
Thomas, Abraham. dan Nancy segera menuju ke arah pintu lift. Tetapi baru saja mereka berdiri di depan pintu lift tersebut, tiba-tiba pintu terbuka, dan seorang laki-laki muda tampak berdiri di depan mereka. Johan terlihat terkejut melihat ketiga orang yang ada di depannya itu, seketika laki-laki itu menjadi merasa gugup. Apa yang sudah dirancangnya sebelum turun dan sampai di tempat ini, seakan semuanya menguap begitu saja.
"Tuan Besar Abraham, Tuan Johan, dan Nyonya Besar Nancy... saya datang kesini untuk menjemput kedatangan kalian. Mari ikuti saya.." dengan gugup Johan menyapa ketiga orang di depannya itu. Laki-laki muda ini mengulurkan tangannya, dan menyalami ketiga orang di depannya itu.
"Okay.. betapa merepotkannya untuk datang ke tempat ini. Apa urusanmu datang untuk menjemput kami Johan.. apakah kamu tahu ada urusan apa dengan kedatangan kami ke hotel ini. Jika aku tahu betapa sulitnya untuk bertemu dengan gadis yang sedang hamil itu, sudah aku batalkan saja keinginanku." sahut Nancy terlihat kesal. Johan bingung mendengar perkataan perempuan paruh baya itu. Tetapi Abraham tersenyum, kemudian merangkul Nancy dan membawanya masuk ke dalam lift.
"Antar saja kami ke atas Johan.. aku yakin denganmu semua akan menjadi lebih mudah." Abraham menanggapi perkataan Johan. Sedangkan Thomas hanya tersenyum, kemudian laki-laki itu mengetik chat di ponsel untuk memberi tahu istrinya Sarah agar segera meluncur ke Pent House tempat ALexa dan Ravendra tinggal.
"Baik Tuan besar.. Untuk kedatangan, kita akan mampir ke pent house yang saya tempati, atau kita menuju ke pent house tuan muda Ravendra..?" Johan menanyakan tujuan mereka.
"What... apakah aku tidak salah dengar?? Pap.. akan dibawa kemana Mommy sebenarnya. Kenapa tiba-tiba Johan mengatakan jika kita akan berkunjung ke tempat Ravendra putra kita. Bukannya tadi papa janji, akan mengantar Mommy untuk menemui perempuan hamil itu.." mendengar perkataan Johan, Nancy terlihat kebingungan. Perempuan itu langsung berbicara keras pada suaminya.
"Iya Momm... tenanglah dulu. Nanti kita bicarakan di kamar Ravendra ya.. Terserah nanti apa yang akan Mommy lakukan disana.." Abraham menenangkan istrinya.
Johan dan Thomas saling berpandangan. kedua laki-laki itu bingung dengan apa yang dibicarakan oleh kedua orang pasangan suami istri itu. Nyonya besar Nancy memang dikenal sebagai seorang perempuan yang keras kepala, berpendirian keras. Sebagai keturunan dari orang terkaya di dunia, perempuan ini memang sering bertindak dan bertingkah laku seenaknya. Jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka tidak segan-segan, perempuan ini akan membuat ulah. Hal inilah yang sebenarnya sedikit ditakutkan Thomas, khawatir jika perempuan ini akan menyakiti hati putrinya Alexa.
"Tring..." tidak lama kemudian, lift berhenti. Pintu lift terbuka, dan Johan sedikit bingung akan membawa pasangan suami istri itu kemana.
__ADS_1
"Ayo kita segera berjalan, aku yakin ALexa dan Ravendra ada di dalam kamar. Karena tadi, Ravendra sempat mengirim chat padaku, jika dia sudah berada di kamar dengan istrinya.." untungnya Thomas hadir seperti sebagai seorang penyelamat.
Ketiga orang di belakang Thomas terdiam, mereka kemudian berjalan mengikuti laki-laki itu menuju ke pintu kamar bangunan mewah yang ada di bawah roof top itu. Nancy terdiam, perempuan paruh baya itu seperti berpikir sesuatu, tetapi tetap mengikuti arahan suaminya yang terus memegangi pundaknya.
*********
Di dalam Pent House
Ravendra memeluk erat Alexa sambil duduk di atas sofa. Sejak tadi laki-laki itu tidak dapat menghilangkan rasa khawatirnya, ketika mengetahui jika Mommy nya sudah berada di lobby hotel. Tetapi.. upayanya untuk membawa kabur Alexa dari tempat ini tidak akan terlaksana, karena istrinya keukeuh untuk bertahan di tempat ini. Bahkan Alexa dengan santai mengatakan ingin mengenal mama mertuanya.
"Tidak ada apa-apa honey.. Hanya saja, kakak tidak bisa menghilangkan rasa khawatir yang menghantui. Honey belum tahu dan belum pernah mendengar bagaimana karakter dan sifat Mommy yang sebenarnya. Mommy bisa bertindak keras pada siapapun, apalagi jika merasa tidak mengenalnya. Aku khawatir.. Mommy akan melakukan hal yang sama kepadamu honey..." dengan mata berkabut, Ravendra memberi tahu istrinya tentang apa yang dirasakannya.
Alexa mengangkat kepalanya dari dada laki-laki itu, kemudian duduk dengan menegakkan badan. tatapan Alexa mengarah pada mata suaminya.
"Kak Ravend.. hilangkan perasaan khawatir kakak.. Percayalah.. Lexa akan menghadapi Mommy, dan yakin jika Mommy akan menyayangi Lexa menjadi menantunya. Kakak hanya perlu memberikan dukungan padaku.. jangan sampai aku berjuang sendiri.." dengan mata puppy eyes, ALexa merayu suaminya. Perempuan muda itu meraih telapak tangan suaminya, kemudian mengecup punggung tangannya. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya, muncul kehangatan di hati laki-laki itu.
"Okay.. okay.. baiklah honey. Kakak akan selalu membelamu, dan selalu mempertahankanmu. Kali ini, jika Mommy sampai bertindak keterlaluan, maka Ravendra tidak akan memaafkannya lagi.." ucap Ravendra akhirnya. Melihat keyakinan dan kemantapan hati istrinya, Ravendra akhirnya luluh. Keinginan untuk pergi dan kabur dari kota Batam, yang sejak tadi disampaikannya pada Alexa, akhirnya hilang menguar begitu saja.
__ADS_1
Tiba-tiba jari tangan Ravendra meraih dagu Alexa, keduanya saling bertatapan. Ravendra menurunkan wajahnya ke bawah, dan menaikkan dagu perempuan muda itu menggunakan telapak tangannya. Kedua bibir itu akhirnya saling bertaut untuk beberapa waktu yang lama.. Ravendra melepaskan pagutan di bibir istrinya, ketika melihat nafas ALexa sudah terengah-engah..
"Honey.. kekuatan nafasmu sudah mulai melemah nih.." goda Ravendra, sambil memegang kedua pipi perempuan muda itu.
"Aakhh kak Ravend sukanya seperti itu.. Yang nafas dalam tubuh Lexa bukan hanya satu orang kak.. ingat. Ada baby kita yang juga bernafas di dalam perut ini, berbarengan lagi.. Jadi harap maklum dong.. jika nafasnya ga bisa bertahan lama.." Alexa ngeles..
"Ha.. ha.. ha.., benar juga katamu honey.. Baru keinget jika ada baby nih, hari ini papa belum mengucapkan salam kepadanya.." tiba-tiba Ravendra kembali menurunkan kepalanya ke arah perut buncit Alexa. Laki-laki itu beberapa kali memberi ciuman pada perut istrinya, dan rasa geli muncul dalam diri Alexa.
"Selamat malam putra papa... bagaimana di dalam sana hangatkah?? Cepat keluar dong.. karena selama kamu di dalam sana, jatah papa terus berkurang. Mama sering menggunakanmu sebagai alasan untuk menolak papa.. kasihani papa dong sayang..." Alexa mengacak-acak rambut suaminya, kemudian menariknya ke atas.
"Iiih kak Ravend gombal.. Masih juga belum lahir, sudah dilatih untuk mendengarkan kebohongan-kebohongan.." alexa pura-pura kesal pada suaminya.
"Ha.., .. ha.. ha.., mama marah nih sayang.." sahut Ravendra sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tet.. tet.. tet.." tiba-tiba bel pintu berbunyi.
********
__ADS_1