Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Pelantikan Kacau


__ADS_3

Begitu orang-orang yang disebutkan oleh host naik ke atas stage, tiba-tiba lampu ruangan menjadi mati. Meskipun sebagai manusia vampire, mereka tidak masalah berada dalam kegelapan, tetapi menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Karena mereka tidak akan bisa membuat sebuah dokumentasi acara pelantikan tersebut. Dan tanpa mereka sadari, ketika orang-orang panik dan berupaya agar lampu penerangan dan semua peralatan listrik kembali beroperasi, beberapa orang sudah turun dan ikut berdiri di atas stage.


"Byar..." tidak lama kemudian lampu kembali mulai menyala. Kepanikan yang sempat melanda beberapa saat, mulai terlihat hilang di wajah para vampire yang memiliki kepentingan di hari itu.


Ravendra tersenyum melihat apa yang terjadi saat ini, dan Hendrick hanya melihat pada laki-laki muda itu. Tetapi sedikitpun Hendrick tidak melihat ada kepanikan terlihat pada diri Ravendra. Di stage, wajah host terlihat kembali berbinar, segera beberapa orang segera ke depan memposisikan kembali acara pelantikan.


"Baiklah para hadirin.., tanpa sengaja kita sudah dipermainkan oleh teknologi. Meskipun kita juga bisa tetap menyelenggarakan acara pelantikan tanpa ada sinar lampu, tetapi tetap akan terlihat tidak afdol. Marilah segera kita lakukan pelantikan, kami harap para Rahib segera mengambil alih acara. Dan kepada para hadirin, kami mohon kesediaannya untuk bersama-sama melihat acara pelantikan yang sudah kita tunggu-tunggu ini. Untuk para Rahib..., sepenuhnya waktu dan kesempatan saya berikan pada kalian." host kemudian membungkukkan badannya ke depan kemudian perlahan menuruni stage.


Ke empat rahib yang sudah berada di atas stage segera mengambil alih. Salah satu rahib memercik-mercikkan air dari guci yang dibawanya, sambil berkeliling sejumlah tujuh kali ke tubuh Robin. Satu Rahib yang lain, menyalakan semacam dupa untuk pemujaan, dan seketika bau harum menyeruak masuk ke ballroom bagian depan. Para hadirin yang datang di acara itu, terdiam seperti terhipnotis oleh acara. Mereka tanpa berkedip melihat ke atas stage, tempat beberapa Rahib melakukan acara ritual.


"Mendekatlah Robin..., kami akan mendengar kesanggupanmu untuk memimpin manusia vampire di seluruh dunia. Bahkan dalam tugasmu, akan mengalahkan kepentinganmu sendiri. Apakah kamu bersedia Robin..?" salah satu Rahib bertanya tentang kesanggupan Robin.


"Saya bersedia Rahib, saya bersedia untuk mengabdikan seluruh hidup saya untuk berbakti  dan mengabdi pada kepentingan manusia vampire." setelah mengambil nafas, dalam satu tarikan nafas Robin menanggapi pernyataan yang ditanyakan para Rahib,

__ADS_1


Tanpa ada yang mengetahui, salah satu pengawal yang berada di stage berjalan mendekat ke arah dupa yang sudah di bakar dalam tempatnya. Tiba-tiba api dupa membesar dan terlihat, mata para Rahib terbelalak, dan..


"Dor.., dor.., jeglarr..." kepanikan tiba-tiba melanda stage dan ball room bagian depan. Terdengar suara ledakan seperti mesiu yang meledak, dan suasana manusia vampire menjadi heboh. Beberapa ada yang melompat dan terbang di dalam ruangan, sehinggan ruangan ball room menjadi kacau.


Di kursinya, Ravendra hanya tersenyum melihat kekacauan itu. Di sampingnya Frederick Hendrick yang semula berdiri karena ikut di landa kepanikan, akhirnya bersikap tenang dan kembali duduk di samping Ravendra. Laki-laki itu ikut melihat manusia vampire yang sudah beterbangan dan membuat kekacauan di dalam ruangan,. Terlihat host berlari kembali ke atas panggung, kemudian membuat sebuah pengumuman agar semua duduk dan kembali ke tempatnya masing-masing. Wajah Robin terlihat merah menahan amarah, dan laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang mulai berantakan.


************


Beberapa Saat Kemudian


"Kami harap semua hadirin untuk kembali duduk tenang di kursi masing-masing. Jika tidak peluru perak akan siap menembus tubuh kalian semua.., dan siapapun jangan pernah berpikir untuk menggagalkan atau mengacaukan acara pelantikan ini. Semuanya harus tenang dan mengikuti prosesi dengan penuh kekhitmadan." kembali suara host yang sudah diatur oleh orang-orang Robin, menyampaikan pengumuman.


Mendengar ucapan host, kembali kericuhan muncul dan terdengar di dalam ruangan. Tetapi mereka langsung terdiam, ketika suara tembakan terdengar membahana di seluruh ruangan. Dengan patuh, manusia vampire kembali diam dan melihat ke atas stage dengan tatapan ketakutan,

__ADS_1


"Prok.., prok..., prok..." tiba-tiba Ravendra berdiri ketika semua tamu sudah kembali duduk di kursinya. Laki-laki itu bertepuk tangan sambil mengedarkan senyuman ke sekeliling ruangan. Tanpa diminta, Frederick Hendrick ikut berdiri di samping Ravendra. Laki-laki itu juga melakukan hal yang sama dilakukan Ravendra.


"Dor.., dor... dor..., duduklah manusia kotor..." terdengar teriakan meminta kedua orang itu untuk duduk kembali. Tiga kali tembakan diarahkan kepada Ravendra, tetapi dengan mengangkat tangannya yang sudah mengenakan sarung tangan khusus, dan dengan cepat menangkap peluru perak yang terarah pada mereka sambil tersenyum sinis.


Orang-orang yang mengenali Ravendra menahan nafas melihat keberanian Ravendra menangkap peluru perak tersebut. Mereka tidak tahu jika laki-laki itu sudah menyiapkan dirinya, dan sarung tangan yang dikenakan saat ini memang sudah disiapkan untuk menghalau senjata perak.


Melihat dengan tangkasnya tangan laki-laki itu menangkap peluru yang diarahkan kepadanya, suasana menjadi semakin ricuh. Beberapa pengawal Robin berlari ke depan untuk langsung memberikan serangan fisik pada Ravendra, tetapi beberapa orang segera melompat dan menghadang mereka. Rupanya orang-orang yang disiapkan Johan sudah datang dan berhasil masuk ke dalam ball room.


"Mohon semuanya untuk mengendalikan diri. Jangan nodai acara sakral ini dengan melakukan pertumpahan darah di ruangan ini. Mohon dengarkan semuanya." suara host kembali terdengar meminta semua hadirin untuk mendengarnya. Tetapi suara itu tidak ada yang mendengarnya, beberapa manusia vampire kembali membuat kekacauan seperti semula.


Pertarungan kecil-kecilan di pinggir ball room segera terjadi, dan dengan senjata yang lebih lengkap orang-orang Ravendra dengan mudah mengalahkan orang-orang Robin. Di atas stage, tidak diduga beberapa Rahib dan Robin sudah menghilang dari tempat tersebut. Tidak ada yang melihat atau mengetahui kemana larinya beberapa orang itu. Rupanya di bagian stage sudah tersedia sebuah pintu rahasia, sebagai tempat untuk melarikan diri jika terjadi sesuatu di atas stage tersebut.


Ravendra hanya tersenyum sinis melihatnya, laki-laki itu sudah sejak kecil mengenali dan memahami situasi yang ada di Barn Castle. Dengan gagahnya, tubuh laki-laki yang sudah menjadi manusia vampire yang tampan itu segera terbang melayang  menuju stage.

__ADS_1


***********


__ADS_2