
Alexa membalikkan badannya, da dua orang laki-laki tersenyum menatap Alexa, kemudian mereka mengerutkan dahi ketika melihat Abhimana yang digendong oleh perempuan itu. Mereka mungkin tidak menyangka, jika kedatangan Alexa dengan membawa seorang bayi yang seharusnya masih berada di rumah untuk beristirahat. Kedua orang itu saling berpandangan, seakan ragu untuk saling bertanya.
"Tuan.. help me please.. Keberadaanku disini dengan membawa putraku, tidak ada maksud buruk pada kami. Lihatlah wajah putraku yang masih polos ini, baru hampir dua bulan usianya, putraku ini hanya ingin bertemu dengan papanya. Please.. help me please.." dengan tatapan puppy eyes, Alexa mencoba mengetuk hati dua orang di depannya itu.
"Jangan membawa bayi dalam masalah ini. Bayi siapa yang kamu bawa kesini, dan untuk apa keberadaanmu di tempat ini.." laki-laki itu ternyata tidak mudah percaya. Keberadaan Alexa dengan Abhimana di tempat itu, malah menimbulkan tanda tanya bagi mereka.
"Saya tidah membawa masalah bagi siapapun. Bayi ini adalah putraku, dan kewajiban saya sebagai mamanya, untuk mempertemukan putraku dengan papanya. Dan aku mendapatkan kabar jika papanya putraku ini, sedang berada di tempat ini. Apakah aku salah.." Alexa terus mencoba mengambil hati dua orang itu.
Beberapa saat kedua laki-laki itu terdiam, Mereka saling berembuk dengan menggunakan bahasa Jerman, dan Alexa hanya memperhatikannya dari tempatnya berdiri.
"Wie... sollen wir glauben, was diese Frau gesagt hat?" salah satu laki-laki bertanya pada temannya, apakah bisa mempercayai ucapan Alexa.
„Ich weiß nicht, aber wenn ich das kleine Baby anschaue, schlägt mein Herz. Ich dachte plötzlich an meinen Sohn zu Hause.“ temannya menjawab, jika muncul rasa kasihan pada Alexa dan Abhimana. Laki-laki itu mengatakan, jika dia teringat dengan putranya yang ada di rumah.
„Aber wir sind diejenigen, denen Schaden zugefügt wird, wenn sich herausstellt, dass diese Frau uns nur anlügt.“
tiba-tiba kekhawatiran jika Alexa berbohong kepada mereka menghantui pikiran dua laki-laki itu.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu kembali menatap ke arah Alexa, kemudian melihat putranya Abhimana. Seperti membandingkan wajah keduanya, laki-laki itu seperti tidak mudah percaya. Dengan wajah terlihat bersedih, ALexa memberanikan diri beradu pandang dengan kedua laki-laki itu.
"Okay.. siapa yang kamu cari di tempat ini. Tuan Robert.. ataukah tuan laki-laki bertopeng yang sedang kalian cari. Jika untuk Tuan Robert.. sepertinya tidak mungkin, karena kami berdua mengenal keluarganya. Saat ini istri dan putra-putrinya sedang ditawan oleh laki-laki bertopeng itu." tanpa sadar, kedua laki-laki itu menceritakan identitas penyekap suaminya. Otak bawah sadar Alexa dengan cepat memproses informasi yang disampaikan oleh laki-laki itu,
"Bukan keduanya.. apakah kalian pernah mendengar identitas tuan Ravendra, aku adalah istri dan ini putra kami ABhimana. Kami dari sebuah kota bernama Batam di Indonesia, menempuh perjalanan jauh untuk menemukan suami dan juga papa putra saya. Informasi terakhir yang saya dapatkan, suami saya ada di tempat ini.." berusaha mengaduk-aduk emosional dua laki-laki di depannya itu, Alexa menceritakan asal usulnya.
Sebenarnya bisa saja, tanpa sepengetahuan mereka, ALexa melenyapkan dua laki-laki di depannya itu. Tetapi sepertinya, dua laki-laki itu masih bisa untuk diajak bekerja sama. Dengan sabar, sambil mengusap-usap Abhimana yang mulai terbangun, Alexa menunggu kedua laki-laki itu.
"Jangan banyak bicara.. ikut kami terlebih dahulu. Bukan kewenangan kami untuk menjawab pertanyaanmu.." dengan tegas, salah satu laki-laki itu menjawab pertanyaan Alexa.
*******
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendatangi ruangan tersebut, dan dengan cepat Alexa langsung membuka matanya. Untungnya Abhimana seperti mengetahui kesulitan yang dialami orang tuanya, bayi itu langsung menarik kembali mulutnya kemudian memejamkan matanya.
"Tuan Robert.. ini perempuan dengan bayi yang tadi kami ceritakan pada anda," terlihat satu laki-laki yang tadi berbincang dengannya datang dengan seorang laki-laki ke dalam ruangan itu,
Satu laki-laki lainnya tampak sedang memegang kedua tangan Raveena, dan membawa gadis itu ke dalam. Alexa pura-pura tidak mengenali Raveena, yang seakan memberi isyarat kepadanya.
__ADS_1
"Apa tujuan kalian berdua.. dalam satu hari, ada dua perempuan cantik yang berani masuk ke markas tersembunyiku disini. Siapa kalian.." laki-laki bernama Robert itu bertanya dengan nada tinggi. Alexa diam, gadis itu mencoba menunggu karena laki-laki itu belum jelas untuk siapa dia berbicara.
"Kenapa kamu diam, apakah kamu tidak memiliki mulut untuk berbicara.." ternyata karena Alexa diam tidak menjawab, laki-laki itu meneriaki Alexa.
Gadis itu spontan menengok ke arah ABhimana, untung putranya tidak terganggu dengan suara itu. Putranya terlihat masih memejamkan matanya.
"Maaf Tuan atas ketidak nyamanannya, saya juga mempertimbangkan keadaan putra saya yang saat ini sedang tertidur. Saya yakin, jika Tuan juga memiliki putra seusia anak saya, akan bisa memahami bagaimana sikap dan perilaku saya.." mendapatkan informasi dari dua orang yang menangkapnya tadi, Alexa menggunakan hal itu untuk membangkitkan rasa kasihan kepadanya.
Laki-laki itu terdiam sejenak, seperti ada yang menghantam perasaannya. Tetapi tidak lama kemudian.. dengan mata tajam, Robert menatap Alexa.
"Jangan mencoba bermain-main denganku.. apa tujuanmu kemari. Tempat ini tidak pernah menerima tamu tanpa ada pemberi tahuan dan ijin permisi dariku.." laki-laki itu bertanya pada Alexa.
"Aku bukan siapa-siapa Tuan.. jikapun aku membuka semua identitasku, aku yakin Tuan juga tidak akan mengetahuinya. Aku hanyalah seorang istri dan seorang ibu, yang ingin mempertemukan putraku dengan papanya. Karena tidak tahu jalan, dimana aku harus masuk dan meminta ijin, maka dengan lancang aku menuruni tebing untuk dapat mencapai tempat ini.." sambil tersenyum, Alexa menjelaskan kedatangannya ke tempat ini.
Alexa dengan satu tangannya membuka tas di pinggangnya, kemudian melemparkan sebuah amplop panjang ke depan Robert.
"Dengan diberikannya surat dan denah untuk menuju ke lokasi tempat ini, bagiku hal ini merupakan undangan untukku dan putraku. Saya harap Tuan memahami apa yang aku maksudkan.." ucap Alexa kembali mempertegas kata-katanya.
__ADS_1
Mendengar penjelasan ALexa, wajah laki-laki itu terlihat pucat. Tetapi dengan cepat, laki-laki itu mencoba menutupinya kembali. Laki-laki bernama Robert itu pura-pura menundukkan badan, dan mengambil amplop yang diletakkan oleh Alexa.
***********