Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Tekad Bulat


__ADS_3

Pent House Johan


Johan masuk ke dalam kamar, kemudian berjalan menghampiri Raveena yang bergelung dalam selimut di dalam kamarnya. Gadis itu bukannya belum tahu, jika Mommy nya sudah berada di pent house kakaknya, Namun gadis itu masih perlu untuk merangkai hati, menyiapkan hatiĀ  dan perasaannya untuk menemui papa dan Mommy nya. begitu juga dengan Johan, laki-laki itu sejak tadi lebih banyak diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Hal itu karena Johan juga sedang mempersiapkah tekad untuk membuka hubungannya dengan Raveena adik dari tuan muda Ravendra.


"Bagaimana istrirahatmu sayang... apakah kamu merasa jenuh dan terganggu. Sejak sore, kamu hanya berada di dalam pent house, sama sekali tidak menghirup udara di luar.." Johan bertanya pada Raveena. Laki-laki itu duduk di sisi ranjang yang digunakan untuk berbaring gadis itu.


Melihat kedatangan Johan di sisinya, Raveena kemudian mengangkat tubuhnya ke atas. Gadis itu kemudian duduk dan bersandar di atas sandaran ranjang tempat dia berbaring. Raveena menatap mata Johan, dan gadis itu menemukan ada riak kesedihan di mata laki-laki yang dicintainya itu.


"Veena baik-baik saja kak.. Tadi beberapa kali, Veena juga mencoba keluar ke balkon untuk membunuh sepi dan rasa jenuh. Bagaimana dengan kabar papa dan mommy kak.. apakah mereka baik-baik saja." meskipun memutuskan untuk pergi dari rumah, dalam hati kecilnya Raveena juga merasakan kerinduan untuk mengetahui kabar kedua orang tuanya.


"Tuan besar Abraham dan Nyonya besar Nancy baik-baik saja sayang. Hanya saja tadi sempat terjadi insiden kecil, hingga tuan Thomas, papanya Lexa harus mendatangkan dokter pribadinya." ucap Johan.


"Dokter pribadi.. ada apa dengan papa dan Mommy,, apakah mereka baik-baik saja." mendengar ada kedatangan dokter, Raveena menjadi panik sesaat. Gadis muda itu memegang kedua pundak kekasihnya, dan terus menekan Johan untuk bicara.


"Jangan banyak berpikir dan asal menebak Veena. Semua tidak seperti yang sudah kamu bayangkan. Begini ceritanya.." akhirnya Johan menceritakan apa yang sudah terjadi di pent house kakak gadis itu.

__ADS_1


Tidak ada yang terlewat,semua kejadian sekecil apapun diceritakan Johan pada kekasihnya Raveena. Akhirnya gadis itu bisa mengambil nafas lega, setelah mendengar Johan mengakhiri ceritanya.


"Bagaimana dengan kita kak.. apakah kak Johan tetap akan bersikeras memberi tahu Mommy dan papa tentang hubungan ini. Tidak bisakan kak Johan menundanya.. dan untuk saat ini, Veena bisa meninggalkan negara ini." Raveena tiba-tiba kembali menyampaikan idenya dahulu.


"Apa katamu sayang.. jangan terlalu banyak bicara dan berpikir. Semua akan menjadi urusanku, dalam waktu dekat, tidak akan lama lagi, aku akan mengajak Tuan Thomas dan Nyonya Nancy untuk bicara. Aku sudah siap dengan resiko apapun yang harus aku jalani." dengan tegas, Johan memberi tanggapan atas perkataan gadis itu.


Raveena terdiam mendengar tekad bulat laki-laki yang sangat dicintainya itu. Menurutnya, dari semua laki-laki yang berusaha untuk mendekatinya, hanya kak Johan yang hampir memenuhi kriteria persyaratannya. Dan mereka juga sudah saling kenal sejak kecil, sehingga tidak ada rahasia lagi di antara mereka berdua.


"Baik kak Johan.. Raveena ikut keputusan kakak. Terlepas dari jawaban setuju maupun tidak setuju dari papa atau Mommy... Veena tetap akan memilih dan mengikuti kak Johan kemanapun. Kak Johan tidak perlu meragukanku.." ucap Raveena perlahan. Kata-kata yang keluar dari bibir gadis itu, seakan menjadi cambuk bagi Johan untuk segera membuktikan ucapanya.


*********


Seperti yang sudah diucapkannya, Johan pagi ini meminta ijin pada Ravendra untuk tidak menemaninya bekerja. Ravendra mengerutkan dahinya, mendengar keputusan tiba-tiba dari laki-laki di depannya itu. Tetapi sesaat kemudian, Ravendra teringat jika Raveena adik perempuannya, berada di dalam kamar laki-laki itu. Apapun yang akan dilakukan Johan, Ravendra meyakini jika semua ada kaitannya dengan adik perempuannya.


"Baik.. no problem. Lagian juga tidak ada agenda besar hari ini. Aku akan bisa menghandlenya sendiri. By the way.. ada urusan apa hari ini, sampai kamu meminta ijin untuk Off dari pekerjaan." Ravendra menanyakan tujuan dari laki-laki itu.

__ADS_1


Johan terdiam sejenak tidak berani menjawab pertanyaan dari tuan mudanya itu. Tetapi beberapa saat kemudian, akhirnya Johan memberanikan diri untuk memberi tahukan rencananya hari ini.


"Johan ingin mencoba mengajak tuan besar Abraham berbicara tuan muda, mengenai hubungan saya dengan nona muda Raveena. Mumpung semua sedang berkumpul di pulau ini, tidak ada salahnya jika saya mengadu nasib. Saya betul-betul mencintai nona muda Raveena.. tuan muda. Komitmen saya akan segera kami legalkan.." akhirnya Johan menjawab jujur pertanyaan yang diucapkan Ravendra.


"Ha.. ha.. ha... besar pula nyalimu Johan.. But... it.s okay.. Aku salut dan sangat mengapresiasi sikap jantanmu. Adik perempuanku sangat beruntung bisa mendapatkanmu Johan.. good luck. Doaku selalu menyertaimu.. Tetapi perlu kamu ingat Johan... papa Abraham akan mengikuti keinginan semua putra dan putrinya. permasalahan akan datang melalui mama Nancy.. berhati-hatilah. Kamu lihat sendiri bukan, bagaimana situasi tadi malam..?" di luar dugaan, Ravendra berteriak mendukung Johan.


"Iya tuan muda.. saya paham dan mengenal betul bagaimana karakter Nyonya Besar Nancy. Hal itulah yang membuat saya puluhan tahun mencoba menghilangkan perasaan saya pada nona muda Raveena. Melihat semangat nona muda.. akhirnya saya tidak bisa menghindar lagi tuan muda.." ucap Johan dengan merasa malu pada laki-laki di depannya itu.


Ravendra tersenyum, laki-laki itu tahu persis bagaimana asisten pribadinya itu terus menghindar dari adik perempuannya. Sampai Raveena berkali-kali pergi untuk mencari Johan, tetapi asisten pribadinya itu terus menghindar dan seakan-akan menolak tegas terhadap perasaan gadis itu.


"Itulah Johan.. saranku sih. mendingan kamu dan Raveena menghindar dulu, pergilah ke kota lain. Setahuku, kamu dan Veena sudah mengumpulkan syarat-syarat untuk mengurus pernikahan kalian. Lakukan di negara lain, aku akan datang untuk menjadi wali nikah dari Raveena." Ravendra memberi saran pada laki-laki itu.


Johan terdiam, dalam hatinya pernah muncul ide seperti itu. Namun.. laki-laki ini menyadari, jika selamanya dia tidak akan terus main kucing-kucingan dengan keluarga Tuan besar Abraham dan Nyonya besar Nancy.


"Tidak tuan muda... sudah menjadi tekad saya untuk menghargai nona muda Raveena. Saya sudah mantap untuk menghadap tuan besar Abraham dan nyonya besar, saya akan meminta nona muda untuk menjadi istri saya tuan muda. Harapan besar saya, papa dan mommy tuan muda tidak keberatan untuk menerima saya sebagai menantu keluarga ini." ucap Johan dengan tegas.

__ADS_1


"Doaku selalu bersamamu Johan.. Yakinlah, hati Mommy lama kelamaan sudah mulai luluh. Kamu juga melihat bagaimana penerimaan Mommy pada nona muda Alexa tadi malam." ucap Ravendra. Laki-laki itu berjalan meninggalkan Johan sambil menepuk tiga kali punggung laki-laki itu.


*********


__ADS_2