
Di sebuah bangunan tua, Alberto dengan membopong tubuh Alexa memasuki anak tangga menuju ke atas bangunan tersebut. Tangannya yang kuat menahan tubuh Alexa, seperti tanpa beban sedikitpun. Setelah sampai di sebuah ruangan, laki-laki itu membaringkan tubuh Alexa di atas sebuah ranjang. melihat gadis itu masih dalam pengaruh obat bius yang diberikan Tami, Alberto tersenyum kemudian keluar dan mengunci kamar tersebut dari luar ruangan.
"Edward..., gadis impianmu sudah datang ke kastil ini." gumam Alberto sambil kembali berjalan turun menyusuri anak tangga. Senyuman licik muncul di bibir laki-laki itu, untungnya meskipun tidak dipublikasikan kabar pernikahan Ravendra dan Alexa beredar secara getok tular di koloni manusia vampire. Dalam waktu singkat, Alberto mendapat kabar dari Tami, yang sekaligus menyampaikan rencana penculikan gadis itu.
Alberto melangkah ke lemari pendingin, kemudian mengeluarkan darah segar dingin dari dalam kulkas. Tanpa berpikir lagi, darah merah kental langsung berpindah tempat ke perut laki-laki itu. Tidak lama kemudian, Alberto berjalan menuju ke ruang tengah, kemudian melakukan panggilan keluar pada Edward.
"Ya kak..., mungkin menjelang pagi aku sudah akan sampai di kastil. Titip jaga gadis itu untukku..." Edward menjawab panggilan yang diberikan Alberto untukknya, Perlahan tubuh Alberto sudah berubah menjadi manusia biasa kembali. Laki-laki itu menselonjorkan kaki dan berbaring di atas sofa. Tidak lama kemudian laki-laki itu mulai tertidur.
********
Dini hari Alexa terbangun, gadis itu tersentak dan langsung duduk sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tempatnya berada. Perlahan, ingatan demi ingatan kembali masuk ke pikiran gadis itu. ALexa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, air mata mengalir keluar dari sudut matanya.
"Uncle Thomas..., bagaimana bisa Uncle memiliki rekaman hasil test DNA atas hubungan kami?" Alexa berpikir sendiri. Tidak pernah sedikitpun terlintas pikiran, jika laki-laki yang diceritakan Nyonya Sarah padanya adalah Thomas.
"Bagaimana aku harus bersikap, dan saat ini ada dimanakah aku berada?" sesaat ALexa menyadari jika dia tidak menyadari keberadaannya saat ini. Kesadaran Alexa kembali pulih, dan dia berpikir ingin segera keluar dari tempat itu.
__ADS_1
"Alberto.., Robin.., Tami... dari ketiga orang itu, aku yakin tidak ada satupun yang memiliki niat baik padaku. Aku harus menjauhkan diri dari mereka, jika tidak aku pasti akan celaka." ketika kesadaran Alexa muncul, gadis itu berpikir bagaimana dia akan melarikan diri dari tempat itu. Sambil berpikir, perlahan Alexa berjalan menuju ke arah pintu, tetapi gadis itu menyadari jika dia sudah terkurung di dalam kamar.
Matanya kembali berkeliling, dan tiba-tiba gadis itu menyadari jika ada pintu menuju arah ke balkon. Alexa segera menuju ke arah balkon, dengan membuka pintu secara hati-hati. Tampak sebuah lereng tebing yang curam, ketika gadis itu melihat ke bawah.
"Aku akan mencoba menuruni tebing ini, aku pernah melakukan climbing saat masih kuliah dulu. Semoga saja kemampuanku tidak jauh berkurang.." gumam Alexa sendiri,
Gadis itu berpikir keras, bagaimana dia akan menuruni tebing itu karena tidak melihat ada tali di sekitar itu, Matanya melihat ke arah gordyn dan vitrage yang tergantung di jendela. Pelan-pelan.. Alexa berjalan menuju jendela, kemudian dengan kekuatan penuh melepas gordyn dan kemudian merangkainya menjadi sebuah tali yang sementara bisa digunakan untuk menuruni tebing tersebut.
Tanpa menunggu lama, Alexa melepas gaun pengantin warna putih yang membalut tubuhnya. Dengan celana legging yang membalut kakinya, Alexa mengambil sebuah jaket yang ada di dalam walk in closet, kemudian bergegas melompat ke atas gordyn yang sudah dia rangkai menjadi sebuah tali memanjang ke bawah. Hanya menggunakan sandal jepit yang gadis itu temukan, Alexa tidak mau lagi berpikir panjang. Batu-batuan tajam yang mengenai kulitnya, tidak dipikirkan oleh gadis itu, dalam pikirannya hanya terlintas bagaimana secepatnya dia bisa melarikan diri dari tempatnya berada saat ini.
*********
"Hentikan Ravend.., aku saat ini memberimu pertolongan, jangan salah sangka kepadaku." teriak Robin meminta Ravendra menghentikan pukulan dan cengkeramnya di leher laki-laki itu. Mata Ravendra berwarna merah darah, dengan kuku tajam menghujam ke dalam leher Robin. Di sudut lain, terlihat Johan sedang bertarung melawan Tami. Melihat bagaimana perilaku mereka menggagalkan pernikahan Ravendra dan Alexa, Johan sedikitpun tidak menahan pukulan yang diberikannya kepada gadis itu.
"Grrrrr....., kamu sudah melampaui batas bawahku Robin. Roaarrrr..." dengan cengkraman erat, Ravendra mengoyak tubuh Robin yang ada di bawahnya.
__ADS_1
Thomas berlari mengamankan Nyonya Sarah, perempuan itu langsung terkulai lemas mendengar kabar jika putrinya dibawa pergi dari hotel itu dengan menggunakan helipad. Suasana di ball room khusus pelayanan Presidential Suites sangat kacau. Anak buah Johan segera mengamankan tamu undangan yang berasal dari manusia, dan memintanya untuk segera turun dari ball room menuju ke kamar mereka masing-masing.
"Miss Tami..., katakan kemana Alberto membawa pergi Miss Alexa. Jika kamu tidak mengaku, aku tidak akan lagi menaruh rasa sungkan kepadamu. Aku akan mengoyak setiap inchi tubuhmu, dan akan membawamu ke api suci. Kamu akan tersiksa dan tidak memiliki kesempatan untuk terlahir kembali." Johan mencekik leher Tami dengan mengancam Tami dengan sadis. Sudah tidak ada lagi tatapan kagum dan pemujaan terhadap gadis itu. Rasa pengabdian dan kesetiaan kepada Ravendra.., memanggilnya untuk bertindak melakukan hal tersebut.
"Kita lihat saja Johan..., apakah kamu memiliki nyali untuk mengahncurkanku.." Tami malah menantang kesabaran Johan, perempuan itu tersenyum melecehkan laki-laki itu,
"Hmmm.., begitukah anggapanmu kepadaku. baiklah.., aku akan membuktikannya." dengan tersenyum, Johan lebih menancapkan kuku-kukunya ke leher perempuan itu dan memperlihatkan taring kepada gadis itu.
"Aaaaawww...., hentikan Johan... stop.." lengkingan tajam keluar dari bibir Tami, perempuan itu hampir kehabisan nafas. Tetapi Johan tidak mengindahkan teriakan perempuan itu, tangannya terus menekan ke leher gadis itu.
"Baiklah.., aku akan memberi tahumu. Lepaskan sekarang cengkramanmu Johan..." akhirnya Tami mengalah. Johan tersenyum sinis, kemudian melonggarkan pegangannya pada gadis itu. Dari seberang Robin melihat bagaimana adik perempuannya sudah mengaku kalah kepada pengawal dan asisten pribadi dari Ravendra. Laki-laki itu terlihat marah dan emosi, tetapi dia sendiri tidak dapat membebaskan dirinya dari serangan Ravendra.
"Cepat katakan!" teriak Johan tidak sabar.
"Alexa dibawa Alberto ke kastil milik keluarganya, yang ada di pulau Natuna." akhirnya dengan tercekat, Tami membocorkan keberadaan Alexa.
__ADS_1
"Brak.." setelah mendapatkan informasi keberadaan Alexa, dengan sekuat tenaga, Johan membanting tubuh Tami ke bawah. Gadis itu meringis kesakitan, merasa tulang-tulang tubuhnya merasa remuk.
**************