
Sesaat Alexa seperti seorang gadis tanpa jiwa. Gadis itu berjalan meninggalkan Ravendra yang menatapnya dengan tatapan tidak mau ditinggalkan. Dengan pandangan berkabut karena air mata, Ravendra berusaha mengejar Alexa yang berjalan lurus menuju ke tengah altar ibadah. Tetapi tidak ada yang menyangka, dengan cepat tangan Alexa mengibaskan tangan Ravendra. Gadis yang semula terlihat lemah itu, kali ini memiliki kekuatan yang besar, sampai membuat tubuh Ravendra terpental.
Semua yang melihat kejadian itu menutup mulut mereka, dan Johan langsung berlari menghampiri Ravendra. Laki-laki itu merasa terhenyak melihat tuan mudanya meneteskan air mata. Baru kali ini, sepanjang ratusan tahun bersama dengan laki-laki itu, Johan melihat Ravendra begitu rapuh. Dan semua itu terjadi karena seorang perempuan yaitu nona muda Alexa.
"Tuan muda tidak apa-apa?" dengan suara pelan, Johan bertanya pada Ravendra.
Ravendra mengangkat tangannya untuk memberi isyarat pada Johan jika dia tidak apa-apa. Laki-laki itu mengusap air mata dengan menggunakan jari tangannya, dan penuh rasa prihatin Johan hanya dapat menatap laki-laki itu.
"Alexa putriku... sadarlah nak.. Ingatlah kembali semuanya, aku adalah Thomas papamu, dan diia adalah Ravendra suamimu." Thomas berusaha maju ke depan untuk mengembalikan kesadaran Alexa. Namun, gadis itu sama sekali tidak menanggapi Thomas, tatapan sadis dan sinis diarahkan gadis itu pada semua orang yang ada di tempat itu.
"Akhirnya kebahagiaan ini datang juga Andrew putraku... Ratu kita sudah hidup kembali, Ratu kita menitis pada nona muda Alexa.." dengan mata berbinar, Cathy memberi tahu Andrew.
Andrew tidak berbicara apa-apa, anak muda itu hanya mengamati dan melihat pada Alexa, kemudian pada semua keluarga gadis itu. Di satu sisi laki-laki itu ingin mempercayai perkataan yang diucapkan oleh mamanya, namun melihat kesakitan yang dialami Ravendra.. Andrew merasakan kesedihan.
"Tring... tring..." tiba-tiba terdengar alunan suara harpa berbunyi.
Terlihat di altar, Alexa menengadahkan wajahnya kembali ke atas. Cahaya putih yang terang terus mengitari tubuh gadis itu, dan perlahan tubuh Alexa terlihat seperti terbungkus oleh sebuah kabut tebal. Mustika yang indah tampak bersinar cerah di kepala gadis itu, dan menambah kecantikan Alexa menjadi semakin berlipat-lipat.
"Honey.. sadarlah. Kamu adalah istriku.. bukan siapa-siapa untuk mereka." suara Ravendra memecah kesunyian, dan terdengar seperti ada rintihan kesakitan dalam suara itu.
__ADS_1
Johan tidak mau melepaskan laki-laki itu, karena terlihat kerapuhan dalam wajah Ravendra. Kemanapun Ravendra berjalan, Johan tetap mengikuti di belakang laki-laki itu.
Alexa tersenyum kemudian menurunkan wajahnya, tangannya diangkat ke depan mengikuti suara musik. Tiba-tiba kaki Alex terangkat ke atas, dan melihat hal itu Ravendra berlari ke depan untuk memegangi kaki istrinya.
"Dukk... Bukk ." tiba-tiba tubuh Ravendra terpental dan terpelanting ke belakang Tetapi menyadari jika Alex akan pergi meninggalkannya, laki-laki itu segera bergegas bangkit dan kembali berlari menghampiri istrinya. Melihat perjuangan Ravendra untuk mempertahankan istrinya, dengan cepat Thomas bergegas berlari untuk membantu anak muda itu.
"Pergilah... kalian bukan siapa-siapa bagiku. Hanya orang yang patuh dan taat kepadaku, yang akan bisa selalu berada di sisiku." kembali suara Alexa bergema di sekitar tempat itu.
Mata Alexa tidak lagi mata jernih dan tajam, tetapi sudah berubah menjadi tatapan yang membunuh. Ravendra tidak mempedulikan kata-kata peringatan dari gadis itu. Laki-laki itu terus mengejar dan memegangi kedua kaki Alexa. Cahaya sinar terang yang sejak tadi membungkus tubuh gadis itu, saat ini berada di atas melingkari kepala Alexa. Tampak jelas terlihat dari mana sumber cahaya itu berasal. Tangan patung laki-laki tua tidak henti-hentinya memancarkan sinar terang dan menyalurkan ke tubuh Alexa.
"Aliran energi terang itu harus dibelokkan. Jika tidak, maka tuan muda akan celaka." dengan mata nanar, Johan berpikir sendiri.
Johan terus berpikir, bagaimana dia bisa mengalihkan aliran energi yang terus mengalir itu. Kondisi saat ini di depannya sudah terlihat tidak menyenangkan. Tetapi tuan muda Ravendra masih terus berusaha untuk memegangi istrinya, dengan Tuan Thomas memegangi kedua kaki Ravendra.
Melihat situasi yang susah untuk dikendalikan, tiba-tiba pandangan Johan kembali terarah ke tangan patung kaki tua yang ada di altar. Tidak tahu kenapa, Johan merasa jengah dengan patung tersebut, apalagi melihat kedua tangan yang terus mengeluarkan cahaya terang.
"Atau aku hancurkan saja tangan patung itu. Sepertinya dari tempat itu semuanya berasal." Johan kembali berpikir. Tidak mau menghabiskan banyak waktu, Johan segera berdiri dan melihat ada batang kayu di pinggir altar, laki-laki itu segera berlari mengambil batang kayu tersebut.
"Andrew .. hentikan laki-laki itu! Hal gila apa yang akan dilakukannya?" melihat yang dilakukan Johan, Cathy berteriak memanggilnya putranya.
__ADS_1
Andrew segera berlari untuk menghalangi tindakan Johan, tetapi dengan cepat sebuah tendangan diarahkan Johan pada laki-laki itu.
"Hukh... aakh.." tubuh Andrew melayang ke belakang dan terjatuh di depan Cathy.
"Hentikan... jangan bertindak gila.. anak muda.." Cathy berteriak, perempuan itu tidak segera memberi pertolongan pada putranya. Namun Cathy malah berusia untuk menghalangi Johan.
Dengan tatapan sinis, Johan memandang perempuan tua itu dengan sadis. Genggaman tangannya diarahkan pada perempuan tua itu, mencoba memberikan ancaman pada Cathy. Di satu sisi, Alexa dan Ravendra bergelantungan di udara mengikuti cahaya sinar terang itu akan menerbangkannya. Melihat hal itu, Johan segera bergegas maju ke depan.
"Duk.. Duk.." Johan mengarahkan pukulan dengan menggunakan batang kayu yang ada di tangannya. Namun tangan patung kayu itu tetap kokoh berada dalam patung laki-laki tua itu.
"Duk.. Duk..." kembali dengan niat untuk menyelamatkan tuan muda dan nona mudanya, Johan terus memukul tangan patung itu.
Melihat tindakan yang dilakukannya tidak membawa perubahan apapun, Johan berhenti dan memundurkan kakinya ke belakang. Laki-laki itu memejamkan mata sejenak, kemudian mengeluarkannya semua kekuatan vampirenya. Kembali fokus memegang batang kayu di tangannya, Johan melompat tinggi dan..
"Dukk... brakk..." tenaga kuat yang dikeluarkan Johan untuk kembali memberi pukulan dengan maksud untuk mematahkan tangan itu mulai sedikit demi sedikit menunjukkan hasil.
Cahaya putih agak menyimpang arah sinarnya, dan tidak diduga oleh anak muda itu, dari belakang tiba-tiba Cathy sudah memegang sebuah batang kayu juga. Perempuan itu dengan sekuat tenaga, memukulkan batang kayu tersebut ke punggung Johan.
"Kurang ajar perempuan tua .. brakk.." untungnya Johan tetap memperhatikan keselamatannya. Dengan tangan kirinya, Johan menghalau serangan kemudian membanting tubuh Cathy ke belakang. Tak ayal lagi tubuh perempuan tua itu terjengkang dan terbaring di atas tanah.
__ADS_1
*******