
Johan meletakkan binatang di samping Ravendra, dan laki-laki itu langsung mengambil binatang kemudian meminum darah segarnya secara langsung. Beberapa saat kemudian, kulit kepucatan Ravendra sudah mulai agak memerah dan laki-laki itu menjadi merasa lebih bertenaga. Di depannya, Johan terlihat menyalakan api dengan menggunakan batang-batang kayu kering yang sekalian dibawanya tadi. Tidak lama kemudian, bau harum daging bakar sudah merebak di dalam goa tersebut,
Di dalam goa, Thomas mengerutkan dahinya. Laki-laki itu masih berdiri di dekat stalaktit yang baru saja dipecahkannya. Hidungnya membaui daging bakar yang menyeruak masuk ke dalam goa. Dengan hati-hati laki-laki mulai turun dari batuan yang ada di atas, dan dengan berpegangan pada batu besar Thomas mulai menuruni batu-batuan tersebut,
"Hmm.., bau daging bakar. Siapa yang sedang membakar daging, Alexakah? Tapi.. daging yang tadi aku bawa sudah habis kita bakar semua, dan Alexa saat ini sedang tertidur." Thomas berpikir sendiri.
"Atau ada manusia lain yang juga sedang berteduh di dalam goa ini, Hmm... jika ada, berarti aku harus berhati-hati untuk mengamankan kunci ini. Bisa jadi, orang itu juga memiliki niat yang sama ketika datang ke goa ini." kembali Thomas berbicara sendiri.
Mengingat keamanan putrinya yang sedang tertidur, dengan segera Thomas segera bergegas menuju ke tempat Alexa ditinggalkannya. Setelah beberapa saat, laki-laki itu mengambil nafas lega, karena masih melihat Alexa dalam posisi yang sama, seperti ketika laki-laki itu meninggalkannya pertama kali. Thomas tersenyum melihat putrinya tidak terbangunkan sedikitpun, kemudian Thomas bergegas mendatangi Alexa.
"Mmmm... aaah.." tiba-tiba ALexa menggeliat, dan perlahan gadis itu mulai membuka matanya.
"Kamu terbangun Lexa.., hari masih malam. Tidurlah lagi.., jika sudah pagi, nanti papa bangunkan.." Thomas meminta ALexa untuk kembali tidur.
"Pa.. kenapa tiba-tiba perut Alexa terasa lapar lagi ya pa.. Barusan sepertinya ada bau daging bakar yang terendus hidung ALexa. Apakah papa buat daging bakar lagi..?" gadis itu membangunkan tubuhnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding batu di belakangnya.
"Kamu menciumnya juga Lexa.. Iya.., barusan papa juga curiga jika ada orang lain yang masuk ke dalam goa ini. Papa juga mencium ada daging bakar, dan sempat mengira jika kamu yang membuatnya. Tapi untungnya papa teringat, jika daging binatang tadi sudah habis kita bakar semua. Kita harus lebih berhati-hati putriku, sepertinya ada orang lain yang juga memiliki niat yang sama dengan kita." Thomas menjelaskan kemungkinan terburuk pada Alexa.
__ADS_1
"Terus apa yang akan kita lakukan pa.., apakah kita akan bertanya pada orang-orang itu. Ataukah kita akan mendahului mereka." Alexa langsung memberikan tanggapan.
Thomas merogoh saku bajunya, kemudian mengeluarkan anak kunci dari dalam. Laki-laki itu tersenyum kemudian menunjukkan benda kecil itu pada putrinya..
"Kunci.. dari mana papa mendapatkanya. Apakah ini kunci yang dimaksud di dalam mimpi ALexa..?" gadis itu penasaran, dan segera bertanya pada papanya.
"Iya.. ketika kamu tidur, papa tidak bisa memejamkan mata. Untuk mengisi kesunyian, papa mencoba mencari di stalaktit-stalaktit yang ada di goa ini. Untungnya ada binatang kelelawar yang terbang, kemudian memandu papa untuk menemukan anak kunci ini. Sepertinya memang kedatanganmu ke goa ini sudah ditunggu Lexa.., kamulah orang yang akan menjadi pewaris kedamaian di antara manusia vampire." Thomas menjelaskan kejadian ketika putrinya sedang tertidur.
Alexa terdiam, gadis itu sebenarnya tidak menyukai apa yang diutarakan oleh ayahnya itu, Namun untuk menghargai dan menghormati orang tuanya itu, Alexa sengaja diam tidak memberikan tanggapan. Yang penting, dia akan melakukan seperti yang diinformasikan dalam mimpinya itu. Mengenai siapa yang akan menerima warisan, dia tidak akan mempedulikannya. Tiba-tiba hidung Alexa kembali mekar, aroma harum daging panggang kembali menyeruak masuk sampai ke tempat beradanya saat ini.
"Kita harus mencarinya Lexa.., sekaligus kita membuat rencana jika memang kita menemukan ada orang lain yang berada di dalam goa ini." ucap Thomas lirih. Gadis itu hanya mengganggukkan kepalanya.
******
Johan sudah meletakkan daging panggang yang sudah siap untuk dinikmati di atas batu yang sudah diberi alas daun yang dipetiknya dari dalam hutan. Mencium aroma harum daging itu, Ravendra segera turun mendekati Johan. Tangan laki-laki itu mengambil satu potong daging, kemudian mencium aromanya kemudian mulai menggigitnya perlahan.
"Dagingnya empuk Johan.. tidak alot." Ravendra mengomentari daging panggang yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Iya Tuan muda.. kebetulan tadi, ketika saya sedang mencari buah, ada tanaman nanas yang berbuah. Akhirnya saya ambil, dan sebelum daging saya panggang sudah saya lumuri dengan air nanas. Jadi dagingnya menjadi cepat empuk, dan tidak alot di gigi." Johan menjelaskan,
Ravendra melanjutkan menikmati daging beberapa potong, kemudian Johan ikut bergabung menikmatinya. Kedua laki-laki muda itu seperti sudah terbiasa tinggal dan bertahan hidup di alam terbuka. Terlihat dari keduanya tidak ada yang merasa canggung dengan keadaan mereka saat ini.
"Aku jadi teringat kisah kita dulu Johan.. Waktu awal-awal kita tersesat di hutan dekat sungai Amazon. Betapa ganasnya binatang-binatang liar di hutan itu." tiba-tiba Ravendra seperti bernostalgia dengan kenangan mereka di masa lalu.
"Iya tuan muda.. sampai kita terpaksa makan daging ular panggang, karena tidak menemui binatang lainnya untuk kita jadikan makanan." johan menimpali.
"Ha.. ha.. ha.. sebuah harga yang tinggi waktu itu. Hanya untuk mendapatkan sebuah pulau kecil, akhirnya kita harus beradu dengan orang-orang di suku tersebut." kedua orang itu tertawa terbahak-bahak.. seperti mengingat kembali kenangan -kenangan indah mereka.
"Klak.., klak..." tiba-tiba kedua anak muda itu terdiam. Mereka merasa mendengar suara dari dalam goa. Dengan sigap, Johan segera berdiri untuk menantikan jika ada sesuatu yang berbahaya datang di depan mereka.
"Sepertinya ada orang lain di tempat ini Johan.. kita harus lebih berhati-hati.." Ravendra ikut berdiri di belakang Johan. Tangannya mememegang senjata api yang sejak tadi berada di balik bajunya.
"Tuan muda.. saya akan masuk ke dalam. Tuan muda bisa menunggu disini, atau mengikuti saya dari belakang." Johan mulai melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap. Ravendra mengikuti laki-laki itu dari belakang, dan matanya dengan tajam mengedari tempat itu.
"Johan.. kendalikan dirimu. Aku mencium aroma yang akrab, yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Karena alasan itu pula, saat ini kita berada disini." tiba-tiba Ravendra memberi peringatan pada asisten pribadinya. Otak Johan langsung memproses perkataan yang diucapkan oleh laki-laki itu. Tidak ada yang paling penting, dan yang tidak bisa dilupakan kecuali istri dari tuan muda, yaitu nona muda ALexa.
__ADS_1
********