
Menjelang dini hari, Johan dan beberapa pengawal datang menemui Ravendra di ruang kerja yang ada di dalam kastil tersebut. Alexa sedang tertidur nyenyak di dalam kamar, sehingga pelan-pelan Ravendra berani untuk meninggalkannya. Untuk memastikan keamanan dan keselamatan gadis itu, dua maid ditugaskan untuk stand by di depan pintu kamar, dan balkon kamar yang digunakan Alexa istirahat. Tetapi mereka bukan sembarang maid, mereka di rekrut dan menjalani serangkaian pengetesan, dari cara mengoperasikan senjata api sampai bagaimana bisa bertahan hidup dalam tekanan,
"Bagaimana hasil penyidikan kalian tentang kastil yang ditempati Robin dan kawan-kawan?" Ravendra bertanya pada Johan, sambil mulutnya tidak berhenti menghisap batang rokok.
"Ternyata Robin mendapatkan donatur untuk operasi ini Tuan muda, sepertinya dari pengusaha terkenal yang ada di negara Turki. Anak gadis pengusaha tersebut jatuh cinta dan tertarik dengan penampilan Robin, sehingga untuk mempertahankan hubungan tersebut, papa gadis itu menggelontorkan dana trilliunan untuk gerakan ini. Hampir separo lebih, manusia vampire di Tranzylvania sudah masuk dalam perangkap laki-laki itu, dan didominasi oleh kaum muda, yang belum begitu mengenal sepak terjang Tuan muda." Johan melaporkan hasil penyidikan sementaranya.
"Tidak perlu kita membahas sumber dana untuk operasional Robin. Berapapun kekayaan pengusaha itu, tidak ada sepuluh persen dari total kekayaanku. Apakah kalian sudah menyelidiki, bagaimana kekuatan mereka? Kira-kira, teknologi apa yang berhasil mereka gunakan untuk berani mempengaruhi manusia vampire di seluruh dunia." Ravendra meremehkan temuan tentang sumber dana Robin. Laki-laki itu malah fokus pada permasalahan yang lainnya, yang tidak menjadi pembahasan mereka malam ini.
"Untuk teknologi, tim kita belum mampu menembusnya Tuan muda. Berdasarkan laporan, besok pagi pada pukul delapan pagi, komunitas itu akan mengadakan meeting di Bukhares. Pendukung Robin, dipastikan mereka akan datang semua, sehingga dapat dikatakan yang hadir pada pertemuan itu adalah semuanya pendukung RObin," Johan menambahkan,
"Pilih orang-orang terlatih kita, lengkapi dengan perlengkapan teknologi yang berfungsi sebagai alat perekam, dan tidak terdeteksi oleh peralatan apapun. Kita akan dapat menguping rencana apa yang akan dapat mereka hasilkan, sehingga kita dapat mengetahuinya dengan lebih awal." Ravendra membuat sebuah pengaturan.
"Baik Tuan muda.., untuk hadir dalam pertemuan besok, saya sudah mengatur orang-orangnya. Untuk mencegah, orang-orang itu mengenali kita dan kelompok kita, saya sengaja menugaskan orang baru. Saya sendiri yang akan memantau melalui hiden pesawat, dan setiap perkataan maupun pembicaraan yang terekam pada alat perekam, akan dapat kita dengarkan langsung. Kita memang harus lebih hati-hati dalam hal ini." Johan menanggapi perkataan Ravendra.
Laki-laki itu kemudian meletakkan peralatan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang di atas meja, Kemudian menyerahkan satu head phone ke tangan Ravendra.
__ADS_1
"Apa ini Johan..?" tanya Ravendra singkat.
Johan tersenyum, kemudian mengambil semacam lampu senter kecil. Laki-laki itu menyorotkan senter ke arah meja, dan terlihat sebuah benda yang sangat kecil tampak bersinar warna merah di atas meja,
"Inikah alat perekam yang kamu persiapkan Johan?? Not bad.." Ravendra langsung bisa mengenali alat perekam, yang tidak dapat dilihat melalui mata telanjang itu,
"Tuan muda tidak salah. Ini teknologi terakhir yang diciptakan oleh IT Team kita tuan muda. Para penyusup meeting, sudah kita bekali dengan peralatan ini. Kita tinggal memantau dan mendengarkan dari pesawat yang tersembunyi." ucap Johan bangga,
Kemudian mereka segera menyiapkan strategi yang lain, karena dalam sebuah operasi, mereka tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis strategi saja, melainkan, harus mencoba beberapa di antaranya.
********
Ravendra sudah bersiap, dan Alexa mengerutkan dahinya melihat suaminya sudah mengenakan pakaian dengan style melakukan petualangan. Gadis itu segera bergegas menggeser tubuhnya, kemudian beranjak turun dari sisi ranjang. Melihat keseriusan Ravendra, yang sampai tidak melihat kemunculannya di samping laki-laki tersebut, membuat keusilan gadis itu muncul. Alexa menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutup mata Ravendra dari belakang.
"Honey..., apa yang kamu lakukan sayang? Apakah kamu tidak melihat, jika suamimu pagi ini sedang menyiapkan sesuatu?" tidak diduga ternyata Ravendra mengetahui tindakan yang dilakukan Alexa. Karena kalau bukan Alexa siapa lagi, karena tidak akan ada satu orangpun yang berani usil pada laki-laki itu. Apalagi saat ini mereka hanya berdua berada dalam satu kamar yang sama.
__ADS_1
"Aaakh.. kak Ravend ga seru, masa segitu mudahnya menebak Alexa. By the way..., kakak mau kemana. Hari masih pagi, tetapi kakak sudah terlihat sangat wangi dan rapi?" merasa penasaran dengan dandanan suaminya, Alexa memberanikan diri untuk bicara.
Ravendra menghentikan aktivitasnya, kemudian tersenyum dan menengok ke wajah istrinya. Sebuah kecupan singkat dihadiahkan Ravendra di bibir ALexa, dan karena merasa masih bau belum membersihkan diri, pipi Alexa bersemburat warna pink.
"Kenapa pipimu berubah menjadi pink honey..?" goda ravendra.
"Alexa bau kak, belum mandi. Tunggu sebentar, Alexa akan membersihkan diri dulu." tanpa menunggu jawaban dari suaminya, perempuan itu melepaskan diri dari pelukan Ravendra, kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Ha.. ha.. ha..., belum mandipun kami pasti tetap cantik honey, dan akan selalu menjadi ratu di hatiku.." sambil tertawa lepas, Ravendra menanggapi perkataan Alexa.
Sepeninggalan Alexa, Ravendra berdiri akan meninggalkan gadis itu untuk bertemu dengan Johan. Tetapi tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya, teringat bagaimana peringatan yang disampaikan Alexa. Jika Ravendra sampai meninggalkan gadis itu, Alexa berjanji akan kembali ke Indonesia sendiri. Mengingat peringatan itu, akhirnya Ravendra duduk kembali, Setelah beberapa saat diam, akhirnya Ravendra melangkah menuju walk in closed untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan gadis itu.
Baru saja Ravendra akan melangkahkan kaki keluar dari walk in closed, ternyata Alexa sudah masuk ke dalamnya. Gadis itu tersenyum melihat keberadaan suaminya, karena begitu keluar dari dalam kamar mandi dan tidak melihat Ravendra, hati ALexa sudah sangat jengkel, Bahkan gadis itu berpikir jika Ravendra telah meninggalkannya sendiri. Ternyata semua hanya ketakutannya saja, karena saat ini suaminya sedang membantu menyiapkan perlengkapan.
"Segera kenakan pakaianmu honey.., aku akan menunggumu di meja makan. Kita hari ini ada janji dengan Johan, untuk bersama dengannya berada di silence jet. Ada meeting yang dilakukan Robin dan manusia vampire, kita sudah menyusupkan beberapa orang kita untuk mencuri dengar pertemuan itu. Kita harus segera bersiap untuk menuju kesana." sebelum keluar, Ravendra menyampaikan pesan pada Alexa.
__ADS_1
"Okay.., wait a minute. Tidak sampai tiga puluh menit, aku pastikan sudah akan menyusul kak Ravend di meja makan." sambil tersenyum manis, ALexa berjanji. Laki-laki itu tidak lagi menengok ke belakang, melainkan langsung melangkahkan kaki keluar dari kamar tersebut.
**********