Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Pencegatan


__ADS_3

Beberapa saat Alexa bertahan di rumah Bibi Cathy, dan Thomas sudah memberi isyarat agar putrinya segera berpamitan untuk meninggalkan tempat tersebut. Beberapa masakan khas Rumania seperti Ciorba de Burta, Mititei,  Mamaliga  yang disuguhkan oleh perempuan tua itu sudah habis mereka santap. Bahkan Alexa juga sudah membantu Cathy untuk membersihkan tempat mereka menikmati makanan. Merasa sudah memenuhi janjinya untuk berkunjung ke rumah itu, Alexa kemudian mendekati Bibi Cathy untuk menyampaikan maksud, dia akan pergi dari tempat tersebut.


"Bibi.., karena keberadaan kami sudah lumayan lama di tempat ini. Kami mohon pamit Bibi.., karena masih ada urusan yang belum kami selesaikan hari ini." dengan suara pelan dan berhati-hati, Alexa menyampaikan maksud pada perempuan tua itu.


Perempuan tua itu memandang Alexa tanpa berkedip, sangat jelas terlihat jika perempuan itu merasa belum mau ditinggalkan oleh mereka. Rasa kesepian yang sudah puluhan tahun dirasakannya, terasa belum hilang dan terobati dengan kedatangan Alexa yang hanya sebentar saja,


"Tidak bisakah sesaat lagi kalian menungguku, menemaniku disini.." dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu mengajukan permintaan.


Melihat sikap dan perilaku Bibi Cathy, Alexa tersenyum. Perempuan itu mengangkat tangannya kemudian meletakkan di atas tangan Bibi Cathy. Telapak tangan perempuan tua itu sangat dingin, tapi ALexa mengabaikannya.


"Kami tadi meninggalkan pekerjaan kami untuk menemani Bibi Cathy pulang. Jika kami tidak segera pulang, pekerjaan kami akan terbengkalai, dan jika suami Alexa tahu.. maka hanya akan ada kemarahan. Selain, itu selamanya suami ALexa akan melarang pertemuan selanjutnya." dengan sabar, Alexa menjelaskan alasan pada perempuan tua itu.


Nyonya Sarah tersenyum, dan menatap ke wajah suaminya. Keduanya saling menganggukkan kepala, dan kembali melihat interaksi putrinya dengan perempuan tua itu.


"Apakah benar begitu..?" perempuan tua itu seperti meragukan perkataan Alexa, tetapi Alexa menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Setelah beberapa saat.., sepertinya perempuan tua itu sudah mulai bisa mengendalikan dirinya,

__ADS_1


"Baiklah cucuku.., tapi ingat disini juga merupakan rumahmu. Jangan kamu lupakan jalan untuk kembali pulang kesini. Jika kamu melupakan nenek, maka nenek akan sangat sedih.., dan menghilangkan diri selamanya sepertinya akan menjadi pilihan yang tepat, untukku yang sudah berusia senja ini." akhirnya setelah mengambil nafas, Cathy mengijinkan kepergian perempuan yang dianggap cucunya itu.


"Terima kasih nek.., baiklah kami segera pamit pulang." Alexa langsung menanggapi perkataan nenek.


Tanpa mau membuang waktu, begitu perempuan tua itu memberikan ijin, Thomas segera berdiri dan menarik tangan Alexa dan Nyonya Sarah untuk berjalan keluar. Dengan sigap, para pengawal segera memberikan pengawalan untuk mereka. Ketiga orang itu dengan beberapa pengawal di sekitarnya, segera menghampiri mobil yang sudah dalam keadaan mesin menyala.


"Alexa.. tidak perlu kamu menengok ke belakang lagi. Semakin kamu melihat kembali ke belakang, maka kamu akan semakin enggan untuk pergi dari sini. Rasa iba pada perempuan tua itu akan selalu mengajakmu untuk kembali kesini." melihat gelagat putrinya yang akan menoleh ke belakang, dengan tegas Thomas memberi peringatan padanya. Alexa langsung tergagap, dan kembali mengalihkan pandangan ke depan menuju mobil yang sudah menunggu mereka.


Sebagai seorang ibunda, Nyonya Sarah segera merangkul bahu Alexa dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian, Thomas segera menyuruh driver untuk menjalankan mobil ke depan.


********


Tanpa diketahui rombongan yang dibawa ALexa, sekelompok orang melihat kedatangan mereka menuju rumah Cathy. Orang-orang itu sengaja mengintip mereka sejak memasuki halaman rumah Cathy, setelah mereka mendapatkan laporan akan kedatangan Alexa dan rombongannya untuk mengantarkan perempuan tua itu.


"Apakah aku tidak salah melihat laki-laki yang berjalan bersama dengan perempuan muda itu?" salah satu orang yang berada di atas pohon mengajak temannya yang lain berbicara. Orang-orang yang berada di atas pohon melihati rombongan Alexa yang sudah memasuki mobil.


"Laki-laki yang berjalan sejajar dengan perempuan muda itukah. Hmm..., benar katamu, aku juga tidak asing dengan wajahnya. Bagaimana dengan bengisnya, laki-laki itu membumi hanguskan pemukiman kita. Kemudian tanpa belas kasihan meninggalkan kita tanpa pertolongan.." dengan sinar mata penuh dendam, salah satu temannya menyahuti.

__ADS_1


"Iya.. aku masih mengingat nama laki-laki itu. Laki-laki itu bernama Thomas.. Atas perintah Tuan Besar Abraham.., laki-laki itu sudah datang dan memberikan ancaman kepada kaum kita. Sepertinya saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menuntut balas pada mereka. Kita balaskan dendam keluarga kita, harus kita tunjukkan jika kita bukan merupakan sekelompok orang-orang yang lemah, yang dengan mudah menerima tindakan penindasan dari mereka." seketika keadaan di atas pohon yang semula sepi, menjadi penuh pembicaraan penuh kebencian.


"Ayo kita bersiap.. kita cegat mereka di ujung sana. Pohon-pohon disana sangat rapat dibandingkan tempat lainnya, orang yang tidak biasa berada di hutan ini akan mudah tersesat." salah satu dari mereka segera mengajak temannya yang lain.


"Apakah di antara kita ada yang membawa senjata untuk membuat perhitungan pada orang-orang itu?" salah satu mengingat persiapan untuk menghadapi rombongan Thomas.


"Aku membawa bom yang semula akan kita berikan pada Bibi Cathy. Kita bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan perempuan tua itu. Cepatlah.., kita harus segera berangkat." Dengan cepat mereka meluncur, menuju tempat yang mereka sebutkan tadi.


*********


Seperti orang kesetanan, Johan mengemudikan mobil jeep dengan kecepatan penuh. Laki-laki itu tidak mau menjadi orang yang pertama kali akan dipersalahkan, jika terjadi sesuatu dengan Alexa. Sebenarnya Ravendra sudah mengingatkannya untuk mengawasi Alexa secara langsung. namun.., karena merasa jenuh, maka dia menyampaikan jika Alexa sudah dalam pengawasan orang-orang terbaiknya. Bukannya meragukan orang-orangnya sendiri, tetapi Johan merasa sedikit kurang yakin dengan hal tersebut.


"Apakah aku akan menunggu di tengah hutan saja, tanpa mendatangi lokasi yang didatangi Alexa." sambil menyetir, laki-laki itu berbicara sendiri. Tangannya dengan lincah memutar kemudi, dan kakinya menginjak pedal gas dan rem secara seimbang.


"Uuuukk... aaaak.. uuukk... aaakk..." suara binatang hutan terdengar memecah kesunyian hutan. Banyak monyet berkeliaran dari satu dahan pohon ke pohon yang lain. Tetapi membaui jika yang lewat adalah manusia vampire, binatang-binatang itu tidak berani untuk menganggunya,


Merasa sudah mendekati tempat yang akan dituju, Johan mengurangi laju mobilnya. Laki-laki itu memang sudah memutuskan jika tidak akan mendatangi Alexa, namun hanya akan melakukan pengawasan di lokasi yang paling rawan di hutan tersebut, Setelah menghentikan mobil, laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan dia bisa merasakan jika ada beberapa manusia vampire yang berada di tempat tersebut. Tetapi Johan tetap tenang, dan berpura-pura tidak melihat keberadaan mereka.

__ADS_1


********


__ADS_2