
Alexa mengantarkan kepergian Ravendra sampai di depan pintu Pent House. Sebenarnya perempuan itu ingin mengantarkan suaminya sampai ke depan mobil, tetapi karena mengkhawatirkan istrinya, Ravendra melarangnya. Malas berdebat dengan suaminya, Alexa mengikuti apa yang dimaui oleh Ravendra. Di depan pintu, Ravendra memberikan kecupan ke dahi Alexa, kemudian merambat turun ke bibir perempuan itu. Terakhir sebelum benar-benar pergi, sebuah kecupan di perut Alexa diberikan oleh Ravendra.
"Jangan nakal ya guys.. papa berangkat kerja. Jagain mama, dan jangan buat ulah di dalam perut mama.." sebuah kata pamit diucapkan Ravendra untuk putra yang masih ada di perut istrinya. Alexa tersenyum mendengarnya, dan membiarkan suaminya mencoba menjalin kedekatan emosional dengan putra yang masih ada di rahimnya.
"Sudah kak.. nanti keburu siang, macet lagi." melihat suaminya tidak segera beranjak, Alexa meminta laki-laki itu segera berangkat.
"Jika sudah bermain dengan putra papa, aku suka menjadi malas untuk berangkat kerja. Okay.. aku berangkat honey.. Jaga dirimu baik-baik.. selalu kirim kabar jika kamu ada urusan di luar hotel ini. Biar nanti Johan kirimkan driver dan pengawal untuk menjagamu dan putraku.." sebelum melangkahkan kaki, ravendra masih memberikan kecupan di bibir Alexa.
"Oh ya kak.. sampai kelupaan. By the way... sekitar pukul sebelas, Lexa mau ke Goji Kitchen & Bar, di Harbour bay Down town. Rencana mau lunch dengan teman-teman kerja Lexa dulu. Boleh ya kak..?" dengan tatapan puppy eyes, Alexa meminta ijin pada suaminya.
Ravendra berhenti sebentar, dan terlihat sedang berpikir. AKhirnya melihat wajah nelangsa istrinya, yang sangat jarang memiliki me time selain dengannya, Ravendra menganggukkan kepalanya.
"Thank.s kak Ravend.. kakak memang suami yang paling mengerti, apa yang diinginkan istrinya." tanpa malu-malu, ALexa berjinjit kemudian memberikan kecupan di bibir laki-laki itu. Melihat keagresifan istrinya, Ravendra terkejut, dengan cepat laki-laki itu memagut bibir Alexa, dan terjadilah lagi ciuman yang panjang dan lama..
"Uhuk.. uhuk... hmmm... tahu dirilah kalau mau mengumbar kemesraan. Lihat dulu kanan dan kirinya, ada orang lain tidak disitu. Jangan bisanya hanya memancing kemarahan para jomblo saja.." tiba-tiba dari belakang Ravendra, terdengar suara Raveena yang memprotes kelakuan pasangan suami istri itu.
Melihat keirian adik kandungnya, Ravendra malah semakin memeluk erat Alexa. Dan laki-laki itu baru melepaskan tubuh istrinya, setelah Alexa berteriak memintanya untuk melepaskan.
__ADS_1
"Okay.. bye honey.. aku berangkat." akhirnya dengan tanpa menyapa adik kandungnya, Ravendra segera bergegas menuju ke arah pintu lift. Dari belakang, Alexa tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat sikap suaminya itu. Sedangkan terlihat Raveena cemberut melihat sikap dingin kakaknya,.
"Oh ya.. ayuk masuk ke dalam saja Veena.. kakak malas berada di luar. Mau jalan ke taman, jam segini pasti panasnya sudah mulai menyengat." melihat keberadaan adik iparnya, Alexa mengajak gadis itu untuk memasuki kamarnya.
Kedua perempuan itu akhirnya melangkah kembali ke dalam kamar. Raveena menutup pintu depan dengan perlahan, kemudian gadis itu duduk di atas meja makan.
"Kak.. Veena bikin kopi ya.. Kakak mau.. jika Veena bikinkan juice sekalian." melihat coffee maker, adik ipar ALexa langsung berdiri dan bermaksud untuk membuat hot coffee,
"Teh manis panas saja Veena.. kebetulan tadi sudah minum juice dibuatkan kakakmu.. Aku pindah di sofa saja ya, kursi meja makan ini terlalu tegak, perutku agak kurang nyaman jika duduk di atasnya." Alexa segera berjalan meninggalkan meja makan.
Tanpa menjawab. dengan gesit Raveena segera memproses biji kopi Robusta, sambil merebus dengan menggunakan ceret kecil.
*******
"Ini kak.. tehnya.." Raveena meletakkan cangkir berisi teh manis panas, dengan gula yang sudah dicampur oleh gadis itu.
"Thank you.. Veena." mencium aroma teh kesukaannya, Alexa segera mengangkat cangkir kopi, kemudian perlahan menyesap minuman itu secara perlahan. Setelah beberapa teguk, minuman yang sudah hangat itu membasahi tenggorokannya, ALexa meletakkan kembali cangkir ke atas meja.
__ADS_1
"Hmmm.. bagaimana hubunganmu dengan Johan.. Veena. Sudah jauh lebih baik kan..?" tiba-tiba ALexa bertanya tentang hubungan gadis yang duduk di depannya itu.
Mendengar pertanyaan dari kakak iparnya itu, Raveena merasa terkejut. Gadis itu memang belum memberi tahu pada siapapun, tentang kedekatan dan komitmen yang sudah diambilnya dengan Johan. Mereka berdua sepertinya menunggu waktu yang tepat, sehingga tampak kaget setelah mendapatkan pertanyaan itu.
"Tidak perlu kamu bersembunyi Veena.. Merupakan hal yang mudah untuk kakakmu Ravendra dan diriku mendapatkan informasi tentang hubungan kalian." sambil tersenyum, Alexa berseloroh pada adik iparnya.
Raveena tersenyum malu, gadis itu kemudian mengambil nafas dalam.. dan menghembuskannya lagi secara perlahan. Beberapa saat kemudian, Raveena memberanikan menatap wajah kakak iparnya, dan tatapan kedua perempuan itu beradu pandang. Alexa tersenyum, sambil menyelonjorkan kakinya ke atas sofa.
"Iya kak.. aku dan kak Johan sudah sepakat untuk menjalin komitmen. Tapi kak Johan berjanji, sebelum papa dan mama mengetahui hubungan ini, kak Johan tidak akan mempublikasikannya. Bahkan.. dengan ataupun tanpa adanya restu dari mama, kak Johan akan terus berjuang mempertahankanku." ucap Raveena lirih. Gadis itu menundukkan kepala sambil mengaduk gula di cangkir kopinya.
"Yakinlah Veena.. kamu bisa mengandalkan Johan. Sudah lama aku mengenal Johan, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Terkait dengan restu mama dan papa kalian.. huh.. " Alexa tersenyum getir.
"Sampai saat ini saja, kakakmu Ravendra belum mengenalkan kakak pada mamamu Nyonya Besar Nancy. Bagi kak Ravend.. yang penting kami bisa bersama, sudah merupakan hal yang cukup baginya." Alexa juga menjadi menerawang pikirannya. Bahkan, hanya sekedar satu lembar foto mama Nancy saja, sampai sekarang Ravendra tidak pernah memberi tahu padanya. Rupanya ada kesalah pahaman yang sangat mengenai hati laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu, sehingga belum bisa menerima keadaan mamanya.
"Sejak kecil, aku dan kak Johan sudah saling mengenal. Bahkan tidak jarang, laki-laki itu yang selalu menghiburku jika aku sedang mendapatkan masalah. Namun.. karena kak Johan tahu, jika aku mencintai dan sangat mengharapkannya, kebersamaan kami menjadi berakhir. Apalagi ketika kak Ravend memutuskan untuk keluar dari rumah mama dan papa, kak Johan ternyata lebih memilih untuk mengikuti kak Ravend." Raveena tersenyum kecut.
"Sudahlah gadis cantik.. itu sudah masa lalu. Lupakanlah.. yang penting, untuk saat ini kalian sudah berhasil untuk bersama." Alexa memeluk tubuh Raveena, mencoba menenangkan perasaan adik iparnya itu.
__ADS_1
*********