Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Tiba di Batam


__ADS_3

Melewati beberapa negara transit, komunikasi Johan dan Raveena tetap tidak berlanjut. Bahkan ketika Raveena mencoba untuk mendekati Johan ketika di dalam pesawat, laki-laki itu terus menghindar. Saat Raveena berpindah duduk di dekatnya, Johan akan keluar dari ruangan, kemudian berpindah tempat duduk di tempat Salsa, bahkan terkadang tertidur di dekat cock-pit. Steven dan Salsa hanya saling berpandangan, tidak berani untuk memberikan komentar atas perilaku Tuannya.


"Tuan Johan.. nona muda Salsa.. bersiaplah. Sebentar lagi kita akan landing di Hang nadim International Airport di Batam.." tiba-tiba terdengar suara Salsa memerintahkan mereka untuk segera bersiap.


"Baik Salsa.. terima kasih informasinya.." dengan cepat, Raveena menanggapi perkataan Salsa. Dengan pandangan dingin, Johan sedikitpun tidak memberikan respon. Setelah memberi tahu Johan dan Raveena, Salsa kembali ke cock-pit untuk mendampingi Steven.


Raveena kembali melirik laki-laki yang ada di depannya itu. Namun.. jangankan membalas lirikan itu, Johan malah mengalihkan pandangan ke tempat lain. Laki-laki itu membuka penutup kaca di jendela pesawat, kemudian mengarahkan pandangan ke luar pesawat. Raveena merasa kesal melihat kelakuan dan sikap laki-laki itu.


"Aku harus menjebakmu Johan.. bagaimanapun caranya. Bahkan aku tidak peduli lagi dengan yang namanya citra diriku.. terhadapmu aku bisa merendahkan bahkan membuang harga diriku." Raveena berpikir sendiri.


Melihat Johan yang tetap mengabaikannya, tiba-tiba Raveena berdiri. Tanpa peringatan, gadis itu tiba-tiba duduk mengangkang di pangkuan Johan, dan langsung memeluk erat tubuh laki-laki itu. Terlihat Johan melakukan penolakan, dan terkesan mendorong tubuh Raveena untuk menjauh.


"I love you.. Johan. Kali ini, dulu, bahkan sampai kapanpu di masa depan." bisik Raveena lirih di telinga laki-laki itu. Tanpa diduga, Raveena menjilat belakang telinga Johan, dan laki-laki itu merasa tersentak dan terkejut dengan keberanian gadis yang ada di pangkuannya itu.


Tapi tidak diduga, Johan langsung berdiri dan mendudukkan Raveena kembali di kursi. Johan berdiri dan berjalan meninggalkan gadis itu sendirian. Raveena kecewa, namun gadis itu tetap tersenyum kemudian meluruskan kakinya ke depan. Penolakan tegas yang ditunjukkan laki-laki itu, menimbulkan tantangan sendiri bagi Raveena untuk menundukkan Johan.


Tidak berapa lama kemudian, peringatan untuk menegakkan sandaran tempat duduk dan mengenakan sabuk pengaman kembali diingatkan Salsa dan Steven. Sambil memejamkan mata, dengan taat Raveena tunduk pada perintah tersebut.

__ADS_1


*******


Dini hari akhirnya private jet yang membawa Ravendra dan rombongan akhirnya mendarat di Hang Nadim International Airport, setelah mereka menempuh perjalanan selama dua hari. Tampak Alexa yang kelelahan memegangi perutnya yang membuncit, dan beberapa kali perempuan itu merasakan ketegangan dalam kehamilannya tersebut,


"Honey.. bagaimana keadaanmu, apakah kamu masih sanggup kita meneruskan perjalanan ke hotel dengan perjalanan darat. Jika tidak sanggup, biar Johan menyiapkan helipad untuk mengantar kita ke hanggar di roof top hotel tersebut." melihat kondisi istrinya, sambil mendorong kursi roda untuk duduk Alexa.. Ravendra menanyakan keadaan istrinya.


"Tidak perlu kak.. Lexa baik-baik saja. Sebenarnya jalan kaki juga masih sanggup, kakak saja yang terlalu berlebihan menyiapkan kursi roda segala." perempuan itu menolak tawaran suaminya.


Terlihat di belakang mereka, Raveena berjalan sambil menenteng boneka di atas tangannya. Gadis itu juga tampak terlihat lelah, sedangkan Johan sudah mengatur kepulangan mereka menuju hotel.


"Kak Lexa.., kak Ravend.. untuk sementara Raveena tinggal di tempat kakak dulu ya. Lagian kak Johan juga baru menyiapkan tempat tinggal untukku selama di kota ini. Apalagi Raveena merasa belum mukim disini, jadi masih bingung untuk jalan. Boleh ya kak..!" Raveena menjejeri langkah Ravendra, dan gadis itu merayu untuk dibolehkan tinggal di Presidential Suites kakaknya,


Wajah gadis itu terlihat buruk dan terlipat. Melihat ekspresi adik iparnya, muncul rasa kasihan di hati Alexa. Perempuan itu memegang lengan Ravendra, dan laki-laki itu menengok ke arahnya.


"Iya Veena.. kamu bisa ikut kita ke Presidential Suites. Lagian di hotel tempat kita tinggal, ada dua Presidential Suites disana, dan ada dua kamar di setiap Suites. Kamu bisa tinggal di Presidential Suites yang ditempati Johan, lagian masih ada satu kamar kosong juga disana," tanpa minta persetujuan dari suaminya, Alexa memberi ijin pada Raveena.


Mendengar perkataan kakak iparnya, Raveena mendekati perempuan itu kemudian memeluk Alexa untuk mengucapkan terima kasih padanya. Namun tangan Ravendra lebih cepat menarik lengan gadis itu..

__ADS_1


"Tahu tidak.. jika tubuhmu banyak mengandung kuman. Jangan sembarang menyentuh istriku.. kotor tahu. Mandi dulu.." dengan galak, laki-laki itu melarang adik kandungnya untuk mendekati istrinya, hanya untuk alasan kebersihan.


Raveena kembali cemberut, tapi ekspresi gadis itu berubah cepat. Di depannya, Johan sudah menyiapkan mobil van untuk mengantar mereka kembali menuju Presidential Suites. Laki-laki itu membuka pintu mobil, kemudian meminta semua untuk segera masuk ke dalam mobil tersebut. Karena duduk di kursi belakang, Raveena naik lebih dulu kemudian diikuti ALexa dan Ravendra. Setelah semua penumpang masuk, perlahan Johan menutup pintu mobil. Laki-laki itu kemudian duduk di kursi depan di samping driver.


********


Beberapa saat perjalanan, akhirnya mobil memasuki areal Radisson Golf and Convention Center, luxury hotel di kawasan Batam dengan saham kepemilikan mayoritas di tangan Ravendra. Beberapa pengawal langsung berlari menyambut kedatangan orang pertama di hotel tersebut, dan terlihat sibuk menyiapkan semuanya. Dengan hati-hati, Ravendra memegangi tangan Alexa setelah pengawal membuka pintu mobil.


"Be careful honey.." ucap Ravendra ketika istrinya menuruni mobil tersebut.


Mata beberapa pengawal dan pegawai hotel terbelalak melihat istri Boss mereka dalam keadaan hamil besar. Terlihat dengan penuh kasih dan perhatian, Ravendra sangat memperhatikan setiap detail untuk keamanan istrinya. Bahkan beberapa pegawai perempuan tampak berbisik-bisik, mereka berharap bisa mendapatkan pasangan seperti tuan muda mereka.


"Lexa jalan saja kak.. biar kakiku lemas. Kebanyakan duduk dengan posisi kaki tergantung, bisa berdampak telapak kaki menjadi bengkak." melihat Ravendra mengambil kursi roda dari pegawai hotel, Alexa menolaknya.


"Okay.. tapi kamu harus tetap berhati-hati." setelah mengambil nafas sebentar, akhirnya Ravendra mengijinkan istrinya untuk berjalan kaki bersama mereka.


Ravendra berjalan sambil merangkul pundak Alexa, diikuti di belakangnya Raveena dan Johan. Kedua orang di belakang pasangan suami istri itu, sama sekali tidak terlibat pembicaraan sedikitpun. Di depan pintu lift, Johan langsung menekan tombol untuk menuju ke komplek Presidential Suites.. yang merupakan kawasan terlarang untuk dimasuki oleh para tamu hotel. Ravendra tidak akan pernah mau mentolerir siapapun yang berani masuk ke kawasan tersebut, tanpa ijin darinya,

__ADS_1


********


__ADS_2