
Nyonya Besar Nancy memeluk putrinya Raveena yang sudah lama pergi dari rumah tanpa pamit. Perempuan paruh baya itu sampai tidak bisa berkata apa-apa, dadanya terasa sesak saking merasa bahagia, dapat menemui kebahagiaan pada saat yang sama. Tuan besar Abraham juga melihat putrinya dengan mata berkaca-kaca, laki-laki tua itu berpikir ada kesalahan dalam pola asuh putra putrinya. Mereka meninggalkan keluarganya, karena berselisih pendapat dengan Mommy mereka.
"Bagaimana kabarmu putriku Veena.. maafkan Mommy yang selalu menjadi penuntut bagi putra putri Mommy sayang. Jangan tinggalkan papa dan mommy lagi, semuanya bisa kita bicarakan." air mata membanjir di pelupuk mata Nyonya Besar Nancy. Begitu juga dengan Raveena, gadis muda itu juga perlahan menyadari kesalahannya sudah pergi meninggalkan keluarga.
"Papa... Veena kangen dengan papa.." setelah melepaskan pelukan dari mommy nya, Raveena memeluk erat Tuan besar Abraham. Laki-laki itu mengusap-usap rambut kemudian turun ke punggung gadis itu. Beribu perasaan bercampur aduk pada diri dua orang itu, mereka hanya mengungkapkan lewat pelukan dan tangis kebahagiaan.
Beberapa saat kemudian, tuan besar Abraham melepaskan pelukannya pada putrinya, dan membiarkan Raveena duduk di samping istrinya Nancy. Laki-laki tua itu menghapus air mata yang masih menggenangi kelopak matanya, sambil tidak berhenti memandang dan memperhatikan putrinya.
"Selama ini kamu tinggal dimana sayang... Mommy dan papa sampai tidak bisa menemukan keberadaanmu. Jika pengawal papa mengirimkan informasi tentang keberadaanmu, kami datang untuk menyusul, namun kamu sudah kembali hilang dan tidak ada di tempat itu lagi.." dengan suara serak, Nancy menanyai keberadaan putrinya.
Raveena tersenyum kecut. gadis itu sebenarnya merasa malu dengan apa yang dilakukannya. tetapi paksaan dan tuntutan dari Mommy nya sangat sulit untuk ditolaknya. Kemarahan terakhir, karena Nyonya Besar Nancy memaksakan kehendaknya agar Raveena mau menjalin hubungan dekat dengan putra dari teman Mommy nya, seorang bangsawan dari kerajaan Belanda. Merasa tidak bisa menjinakkan Mommy nya, pergi dan kabur dari rumah menjadi pilihan terbaik bagi gadis muda itu.
__ADS_1
"Veena tidak kemana-mana Mommy.. Terakhir Veena datang berkunjung ke negara Rumania dengan harapan dapat menjumpai kak Johan. Dan ketika Veena datang ke kastil kak Ravendra.. ternyata kakak dan kakak ipar akan kembali ke negara ini. AKhirnya Veena ikut ke negara ini bersama mereka Mommy, dan selama di kota ini, Veena tinggal berdua di kamar kak Johan.." tanpa merasa takut akan kemarahan kedua orang tuanya. Raveena menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Gadis muda itu memang sudah nekad untuk mengakui dan membuka semuanya. baginya muncul ijin dan restu dari kedua orang tuanya tentang hubungannya dengan Johan, atau tidak sama sekali. Bahkan pilihan untuk mengakhiri hidup abadinya sebagai manusia vampire, rela dia lepaskan asalkan bisa bersama dengan Johan.
'What.. kamu tinggal bersama dengan Johan ... Veena. Apakah Mommy tidak salah dengar..?" seperti dugaan Raveena, mendengar jika putrinya tinggal bersama dengan laki-laki yang menjadi asisten pribadi dari putra laki-lakinya, wajah Nyonya besar Nancy terlihat marah. Wajah putih itu menjadi agak kemerahan, dan tuan besar Abraham memegang punggung perempuan paruh baya itu sambil mengusapnya ke bawah secara perlahan.
"Ya mommy.. semua yang Veena ucapkan merupakan sebuah kebenaran. Jangan salahkan kak Johan, semua yang salah berawal dari kenekadan Raveena Mommy. Berulang kali kak Johan sudah menolak kehadiran Veena dalam hidup kak Johan, namun Raveena tetap memaksanya untuk bersama. Bahkan jika ijin serta doa restu dari mommy dan papa tidak ada, kami berdua akan mengakhiri hidup kami secara abadi." dengan keberanian, Raveena mengancam kedua orang tuanya.
Johan terkejut dengan pernyataan yang dibuat oleh gadis yang sudah membuat komitmen dengannya itu. Laki-laki itu segera menghampiri mereka bertiga, kemudian memeluk Raveena dari belakang. Tampak kekompakan dari sikap mereka berdua, dan Nyonya besar Nancy tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba Raveena berdiri, kemudian memeluk laki-laki itu dengan erat, seakan tidak mau saling melepaskan. Tuan besar Abraham mengambil nafas panjang, laki-laki tua itu lebih bisa menerima dan memahami perasaan yang dimiliki oleh putri dan asisten pribadi putra laki-lakinya itu. Namun.. nyonya besar Nancy masih belum mau membuat pernyataan apapun, pasangan muda itu bersimpuh di depan kedua orang tua itu.
__ADS_1
Rasa haru menyelimuti ruang tengah Pent house Ravendra. Tidak ada yang memberikan suara, bahkan Nyonya Sarah dan Tuan Thomas serta Lili hanya terpaku diam, tidak mampu berbicara apapun. Mereka seperti terbawa arus suasana, dan sangat mengasihani Johan dan Raveena. Dari dalam kamar, sambil memegang dan mengusap perutnya, Alexa berjalan keluar dan berdiri di samping Ravendra.
"Kak.. bantu mereka, kasihan Johan dan Raveena. Mereka tidak bersalah kak.. karena memang kita tidak bisa menolak dan menghindar ketika perasaan itu datang.." Alexa berbicara lirih pada Ravendra. Laki-laki muda itu menatap wajah istrinya, kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Johan... Raveena.. bangunlah. Jangan sekali-sekali merendahkan harga diri kalian untuk meminta ijin dan restu dari hubungan kalian berdua. Aku Ravendra.. putra tertua dari papa Abraham, dan mommy Nancy memberikan restu untuk hubungan kalian berdua. Jikapun kalian akan melegalkan hubungan kalian di mata agama dan pemerintahan, aku akan menjadi wali kalian... Bangunlah.." suara tegas Ravendra, tiba-tiba memenuhi ruangan itu.
Raveena terkejut, gadis muda itu mengangkat wajahnya ke atas kemudian berdiri. Namun.. Johan masih tetap dalam posisi bersimpuhnya. Rupanya anak muda itu tidak mau berdiri jika belum mendapatkan doa restu dari kedua orang tua Raveena.
"Johan.. dengarkan perintahku anak muda.. Tidak ada manfaat dan gunanya kamu bersimpuh seperti itu, Raveena tetap akan menjadi milikmu.." Ravendra berteriak meminta agar Johan bangun dari posisi terakhirnya. Namun laki-laki muda itu tetap keukeuh dan tidak mau mengangkat kakinya dari atas lantai.
Tuan besar Abraham melihat anak muda di depannya dengan penuh perasaan campur aduk. melihat tekad besar laki-laki muda itu untuk membahagiakan putrinya, muncul rasa bahagia dan sekaligus rasa iba di hati laki-laki tua itu. Tanpa disadari, tuan besar Abraham memegang kedua pundak Johan, kemudian mengangkat tubuh anak muda itu agar sejajar dengan dirinya.
__ADS_1
"Hentikan apa yang sudah kamu lakukan anak muda... aku sudah mengenalmu sejak mamamu mengandung, dan melahirkanmu. Aku papanya Raveena memberikan restu untukmu Johan.." tuan besar Abraham memeluk erat tubuh anak muda itu. Kembali air mata kebahagiaan menetes di sudut mata laki-laki tua itu. Beberapa saat kemudian, melihat suaminya sudah menerima kehadiran Johan dalan hidup putrinya, akhirnya Nyonya Nancy mengambil nafas panjang.
*******