
Setelah melalui pembicaraan singkat, tanpa berpikir lagi Thomas malam itu juga mengajak istri dan putri serta cucunya untuk menuju ke negara Jerman. Laki-laki itu tidak mau terlalu banyak berpikir, separuh nyawa putrinya ada pada Ravendra, dan dia harus mengakui itu. Sehingga sebagai seorang papa, laki-laki itu berusaha untuk menyembuhkan luka di hati Alexa.
"Apakah kita masih bisa meninggalkan Batam secara mendadak pa.. Bukankah untuk ijin terbang, harus diurus paling tidak satu hari sebelumnya.." dalam perjalanan menuju airport, Nyonya Sarah bertanya pada suaminya. Perempuan paruh baya itu terlihat duduk sambil menggendong ABhimana, dan untungnya bayi Alexa sangat mudah untuk diajak kerja sama.
"Bisa Mam.. papa mengatakan akan transit di SIngapore sehingga kantor imigrasi memberikan ijin pada kita. Tapi ya biasalah.. orang-orang dimanapun selalu tamak akan uang.. Papa harus mengeluarkan sedikit uang untuk mengurus perijinan ini. Hal ini mengingat kewarga negaraan papa masih di Canada, sehingga agak sulit untuk meninggalkan kota ini." Thomas menjelaskan upayanya untuk dapat meninggalkan Batam.
"No problem pa.. yang penting kita bisa keluar secepatnya dari negara ini. Uang bukan masalah, bisa kita cari dan kita upayakan dengan mudah." sahut Nyonya Sarah,
Terlihat sejak tadi Alexa membuka-buka ponsel yang ada di tangannya. Sejak tadi, papa mertuanya Abraham menanyakan keadaannya, karena sudah dua hari tidak ada di Batam. Tidak mau membohongi mertuanya, Alexa mengatakan jika saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke bandara.
"Tit.. tit.. tit..." tiba-tiba ponsel Alexa berdering.
Dengan cepat Alexa melihat ke layar ponsel, dan terlihat papa mertuanya sedang melakukan panggilan masuk kepadanya. Tanpa berpikir, gadis itu langsung menekan tombol terima..
"Lexa.. apa maksudmu dengan akan menyusul putraku Ravendra ke Jerman. Tidakkah kamu berpikir, jika perjalananmu akan sangat berbahaya, dan akan membahayakan cucuku Abhimana.." tanpa bertanya kabar berita, Tuan besar Abraham langsung memberondong pertanyaan pada menantunya.
__ADS_1
"Iya pa.. sudah bulat tekad Lexa untuk mencari sendiri keberadaan kak Ravend.. Apalagi tadi pagi, sudah ada petunjuk tentang keberadaan kak Ravendra pa.. Terkait dengan keamanan dan keselamatan Abhimana cucu kakek, apakah kakek lupa siapa cucu kakek ini.. Abhimana adalah putra Alexa putri dari Sarah dan Thomas, dan juga putra Ravendra putra dari tuan besar Abraham dan Nyonya Besar Nancy. Lexa yakin pa... nama-nama besar dalam silsilah kelahiran Abhimana, akan membawa garis keturunan yang luar biasa pada cucu kakek. Percayalah pa.." dengan tegas, Alexa meyakinkan Abraham.
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh menantunya membuat laki-laki itu terdiam. Mungkin Tuan Besar Abraham mempertimbangkan perkataan putri menantunya itu, hingga..
"Jika kamu yakin Lexa.. papa tidak akan bisa melarangmu. Bagaimanapun putraku Ravendra adalah suamimu, sebagai papanya, aku sangat tersanjung dengan tekad dan upayamu. Pergilah.. papa merestuimu.. jika urusan papa sudah selesai, orang-orang papa akan menyusulmu ke Jerman." akhirnya tuan besar Abraham memberikan restu pada Alexa,
"Baik pa.. terima kasih atas supportnya.." sahut Alexa lirih.
Laki-laki tua di seberang ponsel itu segera mengakhiri panggilannya. Alexa kembali memasukkan ponsel ke dalam tasnya, kemudian tampak bersiap-siap karena gerbang airport sudah terlihat di depan mata mereka. Nyonya Sarah juga segera merapikan gendongan cucunya, dengan Thomas membantunya.
********
"Tuan dan Nyonya.. juga nona muda.. apakah kalian semua menghendaki untuk transit sebentar di bandara ini. Pengawal sudah akan menguruskan perijinan kita, dan akan melakukan pengecekan pasport dan visa. Kalian bisa menggunakan jeda waktu ini untuk beristirahat barang sejenak di luar pesawat.." dengan hati-hati pramugari menawarkan pada mereka untuk beristirahat.
Alexa menatap ke arah Nyonya Sarah, tetapi perempuan itu tidak menjawab. hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Terlihat Abhimana juga sedang tertidur lelap, demikian juga dengan papa Alexa.. Tuan Thomas. Laki-laki itu terlihat lelah, setelah hampir dua hari menempuh perjalanan udara.
__ADS_1
"Sepertinya dari Munich menuju Frankfurt hanya satu jamĀ saja. Untuk pengisian Avtur dan pengecekan mesin pesawat, serta pengecekan surat-surat juga tidak akan begitu banyak menghabiskan waktu. Kami tetap istirahat di dalam pesawat saja.. sampaikan pada pilot." setelah mempertimbangkan semua, akhirnya Alexa menjawab pernyataan yang disampaikan pramugari.
"Baiklah nona muda.., segera akan kami sampaikan informasi ini pada pilot. Juga untuk makan malam, akan segera kami sediakan di atas pesawat ini sekalian." pramugari itu segera meninggalkan ketiga orang itu.
Alexa menatap putranya Abhimana yang masih tidur terlelap. Sesuai dengan perkiraannya, anak itu seperti tahu jika dia akan diajak untuk mencari keberadaan papanya. Sejak perjalanan dari Batam sampai di tempat ini, baru satu kali saja Abhimana menangis, itu saja karena harus ganti pampers. Selanjutnya selama perjalanan, bayi itu terlihat seperti menikmati perjalanan. Nyonya Sarah juga dengan sabar, mendampingi cucunya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.
"Kita sudah berada di kota mana Lexa..." tiba-tiba Alexa dikejutkan oleh suara papanya. Ternyata laki-laki itu sudah terbangun,
"Sudah berada di Jerman pa.. hanya saja akan dilakukan pengecekan administrasi surat menyurat. Pesawat juga dilakukan pengecekan mesin dan pengisian avtur. Diperkirakan satu jam lagi, kita sudah akan berangkat melanjutkan perjalanan menuju kota Frankfurt." Alexa menjelaskan.
Tuan Thomas diam tidak menjawab, laki-laki itu kemudian menegakkan sandaran kursi tempat duduknya. Melihat ada air mineral di sebelahnya, Tuan Thomas mengambil dan meminumnya beberapa teguk.
"Kira-kira apa rencanamu selama kita di Frankfurt. Apakah kita akan langsung menuju ke pegunungan Alpen, atau ada gagasan..?" Thomas bertanya tentang rencana yang dibuat oleh putrinya. Laki-laki tua itu memang memposisikan untuk memberikan pengawalan pada Alexa.
"Tenaga kita perlu re charge pa.. Setelah hampir dua hari kita dalam perjalanan udara, kita tidak bisa untuk memaksakan diri untuk memforsir tenaga kita. Lexa berencana untuk menginap dua hari dulu di Franksfurt, sembari kita menyusun rencana untuk memasuki pegunungan Alpen. Sebelum berangkat, Lexa sempat berkoordinasi dengan pengawal kak Ravend.. mereka sudah menyiapkan hotel untuk tempat kita beristirahat sesampainya di Frankfurt nanti.." Alexa memberi tahu rencananya.
__ADS_1
Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya, ikut membenarkan ide yang digagas putrinya itu. Dengan cukup istirahat, mereka akan lebih jernih dalam berpikir dan menetapkan langkah mereka selanjutnya,
********