
Laki-laki itu terlihat pucat, teman-temannya yang lain sudah meninggalkannya. Tadi dia hanya mendapatkan perintah untuk menahan gadis itu sementara dengan imbalan sejumlah uang, tetapi tidak menyangka jika gadis itu memiliki keahlian bela diri. Dengan satu tangan mencengkeram leher, dan satu lututnya bersarang di perutnya, laki-laki itu menjadi tidak berdaya. Tiba-tiba dari arah luar ruangan, sejumlah security berlari menuju ruangan tersebut, mereka melihat tindak kekerasan yang dilakukan Alexa dari rekaman CCTV di ruang keamanan.
"Ada apa ini..?" teriak petugas security pada Alexa.
"Tangkap laki-laki ini, dia telah menjebak dan menjerumuskan saya, hanya karena beberapa lembar uang rupiah saja. Antarkan saya ke arah tempat boarding pesawat, maka akan aku bebaskan laki-laki pecundang ini." dengan nada tinggi, Alexa berteriak. Orang-orang yang sedang lalu lalang melihat ke arah mereka, dan melihat dengan jelas keributan yang terjadi.
"Jelaskan di ruang keamanan!" teriak petugas security pada Alexa.
"Aaaaww...., sakit..." laki-laki yang berada di tangan Alexa menjerit kesakitan. Rupanya Alexa menambah cengkeraman di leher laki-laki itu.
"Aku tidak memiliki waktu, penerbangan ke Batam sudah boarding. Jika aku mengikuti kalian, hanya karena keserakahan pecundang ini, maka aku akan ketinggalan pesawat. Apakah kamu akan menggantinya..., cepat antarkan aku, jika tidak jangan salahkan aku jika aku bertindak keji." Alexa kembali mengeluarkan kata-kata ancaman pada para security yang berada di tempat itu.
"Bagaimana ini..., apakah akan kita kabulkan permohonan gadis itu?" salah satu security bertanya pada temannya.
"Jika melihat keberadaan gadis itu bisa berada di ruangan ini, sepertinya gadis itu tidak bersalah. Dia sepertinya dijerumuskan oleh petugas itu, untuk boarding tidak melewati ruangan ini. Kita antarkan saja, dan petugas itu harus kita laporkan pada atasannya," untungnya teman satunya menggunakan logika berpikirnya,
Salah satu security berjalan lebih mendekat pada Alexa, tetapi gadis itu tetap waspada dan semakin menekan pegangannya pada laki-laki yang terus meringis kesakitan.
__ADS_1
"Jangan lukai teman kami Nona.., kami akan mengantar anda ke tempat boarding. Biarlah nanti sistem di airport yang akan menetapkan peringatan dan hukuman untuk teman kami ini." salah satu security mengajak Alexa berbicara.
"Baik.., antarkan aku ke lapangan terbang, tetapi sebagai jaminan aku akan tetap memegangi petugas laknat ini. Setelah aku bisa masuk ke dalam pesawat, maka aku baru akan melepaskannya." Alexa tetap keukeuh membawa petugas yang berada dalam cengkeramannya untuk mendekati pesawat. Suasana kembali gaduh di tempat itu, tetapi akhirnya mereka mengalah.
"Okay.., okay Nona.. tapi jangan sakiti teman kami. Biarlah nanti hukuman dari atasan yang akan mengadili perlakuannya pada Nona. Mari Non.., ikuti saya!" security itu segera berjalan, dan meminta Akexa untuk mengikutinya.
Dengan memperhatikan sekeliling, Alexa dengan siaga mengikuti petugas security tersebut. Petugas yang masih dalam tawanannya tampak meringis kesakitan, karena jari-jari ALexa menekan titik-titik mematikan dalam tubuhnya. Orang-orang yang duduk di sekitar ruangan tersebut melihat iring-iringan sekelompok orang yang berjalan menuju lapangan terbang. Tetapi melihat ada satu orang laki-laki yang diperlakukan seperti tawanan, mereka mengabaikan apa yang mereka lihat itu.
Di arah pintu keluar, petugas boarding berlari meminta bukti boarding pass ALexa. Tetapi segera security diminta untuk meminta pada gadis itu. AKhirnya petugas itu hanya melihat ketika kelompok orang itu keluar dari pintu menuju pesawat yang masih menunggu gadis itu.
**********
"Hentikan perempuan itu...! Tahan jangan sampai naik ke atas pesawat, atau kalian semua aku habisi." terlihat sebuah mobil Jeep Renegade membawa empat orang bersamanya berhenti di bawah tangga pesawat. Mereka membawa senjata tembak, dan security langsung menyingkir. Pramugari yang sudah akan membantu Alexa, kembali masuk ke dalam peswat, dia merasa ketakutan.
Alexa menoleh ke belakang, meskipun wajah dari laki-laki yang berteriak itu mengenakan penutup muka, tetapi Alexa yakin jika mereka adalah Alberto dan Edward. Malam sebelum gadis itu melarikan diri, jelas dia berkomunikasi dengan Alberto, dan tidak mungkin jika laki-laki itu akan membiarkannya untuk pergi dari kastilnya.
"Tembak saja aku Alberto..., aku tidak akan takut mati. Dari pada harus berada dalam kurunganmu, lebih baik kamu tembak aku sekarang." di luar dugaan, Alexa langsung menyebut nama Alberto, dan meminta laki-laki itu untuk menembaknya.
__ADS_1
"Jangan hanya diam.., tangkap perempuan itu!" Alberto berteriak, dan dua orang laki-laki segera berlari ke tangga untuk menangkap Alexa. Baru saja mereka akan naik...
"Bukk..., aawww..." tubuh laki-laki itu terhengkang ke belakang terkena tendangan kaki Alexa. Ketika rekannya yang lain ingin mengintai gadis itu dengan menggunakan senjatanya, Alexa menggunakan petugas bandara yang sejak tadi digunakan sebagai tawanannya, sebagai perisai untuk menghalangi.
"Dengar Alexa..., jika kamu tidak mau menyerah kepada kami. Maka pesawat yang kamu naiki. akan aku hancurkan. Kamu bertanggung jawab atas keselamatan mereka..!" Alberto berteriak, laki-laki itu mengancam Alexa.
"Lakukan saja Alberto.., apakah kamu berpikir aku akan gentar dengan ancamanmu?? Aku tidak mengenal para penumpang yang ada di pesawat ini, dan aku juga tidak memiliki saudara yang juga naik di dalam pesawat ini. Lakukan Alberto..., dan semua akan menjadi tanggung jawabmu.." mendengar ancaman Alberto, Alexa malah tertawa dan kembali meneriaki laki-laki itu.
"Dorr..." tidak disangka, laki-laki yang digunakan sebagai sandera baginya, tiba-tiba terjatuh. Tembakan Alberto langsung diarahkan pada laki-laki itu. Semua orang yang ada disitu menutup mulutnya, mereka tidak menyangka laki-laki itu akan berani untuk melakukan kekejaman di tempat umum,
Alexa pura-pura tidak peduli dengan petugas itu, gadis itu malah mendorong tubuh petugas yang sedang terluka itu untuk menjauh darinya.
"Ha.., ha..., ha.., lakukan Alberto! Bunuh semua yang ada di sekitar pesawat ini, bahkan semua penumpang yang ada di dalamnya. Kita akan meringkuk di penjara bersama-sama. Terus lakukan Alberto.., toh aku juga tidak mengenal siapa mereka!" untuk menghilangkan kecurigaan laki-laki itu, ALexa terus berteriak memberi tantangan pada laki-laki tersebut.
Orang-orang yang ada di sekitar, menatap pada Alexa dengan tatapan marah, tetapi gadis itu mengabaikan dan pura-pura tidak mengetahuinya. Merasa marah dan jengkel atas provokasi yang dilakukan Alexa..., tiba-tiba Alberto membidikkan senjata mengarah pada Alexa. Tidak diduga, bukannya merasa ketakutan melihat senjata yang diarahkan ke arahnnya, tetapi ALexa malah merentangkan tangan dan memejamkan matanya.
"Tembakkan senjatamu padaku Alberto.., aku menunggunya." ucap gadis itu sambil bibirnya mengeluarkan sebuah senyuman.
__ADS_1
*********