
Kedua maid itu saling berpandangan, mereka tidak berani memberi tahu pada Nona Mudanya tentang kepergian Tuan Muda Ravendra. Tetapi tatapan penasaran Alexa, membuat kedua maid itu akhirnya luluh. Dengan kembali menundukkan kepala, mereka mencuri pandang pada gadis itu.
"Ada dimana suamiku..., kemana kak Ravend.. Kami ada sebuah pertemuan yang akan kita hadiri berdua, jadi kalian harus segera memberi tahu pada saya dimana keberadaan suamiku." dengan nada sedikit marah. Alexa terus mencecar kedua maid tersebut.
"Ampuni kami berdua Nona Muda.. Tuan Muda hanya berpesan pada kami untuk menjaga Nona Muda, bahkan Tuan Muda jiga memberi tahu kami agar tidak membiarkan Nona Muda untuk keluar dari kastil ini. Mohon mengerti pada kami Nona Muda..., hidup mati kami ada di tangan Nona Muda.." dengan menghiba, kedua maid meminta ampunan pada Alexa.
"Aku akan melindungi kalian berdua di depan suamiku. Tetapi katakan padaku, dimana suamiku saat ini berada?" kembali Alexa berkata dengan nada sedikit keras. Beberapa maid di lantai bawah, dengan penuh rasa takut, ikut melihat keadaan di atas. Tetapi mereka juga tidak mau membantu kedua maid yang saat ini sedang ditanya oleh Nona Mudanya.
Kedua maid semakin ketakutan melihat Alexa yang mulai marah, mereka hanya saling berpandangan dan kemudian menundukkan kepalanya kembali ke bawah. Melihat kedua maid itu terdiam, timbul rasa kecurigaan di hati gadis itu. Tanpa bicara lagi, Alexa membalikkan badan dan berjalan menuruni tangga untuk menuju ke lantai bawah. Kedua maid di lantai atas mengikuti langkah Alexa ke bawah, tetapi gadis itu sedikitpun tidak memperhatikannya. Sesampainya di lantai bawah, melihat kerumunan para maid yang lain, Alexa menatap mereka dengan pandangan marah.
"Apakah kalian juga akan berlaku sama, akan merahasiakan dimana keberadaan suamiku..?" tangan Alexa menunjuk pada para maid itu satu persatu. Para maid di lantai bawah giliran merasa ketakutan melihat reaksi yang ditunjukkan oleh gadis itu. Merekapun sama dengan dua maid yang ada di lantai atas. Mengingat pesan yang diucapkan Tuan Muda Ravendra kepada mereka, tidak ada keberanian untuk melanggar apa yang sudah dipesankan kepada mereka.
Melihat kediaman pada maid di lantai bawah juga, darah Alexa semakin mendidih dan mulai naik ke atas kepala. Gadis itu tanpa bicara bergegas kembali naik ke lantai atas. Tidak lama kemudian, Alexa sudah kembali keluar dari dalam kamar, dengan mengenakan tas selempang di bahunya. Semakin tidak ada kata dan kabar tentang keberadaan Ravendra, gadis itu seperti memiliki firasat pasti terjadi sesuatu dengan suaminya.
Para maid saling berpandangan, melihat Nona Muda yang harus mereka jaga kembali berjalan menuruni anak tangga. Tetapi begitu melihat Alexa berjalan dan mengarah ke arah pintu keluar, orang-orang itu langsung berlari untuk mengejar dan menghalangi gadis itu untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Ampuni kami Nona Muda.., tolong jangan tinggalkan kastil ini. Tuan Muda pasti akan memberi hukuman berat kepada kami, bahkan mungkin hidup mati kami, jika Nona Muda melangkah pergi meninggalkan kastil. Tolong Nona Muda..., pahami bagaimana perasaan kami!" para maid mengelilingi dan membungkukkan badan di depan Alexa.
Berpikir jika keamanan dan keselamatan Ravendra lebih penting, dengan sigap Alexa mengibaskan tangan para maid tersebut, kemudian melangkah cepat menuju pintu kelura dari dalam kastil. Tetapi baru saja Alexa akan membuka pintu, ternyata dari luar pintu sudah didorong. Terlihat Johan dengan wajah penuh kekhawatiran berdiri di depan pintu tersebut.
"Miss Alexa..., dimana Tuan Muda..?' melihat keberadaan Alexa di depannya, Johan langsung bertanya tentang Ravendra.
"Aku juga sedang mencarinya Johan. Untung kamu segera datang ke tempat ini, antar aku sekarang ke Santorini.., pasti kak Ravend meninggalkanku dan pergi ke tempat itu sendiri." Alexa langsung meminta Johan untuk mengantarkannya ke Santorini.
"Terkait hal itu sebenarnya yang ingin aku perbincangkan dengan Tuan Ravendra. Tetapi dari kemarin, aku tidak bisa melakukan panggilan masuk untuk Tuan Muda.. Tapi Miss..., ada baiknya Miss ALexa tidak mengikuti saya ke Santorini. Aku dna beberapa pengawal saja yang akan menemukan Tuan Muda disana." melihat respon yang ditunjukkan oleh Alexa, Johan menolak gadis itu untuk ikut serta.
"Baiklah..., ayo kita segera berangkat." Johan langsung membalikkan badan. Melihat Alexa mengikuti Johan di belakangnya, para maid berlari mengejar gadis itu dan Johan,
"Tuan Johan..., tolong pahami kami. Jangan ajak Nona Muda pergi untuk menyusul Tuan muda ke Santorini. Nyawa kami bisa menjadi taruhannya, tolong kami Tuan..." beberapa maid mencoba untuk melarang Johan membawa pergi Alexa.
"Itu urusanku..., kembalilah bekerja ke posisi kalian masing-masing. Aku yang akan bertanggung jawab jika Ravendra memberi teguran pada kalian semua." dengan nada tegas, Johan memberi pengertian pada para maid tersebut. Mereka saling berpandangan, dan akhirnya seorang maid yang terlihat sudah berumur akhirnya mengajak para maid lainnya untuk meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Johan langsung menuruni beranda kastil, dan langsung menuju ke tempat mobil diparkir dengan Alexa di belakang laki-laki tersebut. Beberapa pengawal terlihat membungkukkan bada memberi hormat pada Johan dan Alexa.
"Kirim beberapa orang untuk melakukan penjagaan di sepanjang perjalanan. Pusatkan di titik lokasi Santorini, nasib Tuan muda ada di tangan kita." dengan nada bicara tegas, Johan memberi perintah pada beberapa pengawal tersebut. Para pengawal itu melihat ke arah Alexa, karena mereka mendapat pesan dari Tuan Muda Ravendra untuk tidak membiarkan gadis itu keluar dari dalam kastil.
"Tapi Tuan Johan..., bagaimana dengan Nona Muda?? Kami mendapat perintah dari Tuan Muda, untuk tidak memberi ijin pada Nona Muda untuk keluar dari kastil ini." dengan muka takut, pengawal itu menyampaikan pesan dari Ravendra.
"Aku yang akan bertanggung jawab atas Nona Muda. Apakah kamu yakin bisa menahan agar Nona Muda tidak memberi perlawanan kepadamu.., jika kamu menolaknya untuk pergi keluar?" Johan mengambil alih tanggung jawab jika Ravendra marah dengan perginya Alexa.
Akhirnya tidak lama kemudian, Alexa masuk ke dalam mobil dengan diikuti Johan. Di dalam mobil, Johan memberikan sebuah rompi kepada gadis itu, kemudian juga memberikan sebuah senjata api kepadanya.
"Apa ini Kak..?" melihat barang yang baru pertama kalinya dilihat dengan mata kosong, Alexa bertanya pada laki-laki itu.
"Kita sedang tidak berada di Indonesia, kita berada di negara asing. Senjata api bukan merupakan sesuatu yang tabu untuk dibawa di negara ini. Peganglah untuk berjaga-jaga, dan jangan lupa kenakan rompimu. Karena kita akan menghadapi situasi yang tidak bisa kita prediksikan terjadinya." dengan tegas, Johan memberikan penjelasan pada gadis itu.
************
__ADS_1