Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Please Forgive Me


__ADS_3

Steven berjalan menuju ke arah mobil yang diparkirnya, dan tidak lama kemudian anak muda itu membawa beberapa makanan ringan dan botol minuman di tangannya. Anak muda itu menyerahkan goodie bag berisi makanan ringan tersebut ke depan David, dan laki-laki muda yang sedang berbicara dengan Raveena itu menerimanya. David membuka botol minuman, kemudian menyerahkan pada gadis itu.


"I.m sorry... no alcohol. Jika kalian ada air mineral, atau coffee dalam kaleng aku mau. Namun jika hanya ada minuman alkohol ini, aku tidak mau untuk konsumsi." Raveena menolak dengan halus melihat minuman yang diberikan David kepadanya. Meskipun minuman dalam botol itu memiliki kadar alkohol yang rendah, tetapi Raveena tetap tidak mau menerimanya.


"Upss sorry.. aku akan ambil kembali ke mobil. Aku pikir kamu seperti gadis-gadis lain di kota ini Veena. Ketika gabut, mereka sering mengisinya dengan menghabiskan minuman seperti ini." Steven meraih botol minuman yang sudah dibuka dari tangan David.. kemudian anak muda itu membuang botol minuman tersebut ke bawah jurang. Steven kemudian kembali melangkah menuju ke arah mobil, dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa beberapa minuman soft drink dan air mineral.


"Aku pikir kalian salah sangka.. Aku yakin, tidak semua gadis di kota ini berperilaku demikian. Buktinya.. aku yang saat ini ada di depan kalian, sedikitpun aku tidak tertarik dengan minuman itu." Raveena tersenyum, gadis itu menolak pernyataan laki-laki yang duduk di depannya itu.


"Kamu benar Veena.. By the way.. kenapa kamu tiba-tiba berada di tempat ini. Apakah sedari malam kamu berada di puncak bukit Dangas ini.." David bertanya tentang keberadaan Raveena di tempat itu pagi-pagi begini. Siapapun pasti akan heran dan mengajukan pertanyaan, jika mereka melihat ada seorang gadis cantik berada sendiri di puncak sebuah bukit. Di tempat itu, juga tidak terlihat ada sarana transportasi yang terlihat digunakan olehnya.


Raveena mengalihkan pandangan ke bawah bukit. Suara ombak terdengar sampai di tempat mereka berada saat ini. Tidak lama kemudian..


"Aku berada disini sejak tadi pagi ketika hari masih petang. Kebetulan aku suka jogging, dan sering tidak terasa jika sudah melakukan oleh raga itu. Seperti saat ini, saking asyiknya aku sudah berada di puncak sebuah bukit. Baru sadar ketika tubuh sudah mengirim signal rasa capai, dan akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat dulu di tempat ini." masih tetap dengan tersenyum, Raveena menjawab pertanyaan anak muda di depannya itu.


"Veena.. makanlah bread ini untuk isi perutmu. Pasti kamu sangat haus dan lapar.." Steven melemparkan satu bungkus roti sobek merek Sari**ti pada gadis itu, dan dengan cepat Raveena menangkapnya.


Tanpa bicara, gadis itu segera menyobek roti tersebut kemudian memasukkan ke dalam mulutnya dengan cepat. Seakan mengetahui apa yang akan dilakukan gadis itu, Steven membuka kaleng soft drink berupa kopi gula aren, kemudian menyerahkannya pada Raveena.

__ADS_1


"Thank.s Steven.." tanpa basa-basi, Raveena mengambil kaleng minuman, kemudian meminumnya beberapa teguk di depan dua laki-laki itu. David dan Steven tersenyum melihat gadis di depannya tidak merasa malu-malu menerima tawaran makanan dan minuman yang ditawarkan mereka.


"Di kota ini, dimana tempat tinggalmu Veena.." tiba-tiba David menanyakan tempat tinggal gadis itu.


"Untuk hari ini, aku di rumah mertua kakak kandungku.. tepat di pinggir pantai Sekupang. Tetapi aku sendiri sebenarnya tinggal di Pent house hotel berbintang lima terbesar di kota ini." tanpa sungkan, Raveena menceritakan tempat dimana dirinya tinggal selama di kota Batam.


"Wowww... ternyata kita tidak jauh tempat tinggalnya. Kami tinggal di apartemen yang berada tidak jauh dari tempat kamu tinggal Veena.. Jika begitu.. kapan-kapan kita bisa main bareng nih." celetuk David.


"Yupz.. semuanya bisa diatur." sahut Raveena cepat sambil melanjutkan menikmati roti sobek di tangannya.


*********


Johan tampak panik melihat ke sekitar pantai Sekupang, namun belum menemukan gadis yang sedang dicarinya. Merasa tidak menemukan Raveena di sekitar areal pantai, mata laki-laki itu tiba-tiba menatap bukit Dangas yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sebenarnya ada keraguan untuk mencari Raveena di bukit itu, namun sepertinya tempat itu satu-satunya tempat terdekat yang belum laki-laki itu datangi.


"Mmmm... apakah mungkin, jika Raveena naik ke bukit Dangas di atas sana. Puncak bukit itu sangat landai, dan sangat indah untuk melihat pemandangan dari atas sana." Johan berbicara pada dirinya sendiri. Tatapan laki-laki itu terus melihat ke atas bukit Dangas. Pepohonan rimbun yang tumbuh di atas bukit itu, ingin rasanya laki-laki itu tembus, untuk melihat apakah gadis yang sedang dicarinya berada di puncak bukit tersebut.


"Atau aku datangi saja puncak bukit itu. Siapa tahu, gadis itu memang berada di atas bukit tersebut." akhirnya Johan memutuskan untuk mendatangi bukit itu.

__ADS_1


Laki-laki itu menengok ke belakang, dan ketika melihat ada pengawal yang melihat ke arahnya, laki-laki itu melambaikan tangan memanggil pengawal tersebut. Tidak lama kemudian, pengawal itu sudah berada di depan laki-laki itu.


"Ada apa Tuan Johan.. apalah tuan sudah menemukan dimana keberadaan nona muda Raveena." pengawal itu bertanya pada laki-laki itu.


"Belum.. saat ini aku butuh mobil. Bawa cepat mobil adventure kesini, aku akan menggunakannya untuk menaiki bukit di depan sana." dengan cepat, Johan memberikan pengawal itu perintah.


"Siap laksanakan tuan Johan.. tunggulah sebentar." pengawal itu segera berlari meninggalkan Johan kembali sendiri di pinggir pantai.


Johan kembali berdiri menatap ombak dan bangunan gedung bertingkat di seberang lautan. Laki-laki itu tiba-tiba berjongkok, kemudian dengan menggunakan ranting kayu yang ada di bawah kakinya, Johan bermain pasir di bawah kakinya.


"Please forgive me Raveena.. I love you.." tanpa sadar, laki-laki itu mengucapkan perasaannya di pasir putih pantai Sekupang, Namun tiba-tiba.. ombak kembali menghempas pantai, dan air laut terbawa sampai ke kaki laki-laki itu. melihat tulisannya dengan cepat hilang terkena air, laki-laki itu hanya bisa tersenyum pahit. Untungnya mobil yang dia tunggu, sudah terlihat diantarkan pengawal kepadanya.


"Tuan Johan.. apakah perlu saya antarkan, atau tuan akan mengemudi sendiri?" pengawal yang mengantarkan mobil Jeep Cherokee itu bertanya pada laki-laki itu.


"Kembalilah.. jagalah rumah Nyonya Sarah dan Tuan Thomas. Aku akan mencari nona muda Raveena sendiri, jangan ikuti aku.." Johan langsung masuk ke dalam mobil, dan langsung duduk di belakang kemudi.


"Siap laksanakan tuan Johan.." dengan cepat, pengawal itu memberi jawaban.

__ADS_1


Tanpa bicara lagi, Johan sudah menginjak pedal gas, kemudian pergi meninggalkan pengawal itu sendiri di pinggir pantai.


*********


__ADS_2