Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Mencari Jejak


__ADS_3

Sesampainya di tempat pertemuan dengan Salsa, ternyata gadis itu sudah berada di tempat itu terlebih dahulu. Salsa melambaikan tangannya, dan menunjukkan tas yang sudah berisi dengan beberapa helai daun Africa. Alexa tidak memberi tahukan apa yang baru saja dialaminya dalam pencarian, karena tidak mau membuat Salsa merasa khawatir dan ketakutan. Keduanya kembali berjalan menuju tempat ketiga laki-laki itu menyiapkan hammock. Tidak ada pembicaraan yang terjadi antara Salsa dan Alexa sepanjang perjalanan.


Empat buah hammock sudah berjajar rapi di atas pohon. Meskipun hammock itu hanya darurat, tetapi karena yang membuat adalah orang-orang profesional, tidak tampak jika hammock itu hanya buatan dengan memanfaatkan barang-barang bekas. Ravendra tersenyum menyambut kedatangan istrinya, dan langsung menghampiri perempuan itu.


"Kak.., kok hammock cuman ada empat saja? Kita kan ada lima orang..?" Alexa memprotes karena ketersediaan hammock yang kurang satu. Sebuah kecupan diberikan Ravendra, seakan menjawab pertanyaan gadis itu.


"Apakah kamu meragukanku honey.. Tubuhku masih kuat untuk menahan tubuhmu sampai ribuan tahun. Trust me.., jadi kita hanya butuh satu hammock untuk kita." tanpa tahu malu, Ravendra menjawab pertanyaan Alexa.


Terlihat Salsa langsung menghampiri Steven dan Ronald yang sedang membongkar walkie talky, dan beberapa peralatan elektronik lainnya. Mereka ingin merangkai sebuah pesawat, dengan signal yang menangkap satelite.


"Kak Ravend tidak membantu Ronald dan Steven merangkai alat komunikasi..?" Alexa bertanya pada Ravendra, tampak keheranan tergambar jelas di wajah perempuan itu.


"Percuma aku membayar mereka, jika hanya melakukan pekerjaan sepele seperti itu, mereka masih membutuhkan bantuanku. Sudah biarkan mereka, kamu pasti capai, aku akan menemanimu istirahat." ucap Ravendra menanggapi perkataan Alexa...


Tanpa menunggu persetujuan gadis itu, ketika ketiga orang lainnya sedang asyik merangkai alat penangkap signal, Ravendra dengan sigap memegang pinggang Alexa, kemudian membawanya terbang ke atas, Tidak lama kemudian, tubuh pasangan suami istri itu sudah berada di atas hammock yang paling tinggi. Ravendra memang sengaja membuat hammock yang paling tinggi, sedikit lebih jauh dari posisi hammock-hammock yang lainnya. Dan Alexa bisa menangkap maksud dilakukannya itu.


Benar yang terlintas di pikiran Alexa, diatas hammock, Ravendra langsung menekan tubuh ALexa ke bawah. Ciuman demi ciuman diberikan kepada gadis itu, tanpa memberi waktu untuk Alexa agar beristirahat. Merasa malu, jika ketiga orang yang ada di bawah mendengar perlakuan intim itu, ALexa mendorong dan meminta Ravendra untuk menjauh darinya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini kak.., ALexa menjadi tidak nyaman. Hentikan.. tempat ini tidak layak untuk melakukan hal ini.." Alexa meminta Ravendra menghentikan serangannya pada gadis itu. Setelah menghela nafas, dan memberikan kecupan di bibir gadis itu, akhirnya Ravendra menghentikan aktivitasnya itu.


"Ya sudah.., jika begitu kamu tidak boleh banyak bergerak atau kamu akan membangunkan pesawat rudalku." ucap Ravendra dengan nafas kasar, sambil menekan kepala Alexa di atas dadanya. Gadis itu memilih untuk diam, daripada Ravendra membuktikan ancamannya.


"Kak Ravend..., sepertinya ada kehidupan lain di hutan ini. Tadi ketika Alexa dan Salsa mencari daun Africa, tiba-tiba Alexa mendengar seperti ada suara parang terjatuh, dan juga anak panah yang melesat. Tetapi melihat medan yang sangat rimbun dan gelap, Alexa memutuskan untuk kembali mencari Salsa. Akhirnya kami kembali, ditambah juga daun Africa sudah kami dapatkan." Alexa akhirnya menceritakan apa yang tadi didengarnya.


Tidak diduga, Ravendra terdiam tidak menanggapi perkataan itu. Merasa ada perubahan dalam suaminya, Alexa mengusap wajah Ravendra secara perlahan.


"Ada apa kak Ravend.., apakah ada yang salah dalam perkataanku barusan..?" merasa khawatir, akhirnya Alexa memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya.


********


Santorini..


Johan merasa panik, karena sambungan komunikasinya untuk private jet yang membawa Ravendra dan Alexa tidak dapat dilakukannya. Beberapa saat yang lalu, laki-laki itu juga sudah menghubungi bandara, tempat pertama kali private jet itu berangkat, dan juga bandara yang menjadi tujuan transit dari pesawat tersebut. Tetapi kedua bandara tersebut memberikan jawaban yang sama.


"Kabar tentang kecelakaan juga tidak ada.., sekarang posisi mereka ada dimana.." Johan membentang sebuah peta besar di depannya.

__ADS_1


"Jika melihat jarak bentang perjalanan dari Yunani ke Dubai.., Elatias Forest merupakan salah satu hutan yang berada di jalur lintas pesawat. Apakah private jet ada jatuh di hutan itu. Aku juga baru menunggu informasi dari bandara, untuk pengecekan kamera CCTV dan quality control sebelum pesawat itu berangkat." sambil mengamati peta, dengan teliti Johan mengamati kemungkinan mendaratnya pesawat di perjalanan,


"Bagaimana Johan.., apakah kamu sudah mendapat kabar tentang pesawat yang membawa Ravendra dan putriku Alexa..?" tiba-tiba di belakang Johan, terlihat Thomas berjalan menghampiri laki-laki itu. Johan menghentikan aktivitasnya sebentar, kemudian melihat ke arah Thomas, dan menggelengkan kepalanya.


"Huh.., sampai sekarang Sarah belum tahu tentang berita ini. Aku mohon rahasiakan dulu, jangan sampai istriku tahu. Setelah kita mendapatkan kepastian tentang keberadaan putri dan menantuku, aku akan memberi tahu sendiri kepada Sarah." setelah terdiam beberapa saat, Thomas membuat sebuah permintaan pada Johan,


"Jangan berpikir terlalu jauh Tuan Thomas.. Saya yakin, Tuan muda tidak akan membiarkan sedikitpun istrinya dalam bahaya. Nona muda Alexa adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Tuan Muda ravendra. Meskipun pesawat meledak di angkasa, dengan kemampuannya Tuan Muda akan dapat menyelamatkan semua penumpang." dengan penuh keyakinan, Johan menanggapi kekhawatiran Thomas.


"Iya Johan.., akupun meyakini hal itu. Coba pusatkan perhatianmu pada Elatias Forest, hutan itu merupakan satu-satunya hutan terlebat, yang berada dalam lintasan penerbangan Yunani menuju Dubai." Thomas memberi saran pada Johan.


"Akupun juga berpikir demikian Tuan Thomas. Kita akan menunggu kabar dari bandara, dan jika sampai besok tetap belum ada kabar, saya akan membawa beberapa penyelidik untuk menyusuri hutan tersebut, Semoga Tuan muda Ravendra dan nona muda Alexa masih menunggu saya." dengan penuh keyakinan, Johan kembali berusaha menenangkan Tuan Thomas.


Kedua laki-laki itu dalam diam, mencoba mempelajari peta Elatias Forest, dan memberi tanda tempat-tempat penting yang akan ada dalam perlintasan mereka.


"Sedang apa kalian berdua, untuk apa mempelajari sebuah peta? Apakah kalian berencana untuk melakukan perjalanan?" tiba-tiba tanpa mereka sadari, Nyonya Sarah sudah berada di belakang mereka berdua. Johan gelagapan, dan kakinya menginjak telapak kaki Thomas, agar laki-laki itu mengalihkan pembicaraan,


**********

__ADS_1


__ADS_2