Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Terlena


__ADS_3

Di dalam pesawat


Raveena berusaha menarik perhatian Johan, agar laki-laki itu mengajaknya bicara. Namun.. laki-laki di depannya itu malah memejamkan matanya pura-pura tidak mendengar perkataan gadis itu. Melihat bagaimana perhatiannya diabaikan oleh Johan, Raveena mengangkat kakinya, kemudian meluruskan dan menempatkan di samping laki-laki itu duduk. Merasa ada yang menyentuh paha atasnya, Johan melihatnya sebentar kemudian kembali memejamkan matanya dan bersikap cuek.


"Mmmm... bagaimana membangunkan singa tidur di depanku ini. Apa aku ini kurang cantik, sampai laki-laki ini mati rasa, dan selalu bertingkah laku yang membuatku sebal." melihat sikap Johan.., Raveena berpikir sendiri.


Berkali-kali.. gadis itu mencoba menatap wajah Johan yang terlihat tertidur, namun.. sedikitpun laki-laki itu tidak membuka matanya. Merasa jengkel, akhirnya Raveena ikut memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian gadis itu akhirnya terlelap.


"Veena.. maafkan aku. Kita tidak boleh bersama.. jujur dalam hatiku. Hanya namamu dan nama Tami yang sempat terpatri dalam relung hatiku yang paling dalam, Namun.. aku tidak akan mampu untuk bisa meraih dan memetikmu.., akan banyak kendala yang menghambat kita." melihat gadis di depannya sudah tertidur, Johan membuka matanya.


Tanpa bosan, laki-laki itu menatap wajah Raveena yang memang sangat cantik karena garis keturunannya memang juga sangat cantik. Mata Johan menatap kedua tangan gadis itu yang tampak kedinginan, karena terlihat dari pori-pori kulitnya yang menebal. Tanpa sadar.., Johan berdiri dan membuka loker di samping kursi tempatnya duduk. Laki-laki itu mengambil sebuah selimut, kemudian menyelimuti tubuh gadis di depannya itu agar tidak kedinginan.


"Kamu sudah akan lebih hangat Veena.. maafkan aku. Hanya pada posisi kamu tertidur, aku akan bisa menunjukkan perhatianku padamu." Johan berbicara lirih. melihat ada bantal keci di atas loker, Johan mengambilnya kemudian mengganjal kepala Raveena.


Setelah melihat kembali wajah gadis di depannya itu, Johan kembali ke tempat duduknya kemudian laki-laki itu memejamkan mata dan kembali tidur terlelap.


********


Beberapa Saat kemudian

__ADS_1


Setelah merasakan tidur nyenyak beberapa jam, perut Raveena merasa kosong. Perempuan itu perlahan membuka matanya, dan Raveena sedikit tersenyum melihat ada sebuah selimut yang berada di atas tubuhnya, dan sebuah bantal kecil yang mengganjal kepalanya.


"Siapakah yang melakukan ini.., mungkinkan kak Johan.. atau Salsa.." Raveena bertanya pada dirinya sendiri.


"Kak Johan.. sepertinya tidak mungkin deh. Laki-laki itu seperti melihat ada virus yang akan mengganggunya, jika ketemu denganku. Mungkin saja Salsa.. AKu akan ke cockpit saja.. mau minta Salsa untuk membuatkan minuman panas untukku." Raveena kemudian menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dengan hati-hati agar tidak membuat berisik, dan membangunkan Johan, Raveena berjalan dengan tidak menimbulkan suara.


Melihat Salsa yang sedang memejamkan mata di samping Steven.., Raveena akan membalikkan badannya ke belakang. Tetapi Steven menyadari dan melihat kedatangan gadis itu.


"Nona muda Veena.. ada yang bisa kami bantu. Akan aku bangunkan Salsa agar dapat memberikan pelayanan padamu." Steven menyapa gadis itu, sambil tangannya menepuk Salsa agar gadis itu terbangun,


"Aku hanya ingin secangkir black coffee saja Steven. Terima kasih sebelumnya.." Raveena menjawab perkataan laki-laki itu.


Raveena tersenyum, kemudian gadis itu kembali berjalan meninggalkan cok-pit, kemudian duduk di tempat yang biasa diduduki oleh Salsa. Khawatir mengganggu tidur Johan, Raveena memilih untuk duduk di tempat Salsa. Tidak lama kemudian, Salsa sudah datang membawakan secangkir black coffee untuk gadis itu, dan Raveena langsung menerima uluran cangkir itu. Beberapa kali, gadis itu menyeruput kopi tersebut beberapa teguk.


"Salsa sudah sejak kapan kamu berangkat tidur..?" Raveena berusaha mencari tahu.


"Sejak pesawat take off nona muda. Tuan muda dan nona muda terbiasa tidak mau diganggu jika pesawat sudah lepas landas, dan karena nona muda Raveena juga berada dalam satu ruang dengan tuan Johan, maka kami merasa tidak ada lagi yang dapat saya lakukan. AKhirnya Steven memintaku untuk tidur.. jadi ya begitulah.." Salsa tersenyum malu, gadis itu menjelaskan apa yang dilakukannya.


"No matter Salsa.. Santai sajalah.." Raveena melanjutkan meminum kopinya, dan langsung menghabiskan kopi tersebut.

__ADS_1


Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya, mendengar jika bukan Salsa yang menunjukkan perhatian kepadanya ketika dirinya sedang tidur. Tiba-tiba..


"Nona muda..., silakan kembali ke tempat duduk nona muda. pasang sabuk pengaman, karena sepertinya cuaca sedang tidak bagus. Saya khawatir sebentar lagi akan terjadi turbulensi.." dengan panik, Salsa memberi peringatan pada gadis di depannya.


"Begitukah.. okay.. okay terima kasih kopi hitamnya Salsa." Raveena menuruti permintaan gadis itu. Raveena kemudian bergegas masuk kembali ke dalam ruangan tempat dirinya dan Johan duduk.


Baru saja Raveena menutup pintu ruangan, tatapan gadis itu beradu pandang dengan tatapan Johan. Rupanya laki-laki itu sudah terbangun, dan merasa panik melihat jika Raveena tidak ada di depannya. Tiba-tiba pesawat bergoyang, sepertinya sedang melindas awan tebal, Tubuh Raveena berguncang, dan gadis itu kehilangan pegangan. Merasa khawatir jika gadis yang sedang berdiri itu terjatuh, dengan sigap Johan ingin membantu Raveena.


"Brukk.." tiba-tiba Raveena kehilangan keseimbangan, dan tubuh gadis itu terjerembab ke depan. Johan segera menahan tubuh gadis itu agar tidak membentur dinding pesawat, dan akhirnya tubuh gadis itu memeluk tubuh Johan. keduanya terjatuh di kursi dengan posisi Raveena berada di atas tubuh laki-laki itu.


Kedua orang itu terdiam, dan pandangan mata sepasang manusia itu beradu untuk beberapa saat. Raveena melihat seperti ada magnet yang menarik dari mata laki-laki yang ada di bawahnya. Tidak tahu siapa yang memulai, bibir Raveena dan bibir Johan sudah terpaut tidak terlepaskan. Keduanya seperti terlena, mereka saling memagut, saling membuai dalam kenikmatan. Johan melepaskan ciuman itu untuk memberi jeda untuk mengambil nafas, namun dengan segera Raveena kembali menautkan bibir mereka kembali.


Gejolak rasa pasangan anak muda itu semakin menghangat. Tanpa sadar, tangan Johan sudah berada di dada gadis itu, dan memberikan remasan pada kedua bukit kembar meskipun masih tertutup baju atasan yang dikenakan oleh Raveena.


"Ugh.. ssshh.. akh.." lenguhan terlepas dari bibir Raveena, Perempuan itu menyipitkan matanya, dan dengan mata terpejam, Raveena mengambil tangan Johan. Gadis itu membimbing tangan laki-laki itu dan memasukkan ke dalam bajunya, serta mengarahkan untuk memberikan remasan pada squissy kenyalnya.


Satu persatu dengan lincah, tangan Raveena melepaskan kancing baju atasannya, dan di depan mata laki-laki muda itu tersaji squissy kembar yang putih bersih. Dada laki-laki itu bergetar, seperti ada luapan perasaan melihat pemandangan di depannya. Cukup lama kedua orang itu menghabiskan waktu bermain-main di area atas gadis itu, hingga..


"Grekk.." tiba-tiba pintu ruangan Ravendra terbuka.

__ADS_1


********


__ADS_2