Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Makan Malam


__ADS_3

Ravendra menatap Johan untuk tidak memberi komentar pada Alexa, laki-laki itu tidak ingin jika Alexa merasa malu diledek oleh Johan. Perlahan Ravendra menarikkan kursi untuk Alexa, dan setelah gadis itu duduk, Ravendra kemudian berpindah dan duduk di samping gadis itu. Martha mendekati tempat duduk Alexa, kemudian menawarkan untuk mengambilkan nasi putih.


"Biar saya sendiri saja yang mengambil nasi Bibi.., biar sesuai dengan porsi saya sendiri." dengan halus Alexa menolak bantuan dari perempuan tua itu. Ravendra memberi kode pada perempuan tua itu untuk membiarkan gadis itu sendiri.


"Baik Nona Muda..., jika nona muda memerlukan sesuatu, segera beri tahu pada Bibi." Martha menerima penolakan itu, kemudian perempuan itu kembali ke belakang.


Tanpa menawarkan pada Ravendra, Alexa langsung menyuapkan nasi ke mulutnya setelah piringnya berisi dengan nasi dan lauk pauk. Ravendra bengong melihat sikap gadis itu, padahal tadi dia mengira jika Alexa juga akan melayaninya. Johan yang melihat keadaan itu, segera tersenyum sambil menutup mulutnya.


"Kok kak Ravend.. tidak makan? Belum lapar?" tanpa memiliki prasangka aneh, Alexa dengan polosnya bertanya pada Ravendra. Laki-laki itu menatap Alexa dengan tatapan heran.


"Hmm..., Alexa sedikitpun tidak ingin melayaniku?" tidak menjawab pertanyaan yang Alexa tujukan padanya, Ravendra malah ganti bertanya. Beberapa saat terdiam, Alexa baru memahami pertanyaan laki-laki itu.


"Oh.., maksudnya kak Ravend.. minta dilayani Alexa. Bilang dong dari tadi..." gadis itu langsung berdiri, kemudian mengambil piring Ravendra dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Laki-laki itu tersenyum senang, dan melirik Johan yang dari tadi senyum-senyum melihatnya.


"Terima kasih honey.., lanjutkan makan siangmu!" ucap Ravendra dan langsung menyuapkan sendok ke mulutnya. Mereka makan dalam diam, dan sesekali tangan Ravendra mengambil beberapa potong lauk dengan penjepit makanan, dan meletakkannya di piring Alexa.


"Sudah kak..., Alexa sudah kenyang. Jangan ditambah lauk terus.., nanti Alexa bisa gendut." ucap Alexa polos.

__ADS_1


"Kan kalau gendut, timbangannya jadi berat Lexa.. Ingat lho harga daging kualitas premium, satu kilogram sepertinya bisa mencari 170.000 rupiah. Tinggal mengalikan dengan berat badanmu." dari depan, Johan nyeletuk menggoda gadis itu.


"Aaaw..., anarkis kamu Lexa.." tiba-tiba Johan menjerit, tanpa laki-laki itu tahu, Alexa melempar jidatnya menggunakan buah jeruk yang ada di piring yang tidak jauh dari tempat duduk Alexa.


"Untung saja cuman buah jeruk yang kulempar padamu, coba kalau buah semangka atau kentang WHL.." ucap Alexa tanpa sedikitpun merasa bersalah.


"Sudah.., sudah.., selesaikan makannya dulu. Jika mau berkelahi, di mansion ini ada tempat latihan, kalian bisa bertarung disana." Ravendra melerai mereka dengan nada sarkasme. Laki-laki itu kurang suka melihat kedekatan Alexa dan asisten pribadinya itu. Mendengar perkataan Ravendra, Johan langsung diam. Sedangkan Alexa menoleh ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya itu, dan Ravendra hanya tersenyum smirk padanya.


Tiba-tiba Pablo dengan tergesa-gesa menyusul mereka ke meja makan. Laki-laki itu kemudian berbisik memberi informasi pada Johan. Asisten pribadi dan tangan kanan Ravendra itu menganggukkan kepala, dan melirik pada Alexa. Ravendra menatap kedua orang itu dengan pandangan tajam, dan Johan menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian Johan memberi isyarat pada Pablo untuk kembali ke tempatnya semula, dan Johan menjanjikan untuk memberinya kabar secepatnya.


"Masih lapar..,?" tanya Ravendra lembut pada Alexa. Gadis itu menggelengkan kepala, dia memiliki firasat jika ada urusan penting yang harus segera diselesaikan oleh laki-laki itu. Selama dia masih berada disini, maka mereka tidak akan berani untuk mendiskusikannya.


"Tapi bagaimana dengan teman-teman kak?? Mereka pasti akan mencari saya." ucap Alexa mengkhawatirkan teman satu timnya.


"Kamu tidak perlu banyak berpikir, Johan sudah memberi tahu pada pemimpin rombongan. Teman-temanmu juga masih menginap di tempat penampungan, mereka juga baru akan kembali ke hotel besok pagi. Kita lebih aman disini." Ravendra menenangkan Alexa. Setelah mereka merasa kenyang, Ravendra kembali merangkul Alexa dan membawanya kembali ke kamar.


************

__ADS_1


Setelah mengantarkan Alexa kembali ke kamar, dan menyalakan saluran televisi, Ravendra minta ijin pada Alexa untuk berbicara dengan Johan di kamar sebelah. Merasa kurang nyaman jika laki-laki itu ada di sampingnya, Alexa mengangguk mengijinkan laki-laki itu untuk keluar. Dengan memberi kecupan di kening gadis itu, Ravendra keluar dari kamar meninggalkan gadis itu.


"Kenapa aku menjadi seperti ini...? Aku belum mengenal Ravendra dengan baik, tetapi kenapa tanpa sadar aku menyetujui pernyataannya padaku?" sepeninggal Ravendra keluar dari dalam kamar, Alexa berbicara pada dirinya sendiri.


"Laki-laki itu aneh dan misterius, dan kejadian tadi siang di tengah hutan. Kenapa aku bisa melupakannya, apakah kak Ravend.. membunuh binatang itu, tetapi kenapa darah mengalir dari sudut bibirnya?" dengan bingung, Alexa mengingat kejadian tadi siang saat dia bertemu dengan Ravendra.


Tanpa sadar channel saluran televisi yang ditonton Naura menayangkan sebuah cinema tentang percintaan seorang vampire dan gadis dari manusia murni. Melihat vampire itu minum air berwarna merah darah dari dalam gelas, Alexa kembali teringat saat gadis itu bertemu Ravendra di belakang meja kerjanya. Saat itu dia juga melihat ada gelas berisi darah di depan meja Ravendra, tetapi dia kemudian menetralisir perasaannya.


Setelah itu, beberapa saat adegan berganti. Vampire laki-laki itu menangkap seekor kelinci di tengah hutan kemudian menyesap darahnya, dan tidak lama binatang itu menjadi lemas. Vampire itu kemudian melemparnya ke segala arah.


"Oh my God..., kenapa film ini seperti sebuah Dejavu.. Aku melihatnya semua ini seperti dilakukan kak Ravend.., dan semua terjadi di depan mataku." Alexa menutup mulutnya, bayangan Ravendra tadi siang, dan beberapa hari lalu saat laki-laki itu di belakang meja kerjanya, terbayang lagi dengan jelas di ingatannya.


"Mungkinkah kak Ravend.. itu seorang vampire..? Tapi masa jaman seperti ini masih ada manusia vampire.., bukankah itu hanya sebuah cerita dongeng saja, untuk menakut-nakuti anak kecil." Alexa mencoba menghibur dan menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu membayangkan perlakuan yang diberikan Ravendra padanya, dan tidak ada yang aneh dari perlakuannya. Hanya saja memang untuk ukuran seorang laki-laki muda, Ravendra cenderung lebih tertutup dan membatasi pergaulan dengan seorang gadis.


Alexa tersenyum, dan pipinya tiba-tiba bersemburat warna pink, ketika mengingat apa yang dia lakukan tadi sebelum mereka makan siang. Gadis itu tidak kuasa menolak, ketika laki-laki itu mencium lembut bibirnya, bahkan mengeksplorasi semua sudut mulutnya. Tanpa sadar, jari tangan Alexa mengusap bibirnya yang tadi dia gunakan untuk berciuman dengan laki-laki itu. Bahkan Ravendra lah, laki-laki yang pertama kali berani memberikan ciuman yang pertama untuknya.


"Akh..., kenapa aku menjadi seperti ini? Jangan-jangan kak Ravend.., mencapku sebagai seorang gadis gampangan." Alexa menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya, tiba-tiba gadis itu merasa malu.

__ADS_1


***********


__ADS_2