Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Melarikan Diri


__ADS_3

Robert akhirnya meninggalkan Raveena dan Alexa dengan bayi dalam gendongannya di dalam ruangan tersebut. Laki-laki itu segera keluar, dan berdiri di bawah pohon sambil menatap bangunan yang digunakannya untuk menyekap tuan muda Ravendra dan tuan Johan. Beberapa saat tatapan laki-laki itu kosong, dan helaan nafas terdengar.


"Tuan Robert.. apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Pesan yang tuan kirimkan lewat orang-orang kita sudah sampai di tangan istri dari Tuan muda Ravendra. Aku tidak menyangka, ternyata perempuan muda itu membawa bayinya untuk membebaskan suaminya." seorang anak buah bertanya pada Robert.


"Itulah yang mengganjal di hatiku Smith.. melihat perempuan itu sedang menggendong bayinya, aku teringat dengan istri dan putra putriku. Ada dimana mereka, laki-laki bertopeng itu sedikitpun belum memberikan kabar keberadaan mereka. Aku masih tergantung oleh hal itu Smith, sedangkan tuan muda Ravendra dan tuan Johan, mereka juga tidak akan mudah untuk dihadapi, jika sampai keduanya bisa membebaskan diri.." ucap Robert lirih.


Beberapa saat kembali keheningan terjadi di tempat itu. Keduanya tidak memiliki pilihan untuk mereka ambil saat ini. Keamanan dan keselamatan keluarganya, menjadi satu-satunya hal yang diinginkan Robert. Hanya membiarkan tuan muda Ravendra dan tuan Johan perlahan-lahan tubuh mereka mengering di ruangan itu, hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini.


"Bluammm.... jueglarr...." tiba-tiba terdengar ledakan tidak jauh dari tempat itu.


"Apa itu Smith.. cepat lihatlah. Pantau semua orang-orangku untuk bersiaga pada posisi mereka masing-masing.." mendengar suara ledakan itu, Robert seketika panik. Laki-laki itu segera memberikan perintah, agar Smih segera bersiap.


Robert sendiri segera berlari untuk melihat apa yang terjadi, sambil membawa senjata di tangannya. Seketika kekacauan di tempat itu menjadi meningkat, karena tiba-tiba terdengar ledakan di sisi tempat yang lainnya.


"Damn it... siapa yang melakukan itu.." Robert berteriak, sambil berlarian melihat apa yang terjadi.


*********

__ADS_1


Dari atas pohon yang tertinggi di hutan, Thomas melihat ke arah bubungan asap yang tinggi di sebuah tempat. Laki-laki itu berpikir sejenak, kemudian mengarahkan terbangnya menuju ke tempat tersebut. Dalam hati laki-laki itu berpikir, Alexa putrinya pasti ada di tempat itu. Hampir mengelilingi hutan, sejak tadi dirinya belum berhasil menemukan keberadaan Alexa dan cucunya.


"Sabarlah putriku Lexa.. Abhi cucuku. Papa akan segera sampai di tempat kalian berada.." ucap Thomas.


Laki-laki itu segera mengerahkan terbangnya ke tempat bubungan asap itu berada. Tetapi baru beberapa kilometer laki-laki itu terbang, tiba-tiba Thomas menghentikan langkahnya. Terlihat di depannya, beberapa manusia vampire sedang terbang menuju ke tempat yang sama dengan tempat yang akan dia datangi.


"Siapa mereka.. sepertinya mereka semua adalah manusia vampire. Berarti.. kepergian menantuku ada hubungannya dengan manusia vampire. Siapa yang berani mencari masalah dengan Ravendra.." Thomas berpikir. Matanya terus menatap ke arah manusia vampire yang dengan cepat pergi berlalu dari tempatnya berada.


"Tidak ada manusia vampire yang berani mencari masalah dengan Ravendra selama ini. Hanya Robin saja.. namun laki-laki itu sepertinya sudah tewas dalam pergolakan di Rumania. Apakah anak itu selamat.." kembali Thomas bermain dengan pikirannya.


Lama kelamaan, Thomas melihat ada beberapa bangunan di tengah hutan. Dua bangunan besar terlihat sedang terbakar, dan banyak orang ribut di bawahnya berusaha memadamkan api.


"Hmmm.. melihat cara kerjanya, sepertinya alat peledak ini seperti yang diciptakan oleh Sarah istriku. Apakah Alexa sudah berada di tempat ini, dan membawa beberapa benda ciptaan mamanya.." melihat pola asap yang ditimbulkan, dan rapatnya pengamanan di tempat itu, Thomas kembali berpikir.


"Putriku sangat cerdas, tidak akan mungkin dia berani menuju ke tempat ini sendirian tanpa bekal yang mantap, Apalagi sisi-sisi vampire dari putriku juga belum tergali. Aku tidak tahu, akan menjadi apa putriku, jika sisi manusia vampirenya sudah terbuka." lamunan laki-laki itu semakin kemana-mana.


"Padamkan semua apai, siapa yang melakukan ini. Apakah kamu berani berkhianat kepadaku Robert, karena sepertinya tidak mungkin jika tempat ini berhasil dicium oleh orang luar. Selain jika hal itu bersumber dari kebodohanmu sendiri." terdengar suara laki-laki yang berteriak keras.

__ADS_1


Dari posisinya berada, Thomas dengan jelas bisa mendengar apa yang sedang terjadi. Karena mulut laki-laki bertopeng itu tidak terlihat, suara yang keluar tidak bisa dikenali oleh Thomas. Seorang laki-laki muda tampak menyambut kedatangan laki-laki topeng itu.


"Saya tidak tahu tuan.. barusan saya juga mengumpulkan orang-orangku. Berusaha mencari tahu, kenapa hal ini bisa terjadi.." laki-laki bernama Robert itu berusaha untuk menutupi apa yang telah dilakukannya. memang sebenarnya, dirinyalah yang mengirim pemberi tahuan, dengan meminta anak buahnya mengantarkan surat untuk disampaikan pada ALexa. Tetapi tidak mungkin jika dirinya akan mengakui apa yang telah dilakukannya pada laki-laki bertopeng itu.


"Plakk.. dukk... bull ****.." sebuah tamparan diikuti pukulan menyambar rahang RObert.


"Ingat Robert.. apakah kamu tidak mendengar ancamanku. Saat ini juga, aku bisa mengirimkan perintah untuk menghabisi anak dan istrimu. Jangan kamu mencoba bermain-main denganku.." laki-laki bertopeng itu terlihat kalap.


"Jangan sakiti mereka tuan.. aku tidak berani membohongi tuan. Aku juga tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi, dan sebelum ledakan terjadi kami sudah berhasil menangkap dua perempuan. Saat ini, orang-orangku sudah menyekap mereka dalam sebuah ruangan.." mendengar ancaman yang dialamatkan untuk anak serta istrinya, Robert terlihat sangat ketakutan. Laki-laki itu segera menjatuhkan kakinya, bersimpuh memohon ampun pada laki-laki bertopeng itu.


"Antar aku kesana.. aku ingin tahu, Siapa kedua perempuan itu, yang sudah berani mencampuri urusanku. Hanya kematian yang pantas dan layak untuk mereka.." dengan suara tinggi, laki-laki bertopeng itu menarik tangan Robert.


Robert segera berdiri, dan dengan tergopoh-gopoh segera berlari memberi tahu jalan pada laki-laki bertopeng. Beberapa anak buah mengikuti mereka dari belakang, dan tidak ada seorangpun yang berani untuk berbicara. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai di sebuah ruang yang digunakan untuk menyekap Raveena dan Alexa.


"Dukk bluammm..." tanpa mau memegang handle pintu, laki-laki bertopeng itu menendang pintu ruangan dengan sekuat tenaga. Tidak lama pintu itu terbuka, namun betapa terkejutnya Robert dan anak buahnya. Ruangan itu terlihat kosong, tidak ada seorangpun di dalamnya.


********

__ADS_1


__ADS_2