Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Kecurigaan


__ADS_3

Setelah beberapa saat menginjak pedal gas mendaki bukit Dangas, kening Johan berkerut ketika melihat ada dua mobil sport keluaran terbaru terparkir di puncak bukit tersebut. Sebelum mematikan mesin mobil, Johan mengedarkan pandangan ke sekeliling puncak bukit. Di sebelah timur, mata anak muda itu terbelalak. Dadanya menjadi sesak, melihat Raveena duduk bersandar di batang pohon, dengan tangannya memegang pack makanan ringan. Di kanan kiri gadis itu, ada anak muda yang sedang bercanda dengannya.


"Damn it... who are they.." dengan tatapan tajam, Johan melihat penampakan di depannya itu. Rasa panas seketika menguasai dada laki-laki itu, ketika melihat dengan ringannya salah satu anak muda itu memegang rambut Raveena yang beterbangan terkena angin. Raveena diam saja, dan tidak terlihat sedikitpun jika gadis itu menolak perlakuan tersebut.


Laki-laki satunya.. mengambil makanan ringan dari tempat snack di depannya, kemudian menyuapkan snack yang sudah berada di tangannya pada gadis itu. Mata Johan memerah seakan ingin melompat keluar melihat hal itu. Ingin rasanya, laki-laki itu berlari dan menarik dua anak muda kurang ajar itu. Hal itu berlangsung beberapa saat, dan Johan hanya menjadi penonton ketiga orang itu saling berbincang dan bercanda.


"Veena.. cobalah sedikit minuman ini. Aku baca kadar alkohol hanya lima persen saja, tenanglah please... ga akan membuat kamu mabuk dan kehilangan kendali. Trust me.. please.." Steven yang ternyata masih menyimpan soft drink yang mengandung alkohol itu membuka tutup botol, kemudian busa dari soft drink tersebut muncrat di depan wajah ketiga orang itu.


"No Steven.. I can.t... Kota ini memiliki iklim cenderung panas, tubuhku akan cepat bereaksi jika terkena sedikit saja kadar alkohol yang masuk ke tubuhku.. I.m sorry.. aku tidak bisa meminumnya. Kalian berdua saja nikmati sendiri minuman itu, aku ini saja.." Raveena mengangkat kaleng minuman kopi susu merek Nescafe di tangannya. David hanya tersenyum melihat Steven mencoba merayu Raveena.


"Tidak adakah makanan ringan yang lebih mengenyangkan lagi guys.. sepertinya perutku malah tambah lapar. Snack yang sejak tadi kita makan, malah seakan-akan menari-nari di perutku nih.." tiba-tiba sambil memegang perut, Raveena menanyakan makanan berat.


"Nothing.. kita hanya niat naik saja tadi kesini, dan menghabiskan waktu di tempat ini sampai matahari agak tinggi. Kalau lapar, turun saja yukk.. Aku tahu ada tempat untuk makan pagi yang sangat recomended di kota ini.." mendengar jika gadis di sampingnya merasa lapar, Steven mengajak mereka untuk turun ke bawah mencari makanan.


"Dimana tuh.. aku belum begitu tahu tempat-tempat untuk kuliner di kota ini. Yah.. maklum saja, baru tiga hari aku ada di kota ini.." Raveena menyambut antusias ajakan itu.

__ADS_1


"Kita bisa menuju ke Anchor Cafe & Roastery, restaurant itu menyediakan breakfast dengan pilihan menu lengkap. Kita sering break fast di tempat itu.." David membuat usulan.


"Ya.. ya.. aku setuju. Yukk cabut.. Veena mau ikut mobil siapa, David atau mobilku..?" sambil jalan. Steven bertanya pada gadis itu.


"David saja ya Steven.. ga pa pa kan.. Ntar deh, pulangnya aku ikut mobilmu.." Raveena dengan santai menanggapi perkataan laki-laki itu.


Akhirnya ketiga anak muda itu segera menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari pohon tempat mereka tadi berbincang. Namun melihat ada mobil Jeep Cherokhee yang berhenti tidak jauh dari mereka, membuat ketiga anak muda itu terkejut, dan saling berpandangan. Banyaknya mobil di tempat kakaknya, tidak bisa dihafal satu persatu oleh Raveena. Gadis itu sama sekali tidak mengenali mobil yang saat ini ada Johan di dalam mobil tersebut.


Namun karena merasa tidak kenal dan tidak tahu siapa pengemudi mobil itu, ketiga anak muda itu tidak memperhatikan mobil itu lagi. Steven langsung menuju ke mobilnya, kemudian menyalakan mesin mobil. Demikian juga dengan David, laki-laki itu membuka pintu mobil kemudian meminta Raveena segera masuk ke dalam. Setelah memastikan itu duduk dengan nyaman di atas jok mobil, David segera menyalakan mesin mobil, dan tidak lama kemudian dua mobil sport mewah terbaru itu dengan cepat melesat meninggalkan bukit Dangas.


********


Johan masih memandang kedua anak muda itu dengan akrabnya berjalan bersama Raveena. Melihat perlakuan yang dilakukan David pada Raveena, muncul rasa panas di dalam dada laki-laki itu. Namun Johan masih mampu menahan dirinya untuk tidak bersikap impulsive di depan Raveena.


"Aku akan menyelidiki siapa dua anak muda itu.. Melihat mobil sport yang mereka kendarai merupakan keluaran terbaru, sepertinya tidak sulit untuk menemukan identitas kedua anak muda itu.." dengan tatapan tajam, Johan mengambil ponsel kemudian memfoto plat dua mobil yang membawa Raveena pergi.

__ADS_1


Setelah mendapatkan gambar yang bagus, dan nomor plat mobil tercetak jelas, Johan kemudian kembali menginjak pedal gas dan tidak lama kemudian mobil itu melesat menyusul dua mobil sport mewah yang sudah jalan lebih dulu di depannya. Tampak warna merah bersemburat di wajah laki-laki itu, merasa tersaingi karena ada dua anak muda yang berlaku akrab dengan Raveena.


"Aku akan mengikuti dua mobil sport itu.. Akan dibawakah kemana Veena.." sambil memegang setir kemudi, Johan berbicara dengan geram. Kakinya dengan lincah terus menginjak pedal gas.. dan untungnya karena hari masih pagi.. belum banyak yang menggunakan jalan yang mereka lalui.


"Tapi.. kenapa aku mempedulikan Raveena, dan ada rasa sakit di ulu hati melihat gadis itu sedang bersama dengan laki-laki lain." Johan bertanya pada dirinya sendiri. Laki-laki itu mencoba memahami jalan pikirannya sendiri, namun tidak ada jawaban yang dapat ditemukannya.


Laki-laki itu terus mengikuti jalannya kedua mobil sport itu, dan sepertinya pengemudi kedua mobil sport itu sadar, ketika mobil mereka diikuti. Mereka tidak mengurangi kecepatan mobilnya, tetapi malah semakin cepat mengemudikan mobil mereka. Akhirnya di sebuah bangunan seperti ruko yang terletak paling pojok, dua mobil sport itu menghentikan mesin mobil.


"Apakah kita sudah sampai David..?" melihat ada bangunan bertuliskan Anchor Cafe & Roastery, Raveena bertanya pada laki-laki yang duduk di sampingnya itu.


"Yups.. kita akan segera masuk ke dalam. Don,t worry.. memang jika dilihat dari penampakan fasad bangunan dari luar, restaurant ini terlihat kecil. Namun.. kejutan akan menyambut kita, ketika kita masuk ke dalam.." David membukakan pintu mobil, kemudian mengajak Raveena untuk masuk ke dalam restaurant.


Steven sudah keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan menuju ke arah pintu masuk restaurant. Di depan pintu masuk, laki-laki itu berhenti menunggu dua orang yang datang bersamanya, Mata Steven melirik ke arah mobil Jeep Cherokee yang dikendarai Johan. Kening laki-laki itu berkerut, namun karena tidak dapat melihat siapa yang berada di dalam mobil, akhirnya laki-laki itu mengabaikannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2