
Alexa merasa jenuh setelah dikurung berhari-hari di dalam kastil. Untuk memastikan keselamatan janin yang sedang dikandungnya, sikap over protective Ravendra semakin menjadi-jadi. Untungnya hari ini papa Thomas, sedang dalam perjalanan menuju ke Rumania kembali, setelah ,mendengar kabar jika putrinya dalam keadaan hamil. Nyonya Sarah sudah tidak sabar ingin mengetahui kondisi putrinya, maka mereka segera mengakhiri masa kunjungannya ke negara Dubai.
"Aku akan menunggu mama di luar kastil, aku sudah bosan berada di dalam kamar saja." Alexa berbicara pada maid yang sudah siap mencegahnya untuk keluar dari dalam kastil.
"Tetapi hati-hati nona muda.., jika nona muda keluar dari kastil ini. Kita yang akan terkena amarah dari tuan muda, maka mohon mengertilah dengan keadaan kami nona muda.." wajah maid terlihat memelas, melihat kekerasan hati Alexa,.
"Iya.., iya.. jangan terlalu khawatir denganku. Aku juga bisa menjaga diri.." Alexa menanggapi ketakutan yang dirasakan maid tersebut.
"Ikutlah denganku kemanapun, jadi kamu tidak akan mendapatkan marah dari Tuan muda.." merasa kasihan juga dengan para pengasuh di kastil ini, akhirnya Alexa mengijinkan maid itu untuk selalu mengikutinya. Dua orang maid itu saling berpandangan, kemudian mereka berjalan mengikuti Alexa dari belakang.
Wajah Alexa berbinar, melihat udara pagi menjelang siang sangat cerah di depan kastil itu. Perempuan itu segera menuruni anak tangga kecil itu untuk turun ke halaman. Kedua tangan Alexa direntangkan ke kiri dan ke kanan, sejenak perempuan itu melakukan peregangan. Melihat nona mudanya keluar dari dalam kastil, beberapa pengawal dengan sikap siaga penuh berlari memberi pengawalan pada Alexa.
Alexa tersenyum mencoba memahami tugas berat yang dibebankan Ravendra kepada mereka. Suaminya terkenal tidak akan pernah bertindak tebang pilih, jika tahu anak buahnya membuat sebuah kesalahan. Tidak segan-segan, laki-laki itu akan membunuh anak buahnya jika diketahui anak buahnya itu berkhianat. Untuk menjaga semuanya, maka Alexa juga berhati-hati dalam memerintah dan mengarahkan anak buah suaminya.
"Tin.., tin.., tin.." tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari luar pintu gerbang. Tetapi para pengawal menghentikan mobil itu, untuk memastikan keamanannya. Alexa mengenali mobil yang berada di luar gerbang itu, karena mobil itu pernah digunakannya untuk datang ke Barn Castle dengan Ravendra. Mobil itu ditinggal di castle satunya.
"Nona muda mau kemana.., jangan ke depan pintu gerbang." terdengar teriakan khawatir dari para maid, melihat Alexa akan berjalan menuju ke arah pintu gerbang,
"Itu mama dan papaku. Kenapa aku sebagai putrinya tidak bisa menjemput kedatangan mereka?" dengan tatapan tidak suka, Alexa menjawab perkataan maid itu. Mendengar jawaban itu, pengawal yang ada di sekitar Alexa memberi isyarat pada pengawal di pintu gerbang untuk membukakan gerbang dan membiarkan mobil itu masuk ke halaman.
Alexa berhenti, melihat mobil memasuki halaman kastil. Senyuman berkembang di mulut gadis itu, melihat senyum papanya terlihat dari kursi depan penumpang. Gadis itu segera berjalan mendekati pintu mobil, dan terlihat papanya Thomas menyambutnya dengan pelukan erat. Tidak lama kemudian, pintu mobil bagian tengah juga sudah dibuka oleh para pengawal, dan Nyonya Sarah keluar dan menghampiri suami dan putrinya yang saling berpelukan.
__ADS_1
"Mommy... I miss you.." Alexa melepaskan pelukan pada Thomas. Perempuan itu berganti memeluk tubuh Nyonya Sarah. Setelah beberapa saat, baru Alexa tersadar jika ada orang lain yang masih duduk di dalam kursi tengah, dan sedang menatapnya dengan tatapan mata berkaca-kaca.
"Nenek..., bagaimanapun nenek bisa bersama dengan papa dan mama?" dengan tatapan tidak percaya, Alexa menatap perempuan tua yang kemudiannya berusaha keluar dari dalam mobil.
Melihat perempuan tua yang sudah dari kemarin berusaha untuk masuk ke halaman kastil, para pengawal menjadi bersiap-siap. Mereka segera mendekat dan berdiri di dekat Alexa dan nenek itu.
"Janganlah bersikap tidak sopan pada orang yang lebih tua. Menyingkirlah tidak akan ada masalah." Alexa mengingatkan para pengawal.
Melihat keseriusan tatapan Alexa memperingatkan mereka, akhirnya para pengawal sedikit memundurkan badannya ke belakang. Thomas dan Sarah hanya tersenyum melihatnya.
"Ayolah kita jangan hanya berdiri di halaman saja. Mama menemukan perempuan tua ini di ujung jalan. Penampilannya tadi sangat menyedihkan, dan ketika ditanya menjawab akan menemui cucunya." Nyonya Sarah menjelaskan.
"Iya mam.., pap... Alexa mengenalnya beberapa hari yang lalu." Alexa memberi tanggapan pada kedua orang tua mereka.
Kemudian ketiga orang itu segera naik ke atas teras kastil, sambil Alexa memegang tubuh nenek mengajaknya untuk ikut ke atas.
*******
Di tengah hutan
Tampak dua orang laki-laki muda sedang berlari menuju ke rumah tua. yang ada di hutan tersebut. Sepertinya ada berita yang akan disampaikan pada penghuni rumah.
__ADS_1
"What happened John...? Kenapa kamu berlari seperti itu." penghuni rumah itu segera melangkah keluar, dan bertanya pada laki-laki itu.
"Tadi ada yang melihat kalau Bibi Cathy berusaha untuk kembali mendatangi kastil keluarga Tuan Muda Ravendra. Apakah kamu sudah menitip sesuatu kepadanya?" laki-laki yang bernama Johnny bertanya pada penghuni rumah.
"Tidak ada. Aku pikir tidak semudah itu bibi Cathy bisa kembali masuk ke dalam. Bukannya kita tahu, semenjak kasus perkelahian di malam hari beberapa hari lalu, keluarga itu memperketat pengawasan." Bernard penghuni rumah membuat alasan.
"Beberapa kali Cathy mencoba untuk masuk, tetapi selalu diusir oleh pengawal. Tetapi tadi ada yang melihat jika Cathy masuk ke dalam, dengan berbarengan sebuah mobil yang akan memasuki kastil itu " Johnny menambahkan.
Ketiga laki-laki itu terdiam, mereka sudah memikirkan cara untuk dapat menjebak Ravendra. Tetapi ternyata kali ini mereka melewatkan kesempatan itu begitu saja. Rasa dendam mereka kepada laki-laki itu sudah terbawa sampai sekarang. Berkali-kali mereka mencoba untuk membalas rasa sakit hati, tetapi belum pernah bisa tertuntaskan.
"Kemudian.. apa rencana kita selanjutnya?" menyadari tidak ada jalan keluar untuk saat ini, Bernard bertanya.
"Kita masih tetap pada rencana awal kita saja. Taruh bom kecil.itu di.bagian tubuh Bibi Cathy, dan berharap perempuan itu akan menjatuhkan di dalam kastil tuan muda Ravendra." laki-laki yang berdiri di samping Johnny memberikan jawaban.
"Humph . tetapi apakah tidak terlalu beresiko untuk Bibi Cathy? Perempuan itu bisa hancur terbakar, jika bom.itu meledak ketika masih berada di badannya." Bernard menyahut.
"Lebih baik kita katakan saja pada Bibi Cathy, untuk melemparkan bom itu ke lingkup kastil itu. Aku pikir Bibi Cathy juga tidak akan sebodoh itu." gumam Johnny.
"Ya sudah.. kamu atur saja. Asalkan kita tidak terlewat seperti saat ini."
*******
__ADS_1