
Ravendra benar-benar memanjakan istrinya, bahkan ketika Tuan Abraham memintanya untuk terbang menuju negara tempatnya tinggal, dengan tegas laki-laki itu menolaknya. Penolakan itu sebenarnya bukan semata-mata karena Ravendra tidak mau berada di rumah keluarga. Tetapi laki-laki itu lebih mempertimbangkan hati dan perasaan istrinya, ketika berjumpa dengan Nyonya Besar Abraham. Mama Ravendra memang dikenal sebagai seorang sosialita yang memiliki nilai prestige yang tinggi, dan sangat susah untuk dapat masuk dalam circle pergaulannya. Untuk itu, sebelum Ravendra menilai Alexa benar-benar siap, apalagi ditambah dengan kehamilannya saat ini, laki-laki muda itu belum berani gambling untuk mempertemukan istrinya dengan mamanya,
"Kakak sedang bicara dengan siapa, kenapa harus mengeluarkan otot seperti itu. Bukankah akan lebih enak dan nyaman, jika kita berbicara dengan intonasi kalimat yang pelan dan tertata.." Alexa menegur dengan halus pembicaraan Ravendra di telpon dengan asisten pribadi Tuan Abraham.
"Bukan siapa-siapa honey.., dan tidak ada hubungannya dengan kita. Honey istirahat saja, ingat esok hari kita akan menempuh perjalanan jauh. Bukannya honey ingin segera bertemu dengan mama Sarah.." dengan cepat, laki-laki muda itu merubah ekspresi wajahnya, dan mematikan panggilan telpon di tangannya. Setelah meletakkan ponsel di atas nakas, Ravendra segera mendatangi Alexa yang sedang duduk sambil berselonjor kaki di atas sofa.
Perlahan tangan Ravendra memijat-mijat dengan lembut kaki Alexa.., dan sesekali tangannya naik ke atas untuk mengusap perut buncit istrinya. Tidak mampu menahan perasaan, laki-laki itu mengangkat wajah dan mencium perut Alexa dalam waktu yang lama. Alexa tersenyum, dan perlahan tangannya mengelus-elus rambut laki-laki itu,
"Kira-kira papa Thomas sudah sampai di Batam belum ya kak.., karena sampai sekarang papa belum ada kasih kirim kabar. Padahal ALexa sudah sangat ingin tahu bagaimana kabar mama,.." Alexa bertanya tentang kabar papanya.
Ravendra tersenyum, laki-laki itu kemudian mengangkat kaki istrinya. Perlahan laki-laki itu duduk di samping istrinya, kemudian menempatkan kedua kaki panjang perempuan itu di atas pangkuannya.
"Alexa... mama dan papa adalah pasangan suami istri honey.. Bukannya kita sendiri tahu, bagaimana rasa dan keinginan apa.. jika kita bertemu kembali dengan pasangan kita. Apalagi untuk waktu yang cukup lama, papa dan mama sudah terpisahkan honey.." Ravendra mengangkat satu alis kanannya ke atas, dan Alexa melempat bantal kursi pada laki-laki itu.
__ADS_1
"Mesti pikiran kakak mesum.. iya kan..?" Alexa bertanya cepat sambil melotot pada suaminya.
"Ha.. ha.. ha.. honey. Kata mesum itu hanya berlaku untuk pasangan yang mereka belum terikat secara pernikahah resmi. APapun yang mereka lakukan akan disebut mesum.. tetapi akan berbeda jika pasangan itu sudah menikah seperti kita, seperti papa dan mama.. Sah.. honey.. dan itu dibolehkan bahkan dianjurkan untuk mempererat hubungan pasangan." sikap Ravendra semakin menjadi menggoda Alexa. Laki-laki itu tertawa keras, sampai air mata keluar dari matanya. ALexa hanya tersenyum melihat sikap yang ditunjukkan suaminya.
"Kak Ravend.. bagaimana kalau kepulangan kita ke Batam diajukan. Toh.. kita juga tidak memiliki aktivitas penting kan, lagian kata dokter teman kakak, kehamilanku tidak bermasalah. Bayi kita terlihat sangat kuat untuk menempuh perjalanan jauh. Apalagi kondisi janin dan ibu, akan sangat tergantung dengan suasana hati seorang ibu. Jika seorang ibu merasa bahagia, maka janinnya pasti juga akan mengikutinya.." ALexa merayu untuk mempercepat kepulangan mereka ke Batam.
Ravendra terdiam, namun setelah beberapa saat berpikir, akhirnya perlahan laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Alexa tersenyum.., dan tidak diduga, perempuan itu memberikan ciuman di bibir Ravendra.
*********
Johan terlihat sibuk di kastil tempat tinggal Ravendra. Sikap tuan mudanya yang tidak bisa untuk bertindak tegas menolak setiap permintaan istrinya, membawa dampak pada kelimpungan yang dilakukan oleh anak muda itu. Ravendra hanya bisa mengucap janji untuk melakukan setiap permintaan istrinya, namun eksekutor dan pengurusan semua sampai mereka akan tiba di tujuan, menjadi tanggung jawab dan urusan dari Johan.
"Masukkan semua perlengkapan ke dalam mobil van. Kemudian masukkan semua ke bagasi private jet, aku tidak mau ada barang yang tertinggal." suara tegas Johan terlihat mengatur para pengawal dan maid melakukan persiapan.
__ADS_1
"Baik Tuan Johan.. tapi ada yang ingin menemui Tuan Johan. Katanya dia hanya minta waktu sebentar saja, dan saat ini sedang menunggu di teras kastil." pengawal menyanggupi perintah dari laki-laki itu. Namun pengawal itu mengatakan jika ada seseorang yang ingin menemui laki-laki itu.
Alis Johan bertaut, laki-laki muda itu merasa tidak memiliki janji temu dengan siapapun. Apalagi setengah hari ini, dirinya disibukkan dengan mengurus perijinan, dan melakukan persiapan mereka untuk kembali ke Indonesia.
"Kamu pasti salah orang.. Hari ini aku tidak memiliki janji kepada siapapun.. jangan coba untuk memancing kemarahanku." dengan tegas, Johan menolak pemberi tahuan pengawal itu. Melaksanakan misi dan perintah dari tuan muda Ravendra.. menurut laki-laki muda ini adalah prioritas utamanya. Tidak ada yang lain,
"Tapi tuan Johan.. saya bisa mati jika tidak memberi tahukan hal ini pada Tuan Johan. Please Tuan.. sebentar saja tuan Johan keluar, sehingga saya sudah terhitung menjalankan tugas untuk memanggil dan memberi tahu tuan.. jika ada seseorang yang ingin bertemu dengan tuan Johan.." pengawal itu sampai menghiba, meminta laki-laki muda itu untuk keluar kastil menemui tamunya,
Johan berhenti, laki-laki itu menatap wajah pengawal yang terlihat sangat meminta kesanggupannya. Dengan kening berkerut, laki-laki itu menatap pengawal dengan mata yang lebih tajam., Laki-laki ini sangat tahu, jika tidak akan ada seorangpun yang memasuki tempat ini, kecuali ada ijin yang keluar dari mulutnya atau dari tuan muda Ravendra. Atau.. jangan-jangan.., tiba-tiba jantung Johan terasa berdegup kencang, namun dengan cepat laki-laki ini mencoba menetralisir perasaannya sendiri.
"Tuan Johan mau ya.. please.. Tuan. Tolong selamatkan saya..!" masih dengan menghiba, pengawal itu meminta pada laki-laki itu.
Merasa penasaran, dan juga kasihan dengan reaksi yang ditunjukkan oleh pengawal itu, akhirnya Johan menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, pengawal tadi langsung bersemangat.. dia langsung membereskan semua barang yang akan dibawa ke Indonesia.
__ADS_1
Perlahan Johan dengan hati dag dig dug, melangkahkan kaki menuju teras. Di depan pintu depan, laki-laki itu menghentikan langkahnya. Terlihat di depannya, seorang gadis dengan badan ramping, dan rambut blonde hair ikat sebahu tergerai ke bawah, saat ini berdiri membelakanginya. Mendengar ada suara langkah yang berhenti di belakangnya, tubuh gadis itu perlahan membalikkan badan. Sebuah senyuman yang muncul dari bibir yang sangat seksi itu merekah, melihat kemunculan Johan di depannya. Sedangkan laki-laki itu hanya terdiam, dan menatap ke depan dengan pandangan kosong.
**********