Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Prosesi


__ADS_3

Ravendra menginjal pedal gas dengan sangat kencang tetapi tetap memperhatikan kenyamanan istrinya yang sedang merintih kesakitan. Rumah sakit berstandar internasional yang dimiliki oleh Thumbay Group yakni investor Uni Emirat Arab, menjadi pilihannya untuk memeriksa kesehatan istrinya. Untuk melindungi tersebarnya berita istrinya, agar tidak menerima banyak kunjungan untuk stabilitas kondisi ALexa, Ravendra meminta para pengawal untuk merahasiakan kepergian mereka. Pasangan suami istri itu juga tidak mau mengganggu keadaan di roof top, tempat Johan dan Raveena sedang merayakan kebahagiaan.


"Aaakhh... mmmh.." terdengar rintihan keluar dari mulut ALexa.


Dari samping kemudi, Ravendra melihat keadaan istrinya dengan rasa cemas. Laki-laki itu menggunakan tangan kirinya untuk memberikan  usapan pada perut istrinya, kemudian tangan kanannya tetap berada di atas kemudi. Merasakan usapan tangan kiri Ravendra, perut ALexa kembali bergerak dan terasa nyaman,


"Masih bisa menahannya honey.. jangan khawatir. Tidak lama lagi kita sudah akan sampai di rumah sakit. Para pengawal sudah membuat sebuah pengaturan untukmu honey.. bertahanlah." Ravendra terus berbicara untuk memberikan dukungan pada rasa nyeri dirasakan oleh istrinya.


"Tidak apa kak.. jangan terlalu mengkhawatirkan lexa. Jika perempuan lain saja bisa bertahan dan melakukannya, kenapa Lexa tidak.. ANugrah terindah kak.. , masih bisa merasakan rasa nyeri ini." Alexa tersenyum dan mencoba menenangkan suaminya.


Laki-laki itu tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya di dahi istrinya, dan sebuah ciuman mendarat di dahi ALexa. Setelah melakukannya, Ravendra kembali menginjak pedal gas, dan sambil menahan rasa nyeri, ALexa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku suaminya.


Tidak lama kemudian, mobil yang dibawa Ravendra sudah masuk ke halaman rumah sakit. Laki-laki itu langsung menghentikan mobil di depan ICU room untuk ruang VVIP. Beberapa perawat terlihat sudah menunggu kedatangan mereka dengan pengawalan ketat dari para pengawal Ravendra. Mereka membantu pasangan suami istri itu dengan membukakan pintu mobil. Mereka kemudian membantu mengangkat ALexa, kemudian memindahkan tubuh perempuan muda itu di atas kursi roda, dan segera mendorongnya masuk.


Ravendra melemparkan kunci mobil pada pengawalnya, dan laki-laki itu segera bergegas mendampingi istrinya untuk masuk ke ruang perawatan. Seorang dokter yang sangat cantik telah menunggu mereka di ruang pemeriksaan. Melihat kedatangan Ravendra dengan wajah tampannya, dokter muda yang cantik itu terpukau dan tersipu malu melihat ketampanan suami dari pasiennya itu.


"Mohon maaf tuan muda.. tuan muda bisa menunggu di luar. Kami akan melakukan pemeriksaan pada kondisi kehamilan nona muda.." dengan gugup, dokter spesialis yang sangat cantik itu meminta Ravendra untuk menunggu di luar ranjang pemeriksaan.


"Kamu berani mengusirku, perempuan muda ini istriku.. aku adalah suaminya. Akan aku tutup rumah sakit ini, jika kamu sekali lagi berani mengusirku keluar.." dengan nada tinggi, Ravendra membentak dokter spesialis itu.

__ADS_1


Mendengar perkataan kasar Ravendra, dokter muda itu menjadi gugup. Untuk menenangkan suaminya, ALexa memegang pergelangan tangan Ravendra dan menganggukkan kepala.


"Baik.. baik.. tuan muda. Tuan muda bisa menunggui nona muda yang akan dilakukan tindakan.." akhirnya dengan gugup, dokter spesialis itu mengijinkan Ravendra untuk mendampingi ALexa.


Ravendra diam saja tidak memberi tanggapan pada dokter yang sedang melakukan pemeriksaan pada Alexa. Tangan laki-laki itu terus menggenggam tangan Alexa, seakan mengalirkan semangat pada perempuan muda itu.


"Nona muda.. mohon untuk menekuk kakinya dengan lutut di atas ya, kemudian mohon maaf agak mengangkang sedikit." dengan hati-hati, takut salah bicara, dokter spesialis memberi arahan pada Alexa. Dokter spesialis itu mengenakan sarung tangan, dan tindakannya diawasi dengan cermat oleh Ravendra.


"Sebentar DOkter.. untuk apa tangan dokter ke **** ***** istri saya.." dengan nada sedikit tinggi, Ravendra membentak dokter perempuan tersebut.


Dokter spesialis sampai terjenggirat merasa kaget dengan teguran yang diberikan oleh laki-laki itu.


"Kak Ravend.. jangan mengganggu tindakan dokter kak.. Jika kakak tidak kuat, kak Ravend menunggu di luar saja.." sambil menahan sakit, Alexa mencengkeram tangan suaminya untuk memberinya peringatan.


Ravendra menoleh ke arah istrinya, laki-laki itu tersenyum kemudian memberikan ciuman di kening gadis itu. Dokter spesialis merasa malu melihat keuwuan sikap yang ditunjukkan oleh laki-laki itu. Bersikap garang di depan orang lain, tetapi menjadi bucin di depan istrinya sendiri.


"Aku akan menunggui dan menemanimu honey.. maaf jika aku kelewatan.." ucap ravendra meminta maaf pada istrinya. Laki-laki itu terus mengusap keringat dingin yang mulai mengalir di wajah istrinya. Sambil menatap wajah istrinya, akhirnya Ravendra terlupa untuk memperhatikan dokter spesialis melakukan tindakan.


"Baru bukaan empat nona muda.. kita masih harus menanti sampai bukaan maksimal. Mohon untuk bersabar nona muda.." dokter spesialis itu melepas sarung tangan dan membuangnya di tempat sampah.

__ADS_1


Alexa menganggukkan kepalanya, kemudian perempuan muda itu kembali meringis kesakitan, sambil memutar lengan kanan suaminya.


"Hmmm.., sshhh.. aaaww..." jerit Alexa.


Dengan penuh kekhawatiran, Ravendra melihat ke arah istrinya yang sedang mengalami pembukaan rahim, dan merasakan sakit yang tidak terkira. Laki-laki itu merelakan kulitnya menjadi sasaran untuk diputar dan dicubit oleh ALexa, ketika gadis itu sedang menahan rasa sakit,


"Honey... bagaimana kalau dilakukan operasi caesar saja. Aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini.." melihat istrinya terus merintih kesakitan, Ravendra memberi saran pada istrinya.


"No... aaaawww... sssh..." Alexa menggelengkan kepala, menolak tawaran operasi dari suaminya.


Alexa memiliki keyakinan, jika perempuan lain saja bisa melahirkan secara normal, maka diapun juga akan bisa melakukannya. Demi buah hati yang sudah berinteraksi dengannya selama sembilan bulan lebih di dalam rahimnya, saat ini tinggal menunggu waktu keluarnya bayi dari dalam rahimnya itu.


Suasana di ruang bersalin itu menjadi tegang, dua dokter dan perawat yang mendampingi tidak berani meninggalkan ruang bersalin itu, karena mereka merasa takut dengan adanya tuan muda ravendra. Dengan penuh kasih, ravendra terus memberikan dorongan dan semangat pada istrinya. Jikapun bisa, laki-laki ini rela menggantikan posisi istrinya yang terus merintih kesakitan.


"Suster siapkan air hangat, nona muda sudah masuk pada pembukaan delapan. Kita harus segera bersiap, karena sewaktu-waktu baby akan bisa keluar." tiba-tiba dokter memberi kode pada dua suster jika sudah saatnya Alexa akan mengeluarkan bayinya.


"Nona muda terus mengejan ya jangan ditahan.. ayukk.. nona muda.. seorang mama yang hebat, luar biasa. Ayukk bunda demi baby kita, terus berjuang bunda.." dokter-dokter itu memberi aba-aba. Alexa mengerahkan semua tenaganya, sambil meringis dengan berpegangan tangan Ravendra.. akhirnya..


"Oek.. oek.. oek.." seorang bayi laki-laki yang lucu akhirnya keluar dari rahim perempuan itu.

__ADS_1


********


__ADS_2