
Alexa seperti biasa selalu datang ke tempat kerja lebih awal dari teman-teman yang lain. Gadis itu memang selalu berpikir untuk menikmati rutinitas hari-harinya, sehingga tanpa keluhan apapun, semua dilakukannya dengan hati ikhlas. Saat gadis itu sampai di kubiknya, terlihat sebuah bungkusan kado kecil di atas meja kerjanya. Tangannya terulur dan mengangkat kado kecil itu kemudian mengamatinya perlahan.
"Dari siapa ini..? Apakah dari kak Ravend, laki-laki itu terlalu sering memberikan kejutan untukku." ucap Alexa lirih. Senyuman perlahan muncul di bibir mungilnya, perlahan jari-jarinya membuka bungkus kado itu. Terlihat sebuah dark chocholate berada di dalam bungkusan itu, tetapi senyumannya langsung menghilang setelah Alexa membaca tulisan yang ada di balik pack coklat tersebut.
"Coklat murni untukmu gadis..., semurni perasaanku padamu. Love you.. Pram.." tanpa membukanya, Alexa langsung melempar bingkisan tersebut ke dalam tempat sampah di samping meja kerjanya. Dengan perasaan geram, gadis itu langsung duduk di atas kursi dan menyalakan perangkat komputernya.
Tanpa gadis itu sadari, seorang laki-laki berdiri mengawasinya di balik kubik gadis itu. Senyuman smirk muncul di bibir laki-laki itu. Alexa membuka kotak bekal yang dibawakan Nyonya Sarah, perlahan gadis itu menyuapkan potongan kentang ke mulutnya. Dia sama sekali tidak tahu jika ada laki-laki yang berdiri di sampingnya.
"Boleh nih sekali-kali dibagi sarapan paginya." Alexa merasa kaget, terdengar suara laki-laki yang terasa asing di telinganya. Gadis itu menoleh dan menengadahkan wajahnya, terlihat wajah Pram laki-laki yang selalu bersama dengan Miss Kathleen berdiri di dekat kubiknya. Merasa khawatir akan menjadi berita tidak benar di divisinya, Alexa berniat meminta laki-laki itu untuk segera meninggalkannya.
"Tuan Pram.. adakah kepentingan Tuan berada di ruangan ini? Ruangan ini bukan divisi Tuan, dan kita juga tidak berada pada satu garis koordinasi. Jadi saya rasa, salah sasaran jika Tuan Pram berada dalam ruangan ini. Apalagi
dengan keberadaan Tuan yang berdiri di samping kubik saya, jujur saya merasa keberatan Tuan Pram." dengan sangat halus, Alexa mengusir Pram. Tetapi bukan Pram si lady killer, kalau dia langsung pergi mendengar pengusiran dari Alexa.
"Jangan salah sangka Alexa.., saya hanya mau cek saja. Apakah coklat yang saya kirimkan untukmu sudah diterima atau dicicipi?" dengan muka yang tidak kenal malu, Pram menanyakan kiriman dark chocholate yang sejak pagi dia letakkan di meja kerja Alexa.
"Oh.. mungkin coklat itu yang Tuan Pram maksud?? Maaf Tuan.., saya pikir tadi ada sampah di atas meja saya, dengan terpaksa saya lempar ke tempat sampah. Dan pantang bagi saya Tuan, jika saya harus memungut kembali barang itu dari sana." dengan senyum licik, Alexa menunjuk tempat sampah di samping meja kerjanya. Melihat hal itu, muka Pram tiba-tiba terlihat merah. Tetapi dengan cepat laki-laki itu bisa menguasainya kembali.
__ADS_1
"Baiklah.., mungkin ada kesalah pahaman dengan bingkisan itu Miss Alexa . Jika kamu berkenan, bagaimana jika aku menggantinya dengan makan siang bersama siang ini di food court saja?" tanpa berhenti berupaya, Pram
mencoba mengajak Alexa untuk pergi makan siang.
"Bukan saya menolak Tuan Pram.., tapi saya tidak biasa keluar makan siang dengan laki-laki yang tidak saya kenal dengan baik. Jadi saya menolak ajakan Tuan, dan saya harap agar Tuan segera keluar dari sini, karena saya
harus segera menyelesaikan konsep design. Saya tidak akan menghabiskan waktu saya untuk bekerja lembur, sehingga saya tidak suka mengisi waktu saya untuk bergosip." dengan tegas Alexa menolak ajakan itu, dan juga mengusir laki-laki itu untuk segera meninggalkan ruangannya.
Dari arah pintu masuk terdengar suara orang bercakap-cakap sambil berjalan, rupanya Ronny memasuki ruangan bersama Irwan. Tatapan mereka langsung beradu pandang dengan Pram yang masih berdiri di depan pintu kubik Alexa. Tidak mau ribut dengan kedua rekan kerja Alexa, Pram langsung berjalan meninggalkan Alexa.
******
"Yah.., seperti yang kalian lihat. Mana bisa laki-laki penjilat itu menindasku.., baru saja dia kesini, aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Miss Kathleen. Tatapan perempuan itu seakan mau membunuhku gara-gara
laki-laki itu, aku juga tidak tahu apa alasan Pram datang kemari." Alexa menjawab kekhawatiran kedua rekannya itu.
"Apa sebenarnya yang dilakukan laki-laki itu disini? Apa dia mengganggumu?" Ronny juga menanyakan perihal Pram.
__ADS_1
Tangan Alexa menunjuk ke arah tempat sampah, dan melihat dark chocholate masih dalam packingan utuh, Irwan langsung mengambilnya. Laki-laki itu tersenyum melihat snack itu, kemudian menimang-nimang di tangannya.
"Snack berkelas ini, sayang jika hanya dimasukkan tempat sampah. Besok lagi jika ada delivery food, taruh mejaku aja Lexa.., aku siap untuk menghabiskannya." ucap Irwan sambil membuka bungkus coklat tersebut. Melihat ada makanan di tangan Irwan, Ronny menarik tangan laki-laki itu, dia berusaha merebut separo dari coklat tersebut. Alexa tersenyum melihat kegokilan kedua rekan kerjanya, dia hanya geleng-geleng kepala.
"Sudah deh.., aku mau mulai kerja dulu ya. Kalian sana.., segera kembali ke tempat kalian masing-masing. Jangan khawatir berlebihan padaku, aku bisa melindungi diriku sendiri." ucap Alexa sambil mendorong punggung Irwan untuk pergi dari kubiknya. Setelah dua orang itu meninggalkan kubiknya, tatapan Alexa kembali melihat pada screen yang ada di depannya. Tapi baru saja gadis itu akan konsentrasi, tiba-tiba..
"Bip.., bip.." ponselnya bergetar, dan sinyal berbunyi. Gadis itu langsung melihat ke arah layar, dan ternyata ada chat masuk dari Ravendra. Bibir Alexa tersenyum, sudah beberapa hari memang dia tidak ketemu dengan
laki-laki itu. Jujur gadis itu merasa kehilangan, tapi dengan cepat dia menetralisir perasaannya itu.
"Aku rindu kamu honey.., siang ini kita ketemu ya. Aku tunggu di base ment, kita makan di luar saja. Terlalu banyak gangguan, jika kita makan di roof top. Anak udik itu seperti tidak pernah mau lepas darimu, siapa itu namanya..
Johnny apa ya?" membaca tulisan pesan yang dikirim Ravendra, senyuman muncul di bibir gadis itu. Tiba-tiba pikiran Alexa melayang pada Johnny, teman barunya yang dia kenal ketika naik bis kota. Memang penampilan anak itu masih terlihat agak udik, tetapi biarpun begitu.., anak laki-laki itu sangat baik dan memperhatikannya. Membaca jika Ravendra menyebutnya sebagai anak udik, senyum lebar muncul di mulut Alexa.
"Okay.., tunggu aku di base ment kak. Sekarang Alexa mau menyelesaikan pekerjaan Lexa dulu. See you.." Alexa menanggapi chat yang dikirimkan Ravendra untuknya. Setelah memastikan terkirim, Alexa menyimpan ponsel di atas meja kerjanya. Gadis itu melanjutkan pekerjaannya kembali.
**********
__ADS_1