
Setelah Robin dan Tami berbasa-basi menceritakan kabar baik dan juga kabar buruk tentang anggota dari koloni mereka, akhirnya Tuan Arsent bertanya tentang siapa yang akan datang ke Transylvenia di Rumania. Negara itu memiliki sisi history yang sangat kental dengan koloni, karena dari sanalah semua vampire origin di seluruh dunia berasal. Kemunculan mereka kembali di negara itu, akan menunjukkan pada golongan kasta vampire yang lain, jika mereka masih eksis di dunia ini.
"Itulah yang ingin kami diskusikan dengan Daddy hari ini." Robin mengawali kalimatnya dengan hati-hati. Tuan Arsent melihat mereka dengan penuh tanda tanya.
"Maksud kalian apa? Ceritakan dengan jelas!" ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi, Tuan Arsent meminta mereka untuk memberi penjelasan.
"Pertemuan terakhir koloni kita di Singapura, menghasilkan kesepakatan jika Ravendra yang akan datang ke Transylvenia untuk mengambil kepemimpinan kaum kita. Memang pada saat itu, Ravendra tidak dapat datang di acara tersebut. Tetapi bukan itu berarti, seenaknya laki-laki itu mengatakan jika dia tidak akan mewakili koloni kita dalam setiap perhelatan akbar." Robin melanjutkan ceritanya tentang Ravendra.
"Hmmm..." Tuan Arsent bereaksi pendek. Hal itu menunjukkan jika cerita yang disampaikan belum lengkap.
"Saya dan Tami berkunjung ke mansion Ravendra di Star Hills pekan lalu. Kami akan mengkonfirmasi kesediaan laki-laki itu untuk kembali ke Rumania. Tetapi dengan tegas, Ravendra telah menolaknya." Robin mengakhiri ceritanya.
Tuan Arsent mengangguk-anggukan kepala, kemudian mengangkat salah satu kaki dan dinaikkan ke atas lutut kakinya sendiri.
"Adakah alasan yang digunakan oleh Alexander, kenapa dia menolak untuk berangkat? Aku mengenal laki-laki itu dengan baik, dia tidak akan pernah mengabaikan kepentingan koloni kita dibandingkan dengan kepentingannya
sendiri." Tuan Arsent masih memiliki pemikiran positif tentang Ravendra, laki-laki tua itu tidak langsung melakukan justifikasi.
Robin dan Tami mengambil nafas, mereka berdua saling berpandangan.
"Terakhir kali kita bertemu, Ravendra tidak memberikan alasan apapun Daddy. Tetapi asisten pribadinya Johan, mengatakan jika perusahaan mereka sedang membutuhkan perhatian dari laki-laki itu. Kami sebenarnya sedikit
__ADS_1
meragukan dengan alasan itu, karena..." Tami tidak melanjutkan perkataannya. Gadis itu akan menggunakan alasan Naura Alexa faktor penyebab, ketidak mauan Ravendra untuk menghadiri perhelatan akbar. Tetapi.., tiba-tiba
gadis merasa ragu.
"Lanjutkan perkataanmu Tami.., aku tidak suka orang berbicara hanya berhenti di tengah jalan!" Tuan Arsent berbicara dengan nada tegas, laki-laki tua itu memerintahkan gadis itu untuk melanjutkan perkataannya.
"Maaf sebelumnya Daddy.., ini baru perkiraan kami. Ada seorang gadis, yang ketika kami berkunjung ke mansionnya sedang berada di kamar Ravendra waktu itu. Sejauh ini kita tahu, jika Ravendra tidak akan pernah mau mengijinkan siapapun untuk masuk di ruang pribadinya. Tetapi gadis ini sepertinya berbeda... Kami
memiliki pemikiran, bisa jadi gadis itu yang menyebabkan Ravendra membatalkan niatnya untuk pergi ke Rumania." dengan suara lirih, Tami melanjutkan perkataannya.
Tuan Arsent mengambil nafas, laki-laki tua itu terlihat berpikir. Robin dan Tami hanya diam, tidak berani menyela dan mengganggu ketenangan laki-laki itu. Mereka menunggu beberapa saat, dan akhirnya..
"Kirim orang untuk menyelidiki siapa gadis itu.. Kita akan melihat perkembangannya nanti, apakah memang gadis itu yang menjadi penyebab tidak aktifnya Ravendra dalam perhelatan kaum kita. Jika memang ya, kita harus memberi peringatan pada mereka berdua." ucap Tuan Arsent, yang bagi mereka berdua seperti sebuah perintah.
Melihat sudah beberapa saat mereka berada di tempat ini, dan melihat jika laki-laki tua di depannya itu membutuhkan waktu untuk istirahat, Robin memberi isyarat pada Tami untuk mengakhiri kunjungan mereka.
"Daddy..., untuk sementara nanti saya sendiri yang akan menggantikan Ravendra untuk berangkat ke Rumania. Saya dan Tami sudah merasa cukup mendapatkan beberapa hal dari Daddy, sekarang kami berdua minta pamit untuk meninggalkan tempat ini." Robin mewakili Tami berpamitan pada laki-laki itu.
Tuan Arsent mengangkat tangannya, kemudian berdiri dan melangkahkan kaki meninggalkan kedua orang itu. Tidak lama kemudian, Robin dan Tami mengikuti laki-laki itu meninggalkan tempat tersebut.
**********
__ADS_1
Di perusahaan Andromega
Johan tergesa-gesa ingin segera menemui Ravendra. Beberapa saat lalu dia mendapatkan informasi dari Laura putri angkat Tuan Arsent, yang memberinya informasi jika Robin dan Tami baru saja berkunjung ke tempat tetua dari manusia vampire di negara itu. Kekhawatiran Johan adalah jika kedua orang itu menceritakan tentang keberadaan Alexa pada laki-laki tua itu. Bahkan jika laki-laki tua itu sudha berbicara, semua anggota vampire original akan mengikuti semua perkataannya.
"Untuk apa kamu mencariku Johan..?" tanya Ravendra tanpa melihat laki-laki di depannya itu. Mata Ravendra tetap fokus mengamati screen laptop yang ada di depannya.
"Maaf Tuan Muda.., hanya akan menyampaikan informasi. Baru saja Laura menelponku Tuan muda. Gadis itu mengatakan jika Robin dan Tami baru saja bertemu dengan Tuan Arsent. Saya khawatir Tuan Muda.." Johan akhirnya mengatakan informasi yang dia terimanya.
"Huh.., apa yang kamu khawatirkan? Naura..?? Itu akan jadi urusanku Johan.., apapun yang akan dilakukan Robin atau Tami.., mereka tetap tidak akan dapat memisahkanku dengan Alexa. Meskipun Daddy Arsent akan ikut campur, akuctetap tidak akan melepaskan gadis itu. Aku tidak peduli dengan kepemimpinan di manusia vampire.., siapapun yang berminat, silakan saja memimpin. Tidak harus aku.." satu sudut mulut Alexander terangkat ke atas, laki-laki itu mengarahkan pandangannya pada Johan.
"Apakah kamu tidak akan membantuku lagi, jika aku tidak akan menjadi pemimpin dari kaum kita..?" tiba-tiba Ravendra bertanya pada Johan.
"Kenapa Tuan Muda bertanya seperti itu pada saya..?? Akan menjadi orang yang tidak tahu terima kasih, jika saya meninggalkan Tuan Muda. Sejak saya kecil, sampai dengan sekarang, Tuan Mudalah yang selalu bersama saya,
mengangkat saya, dan memberikan posisi yang tinggi juga di perusahaan ini. Kemanapun Tuan Muda, dan dengan siapapun.., saya akan selalu setia pada Tuan Muda." dengan perasaan gamang, Johan menjawab pertanyaan Ravendra. Di luar itu semua, sebenarnya Johan menginginkan Ravendra untuk memimpin kaum vampire origin. Hanya laki-laki ini yang bisa berlaku adil, dan bijaksana dalam memperlakukan orang lain.
"Jika seperti itu.., apa yang kamu takutkan?? Hartaku tidak akan habis, bahkan di setiap negara.., banyak asset yang tercatat atas namaku Johan. Tanpa manusia vampire yang lainpun, kita masih bisa bertahan Johan. Bahkan.. jika kamu tahu, terkadang kebosanan datang menghampiriku. Aku ingin merasakan suatu proses menua dan akhirnya musnah kembali ke tanah, seperti manusia murni." ucap Ravendra pelan. Tatapannya menerawang.., tuntutan dari dalam hatinya itu, Ravendra sendiri terkadang susah untuk mengendalikannya.
"Jangan bicara seperti itu Tuan Muda.., akan menjadi sesuatu yang tidak baik. Apalagi jika ada kaum kita yang mendengar perkataan yang Tuan Muda ucapkan." Johan menyayangkan perkataan Tuan Mudanya itu,
Ravendra tidak mendengarnya, laki-laki itu masih menerawang. Sesekali keluar senyuman dari bibirnya yang merah itu.
__ADS_1
**********