend sebenarnya sangat mulia, karena kak Ravend hanya ingin melindungi Alexa pa. Salahkan Alexa, bukan Kak Ravend.. karena semua ini dilakukan oleh kak Ravendr karena saya.." dengan berani, Alexa memberikan pembelaan untuk suaminya Ravendra.
Di depan mereka, Nancy terkejut melihat perempuan hamil yang melindungi putranya Ravendra itu. Perempuan paruh baya itu ternganga, seperti kehilangan tenaga untuk bersuara, Menyadari hal itu, untunglah Tuan besar Abraham menjadi tanggap, kemudian laki-laki itu mendekati Nancy.
__ADS_1
"Momm.. mommy kenapa. Apa ada yang terjadi,. kenapa Mommy terlihat bingung..." Abraham bertanya pada istrinya.
"Gadis ini pa.. gadis inilah yang Mommy minta carikan. Gadis hamil yang tadi siang sudah menolong mommy, tetapi juga berbicara keras pada mommy pa.. Ternyata papa memang sudah mengabulkan permintaan Mommy, terima kasih pap.." semua terdiam mendengar perkataan Nyonya Besar Nancy.
Alexa yang sedang menyandarkan wajahnya pada dekapan Ravendra, segera melepaskan diri dan mengarahkan pandangannya pada perempuan paruh baya itu. melihat perempuan sombong yang sudah ditolongnya di Nagoya tadi siang, ALexa menjadi terkejut.
"Nyonya.., Nyonya... bukankan ini Nyonya yang tadi siang ada di Nagoya Mall...?" Alexa berteriak dengan kaget.
Tanpa memberikan jawaban, Nancy meraih tubuh Alexa; kemudian perempuan itu menurunkan wajahnya ke bawah. Nancy memberikan ciuman beberapa kali di perut buncit Alexa. Setelah beberapa saat nancy memberikan ciuman pada perut gadis itu, akhirnya nancy mengangkat wajahnya kembali ke atas.
"Ternyata kamu adalah putri menantuku... kamu istri dari putraku yang sudah lama meninggalkanku.. Ravendra.." ucap Nancy lirih. Tiba-tiba tidak diduga, perempuan bernama Nancy itu merasa lemas, dan tidak lama kemudian tubuhnya terkulai lemas. tubuh perempuan itu akhirnya jatuh pingsan, dan tangan Alexa tidak kuat menahannya.
"Tolong.. berilah pertolongan pada perempuan ini. Nyonya ini pingsan.." teriak ALexa.
Dengan sigap, Johan yang sejak tadi melihat kejadian itu segera mengambil alih tubuh Nyonya Besar Nancy dari tangan dan pundak ALexa, kemudian mengangkat dan membawanya ke atas ranjang di salah satu kamar yang ada di pent house tersebut. Alexa panik. tetapi Ravendra sigap untuk menenangkan istrinya itu.
Thomas segera memanggil petugas room service untuk menyiapkan teh panas, dan juga menghubungi dokter keluarga untuk segera meluncur ke hotel tersebut. Menggunakan aroma theraphy, Tuan Besar Abraham mengoleskan aroma tersebut di lobang hidung istrinya, sambil meluruskan kaki dan tangannya.
"Kak.., ijinkan Lexa untuk membantu Mommy.." ALexa meminta ijin pada suaminya untuk mendekati Nyonya Nancy.
__ADS_1
"Tidak.. ingat kehamilanmu honey.. Tidak boleh terlalu capai, dan terlalu banyak pikiran.." dengan tegas, Ravendra menolak keinginan istrinya. Laki-laki itu betul-betul mengamankan istrinya, dan bahkan membiarkan Mommy nya hanya ditangani oleh papanya.
*********