Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Hilang Kabar


__ADS_3

Seperti yang sudah diucapkan pada kakak iparnya, tanpa berpamitan langsung, Raveena segera meninggalkan rumah Alexa di atas bukit Dangas itu. Gadis muda itu sudah tidak dapat menahan diri, apalagi membohongi perasaannya. Jiwa petualangan yang selama ini dilakukannya, menambah nyali Raveena untuk kembali melakukan perjalanan jauh lintas negara sendiri. Koordinasi dengan pilot dan pramugari sudah dilakukannya sejak tadi keluar dari kamar Alexa, sehingga mereka sudah siap menunggu gadis muda itu di airport. Penampilan Raveena kali ini sudah menunjukkan jika gadis ini siap untuk melakukan perjalanan jauh. Simple.. tidak ribet dengan segala barang bawaan.


"Selamat tinggal Abhimana keponakanku yang lucu dan menggemaskan, juga kak Alexa.." sebelum masuk ke dalam mobil, Raveena memandang ke bangunan rumah dengan arsitektur mengagumkan itu. Ada rasa berat dalam sudut hatinya untuk pergi dari rumah itu, namun kerinduan dan rasa khawatir pada keadaan suaminya, lebih kuat mendominasi perasaan Raveena.


Raveena tersenyum getir, kemudian tanpa memandang lagi ke belakang, Raveena segera masuk ke dalam mobilnya. Gadis langsung menginjak pedal gas, dan segera mengarahkan mobilnya menuju ke airport. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, Raveena akhirnya sampai di tempat keberangkatan penumpang. Karena ada ciri khas dari koleksi mobil Ravendra dan Johan, dengan cepat para pengawal mendatangi gadis muda itu, dan mengambil alih mobil tersebut.


"Selamat siang nona muda Raveena.. pesawat jet sudah siap untuk membawa nona muda. Pilot dan pramugari sudah siap menunggu nona muda di dalam pesawat.." pengawal yang berjaga disitu, segera memberikan laporan.


"Baik, terima kasih.." ucap Raveena singkat.


Gadis  muda bertubuh ramping yang mengenakan sepatu boots, jaket panjang dengan celana jeans ketat itu segera memasuki pintu keberangkatan. karena beberapa pengawal sudah mengondisikan terlebih dahulu perihal keberangkatannya, petugas imigrasi tidak begitu ketat melakukan pemeriksaan. Apalagi Raveena pergi dengan menggunakan pesawat pribadi, bukan dengan pesawat komersial.


Tanpa membawa barang bawaan, selain hanya tas punggung yang berada dalam gendongannya, Raveena melangkah mantap menuju ke landasan untuk melakukan boarding. Dua orang laki-laki yang akan menjadi pilot dan co pilot tampak menyambut kedatangan Raveena, dan ada juga satu pramugari yang menyertainya.


"Selamat datang nona muda Raveena, Saya Rafi dan ini Richard serta pramugari Sisca akan menemani perjalanan nona muda menuju ke Frankurft, dan ada beberapa negara yang nantinya akan kita singgahi untuk transit." Rafi sebagai pilot yang memimpin penerbangan menyapa kedatangan Raveena.


"Yap.. aku tidak butuh basa-basi, segera terbangkan pesawatmu.." Raveena segera berjalan masuk ke dalam tangga pesawat.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari nona muda putri Tuan besar Abraham, dan Nyonya besar Nancy.. membuat ketiga orang itu saling berpandangan. Tetapi sekilas tadi sudah dijelaskan oleh para pengawal, mengenai tujuan dan latar belakang penerbangan itu, ketiganya memaklumi tindakan gadis muda itu.


Setelah raveena masuk ke dalam, dengan sigap pramugari segera menutup pintu pesawat, dan pilot serta co pilot segera menempatkan diri di kursi mereka masing-masing. Tanpa ada pembicaraan maupun kata-kata lagi, akhirnya pilot segera menerbangkan pesawat dalam diam. Raveena langsung menyandarkan kepala di atas kursi, dan menyelonjorkan kakinya.


Sisca selaku pramugari segera menyiaplkan makanan dan minuman untuk Raveena, dan ketika melihat jika nona mudanya sedang tertidur, gadis itu hanya menyiapkannya di depan meja Raveena. Perlahan pramugari segera kembali berjalan ke depan, bergabung dengan pilot dan co pilot.


*********


Tuan besar Abraham kaget mendapat kabar dari orang-orangnya, mengenai kepergian putrinya untuk menyusul suami dan kakak kandungnya. Laki-laki itu terlihat geram, karena kepergian Raveena tanpa berpamitan kepadanya. Namun.. mengingat jika gadis itu putrinya sendiri, akhirnya laki-laki itu hanya menahan perasaannya.


"Kami hanya tahu kabar ketika tuan muda Ravendra dan tuan Johan masih berada di  Burg Frankenstein, Frankfurt. Tetapi sudah tiga hari yang lalu mereka berdua meninggalkan kastil itu, dan sudah menyusuri pegunungan Alpen. Sejak itu, sudah tidak ada lagi kabar mengenai keberadaan mereka.." sahut pengawal melaporkan.


Abraham terdiam, dan akhirnya laki-laki itu memaklumi tindakan yang dilakukan putrinya Raveena. Sebagai gadis yang sering bertualang di berbagai negara sendirian, tidak mungkin Raveena hanya akan duduk manis dan diam di pulau ini. Pasti dengan circle dan koneksinya, Raveena sudah menghubungkannya kembali untuk dapat mencapatkan kabar yang lebih pasti tentang keadaan suami dan kakaknya.


"Atur semua orang-orangku di negara Jerman, dan sekitarnya. Perintahkan mereka untuk melakukan penyelidikan, ada dimana posisi kedua putraku saat ini. Karena keberadaan putri menantu dan cucu serta istriku di pulau Batam, aku tidak bisa dengan mudah untuk pergi meninggalkan Singapore. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan mereka." Abraham menerawang, dalam diamnya laki-laki tua ini mengkhawatirkan keamanan keluarganya yang ada di negara ini.


"Siap tuan besar.. akan segera kami kondisikan.." pengawal itu langsung menyanggupi perintah itu.

__ADS_1


Abraham kembali terduduk diam, jika tidak mengingat istri, menantu dan cucunya berada di pulau Batam tanpa pengawasan, laki-laki sudah akan terbang ke Jerman untuk menyusul putranya. Tetapi keadaan kali ini sudah agak genting, apalagi peledakan gudang-gudang penting perusahaan Ravendra sudah terjadi di beberapa negara. Untung saja, perusahaan yang dimiliki putranya tidak hanya berada dalam satu bidang usaha saja, sehingga tidak mempengaruhi keuangan keluarga itu.


"Tuan besar.. ini print out laporan kerugian dari tiga perusahaan tuan muda Ravendra yang ada di tiga negara. Apakah tuan besar akan memeriksanya..?" seorang perempuan muda memberikan beberapa lembar kertas ke depan Tuan besar Abraham.


"Apakah tim audit perusahaan sudah menelaahnya, dan bagaimana komentar dari mereka." Abraham tidak menyentuh sedikitpun beberapa lembar kertas itu.


"Sudah diperiksa tuan besar. Rekomendasi yang sempat saya baca dan ingat, cash in flow masih lebih besar dari cash out flow. Hal itu juga sudah diperhitungkan dengan expenses untuk ganti rugi keluarga korban. Jadi.. kasus peledakan itu tidak begitu mempengaruhi operasional perusahaan secara keseluruhan." dengan cepat perempuan itu menjawab pertanyaan Abraham.


"Bahkan di law and legal division, ada beberapa permintaan kerja sama dari beberapa perusahaan besar, yang masih ditelaah lebih lanjut oleh tim hukum.." perempuan itu melanjutkan.


"Baiklah.. tapi bagian keuangan juga harus bersiap-siap untuk sementara melakukan penghematan. Kita tidak akan bisa melakukan suspensi mendadak, jika bidang-bidang usaha yang lain terkena imbas dari peristiwa ini," Abraham memberikan tanggapan.


"Siap tuan besar.." jawab perempuan itu singkat.


"Kembali ke tempat kerjamu, biarkan aku sendiri." dengan tegas, Abraham meminta perempuan itu untuk segera meninggalkannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2