
Akhirnya sebelum Johan dibawa pergi oleh ketiga laki-laki muda itu untuk menjalani hukuman, Johan menceritakan kejadian sebenarnya pada laki-laki tua yang dipanggil dengan sebutan father tersebut. Tetapi untuk tidka menjilat ludah sendiri, father tetap memerintahkan Johan dan kedua teman laki-lakinya untuk menjalani hukuman. Tanpa membantah, ketiga orang itu mengikuti orang-orang bertubuh gempal tersebut,
"Bagaiamana Tuan Johan.., apakah kita tidak akan melakukan tindakan apapun, dan mengikuti apa yang diucapkan oleh laki-laki tua tadi." dalam perjalanan, Jack bertanya dengan suara lirih pada Johan.
Johan tersenyum, melihat keindahan tempat yang tampak lapang di depannya, padahal posisi mereka di tengah hutan, menimbulkan rasa penasaran dan ketertarikan untuknya. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, senyuman terlihat di bibirnya.
"Kita akan melihat dan mengikuti mereka Jack.. Jangan khawatir, tidak akan menjadi hal yang sulit bagiku, jika aku ingin melarikan diri dari tempat ini. Tetapi aku ingin mengetahui, tambang apakah yang sedang digali oleh mereka. Sepertinya itu menjadi hal yang lebih menarik dalam perjalanan kali ini." Johan menjawab dengan senyuman di bibirnya.
"Baik Tuan Johan.., tidak masalah untuk kami. Kita sudah terbiasa berada di medan seperti ini, pemandangan disini masih jauh lebih baik, dari misi kita terakhir di Africa. Alam disana tidak begitu bersahabat dengan kita, masih jauh bersahabat di tempat ini." Johan menanggapi perkataan Johan.
"Cepat jalan.., jangan hanya berbicara saja di tengah jalan..!" melihat Johan sedang berbicara dengan ketiga temannya, terlihat salah satu dari orang-orang itu berteriak. Jack dan John merasa terkejut mendengar teriakan itu, tetapi dengan cepat Johan menepuk punggung mereka,
Johan tersenyum dan mengangkat tangan pada mereka bertiga, mengisyaratkan jika mereka tidak keberatan dengan hukuman yang akan mereka terima. Ketiga laki-laki itu berpandangan mata, mereka merasa heran, jika biasanya orang yang mereka temukan, dan kemudian diberikan sebuah hukuman akan merasa sedih dan tertekan, tetapi hal yang berbeda telah terjadi pada tiga orang yang mereka bawa.
Setelah mereka melakukan perjalanan beberapa saat, di balik sebuah bukit mereka menemukan sebuah tempat yang sudah banyak dilakukan penggalian. Rupanya tempat tersebut, merupakan tempat bahan galian yang ingin ditambang oleh orang-orang dalam suku hutan tersebut,
__ADS_1
"Jangan berhenti,.., teruslah masuk ke dalam!" teriak orang-orang itu.
Johan mengedipkan mata pada ketiga orang temannya, kemudian perlahan mereka memasuki tempat tambang tersebut. Terlihat di depan mereka sebuah pintu goa, dan orang-orang itu meminta Johan dan teman-temannya untuk masuk ke dalam. Bau udara pengap dan panas, menerpa tubuh para pengawal Ravendra, tetapi ketiga laki-laki itu sama sekali tidak merasakannya. Mereka sudah terlatih menghadapi kondisi yang sangat menyedihkan seperti itu.
Salah satu dari orang-orang itu menyerahkan kaca mata pelindung, dan beberapa peralatan pada Johan dan kawan-kawan. Tidak lama kemudian, sebuah kereta kecil datang di atas rel yang melintang di dalam goa tersebut.
"Masuk.., tidak perlu untuk tengok-tengok.." teriak dari mereka. Johan mengajak kedua rekannya untuk naik ke dalam kereta tersebut, kemudian perlahan kereta itu berjalan meninggalkan mulut goa, Banyak terlihat di depan mata mereka, orang-orang yang seperti memahat dinding goa, dan sebagian mengayunkan cangkul mereka untuk menggali batu di dalamnya.
**********
Mata Ravendra menyala merah, sudah seharian lebih mereka menggunakan waktunya untuk menemukan Alexa, tetapi gadis itu belum juga ditemukan. Salsa, Steven dan Ronald juga merasa ketakutan melihat reaksi dan ekspresi yang ditunjukkan oleh laki-laki itu. Mereka hanya menundukkan kepala, mencoba menunggu jika reaksi Ravendra sudah membaik. Orang-orang dari manusia vampire yang tinggal di hutan, juga sudah membantu laki-laki itu. Tetapi mereka juga belum yakin akan kehilangan Alexa.
Ravendra diam sejenak, sekali lagi laki-laki itu mencoba untuk mendeteksi Alexa dengan indera penciuman vampirenya, tetapi sepertinya ada kekuatan gaib yang menyelubungi tempat tersebut. Laki-laki itu tetap tidak dapat menemukan jejak keberadaan istrinya. Melihat apa yang dilakukan Ravendra, manusia vampire diam, tetapi mereka juga tidak berani menyela tindakan laki-laki itu.
"Baiklah aku menyerah.., sedikitpun aku tidak bisa menemukan jejak-jejak keberadaan istriku. Indera penglihatan, penciuman, bahkan pendengaran yang biasa dapat menangkap gerakan yang dilakukan Alexa, sedikitpun aku tidak bisa merasakannya kali ini." Ravendra berkeluh kesah, dan akhirnya menerima ajakan dari orang-orang itu.
__ADS_1
"Memang suku hutan memiliki peralatan untuk meredam kekuatan manusia vampire Tuan muda. Tetapi seperti yang pernah kami katakan, sebenarnya mereka adalah manusia yang baik, yang sangat peduli dengan lingkungan. Mereka tidak akan pernah membuat masalah, jika manusia asing tidak memberinya sebuah pilihan. Mari ikuti kami.." manusia vampire itu kemudian berjalan meninggalkan tempat itu, mereka menuju ke arah sungai dan air terjun.
Ravendra dan ketiga anggota timnya mengikuti di belakang manusia-manusia vampire tersebut. Mereka memang tidak memiliki pilihan lain, selain harus mengikuti manusia vampire tersebut. Hanya saja, jika Alexa berhasil ditemukan, tanpa ada perjanjian tertulis, Ravendra dengan terpaksa harus tunduk kepada manusia-manusia vampire itu.
Tidak lama mereka berjalan, manusia vampire berhenti sebentar, kemudian menatap pada Ravendra dan tiga orang temannya.
"Ada apa. kenapa kita berhenti disini..?" Ravendra bertanya dengan cepat.
"Tuan muda.., kita harus menaiki tebing ini untuk menuju ke atas. Karena keberadaan perkampungan suku hutan, berada di balik tebing ini. Masih ada satu bukit yang harus kita naiki, jika Tuan Muda berkenan, kita harus menggunakan kekuatan vampire untuk melalui tebing dan bukit tersebut. Tetapi bagaimana dengan mereka?" dengan perkataan lirih, manusia vampire itu berjalan mendekati Ravendra, dan menyampaikan maksud tujuannya.
"Heh..., bagaimana lagi. Keselamatan istriku merupakan tujuan utama bagiku, tidak penting bagi identitasku. Baik bantu aku membawa ketiga teman-temanku, aku yang akan bertanggung jawab untuk penjelasan kepada mereka bertiga." merasa tidak memiliki pilihan, Ravendra menyetujui usulan yang disampaikan mansia vampire tersebut.
Tidak menunggu, orang-orang dari manusia vampire itu tiba-tiba merubah dirinya. Kuku panjang mencuat di jari-jari tangannya, dengan urat nadi yang terlihat biru menyembul keluar. Mata manusia vampire itu berubah berwarna merah.
"Tuan muda... vam.. vam.. vampire..." Salsa, Steven dan Ronald berlari menghampiri Ravendra. Dengan kekuatannya, Ravendra menahan gerakan ketiga orang itu agar tidak bertubrukan dengannya.
__ADS_1
"Ikutlah.., tidak perlu bereaksi seperti itu. Pejamkan mata kalian, mereka akan menolong kita, bukan untuk mencelakakan kita.." Ravendra menenangkan ketiga anak buahnya. Ketiga orang itu saling berpandangan, dan dengan penuh ketakutan menatap Tuan muda yang berada di depannya.
**********