
Ridwan menatap tajam pada Alexa, ketika melihat gadis itu turun dari mobil yang dikemudikan pemimpin mereka di perusahaan Andromega. Kilatan mata laki-laki itu tampak tajam mengamati gadis itu. Apalagi melihat posisi Alexa, yang turun dari kursi yang ada di bagian tengah, bukan turun dari kursi penumpang disamping pengemudi. Melihat posisi duduk gadis itu, seperti menandakan jika gadis itu memiliki posisi lebih tinggi daripada asisten pribadi dan juga wakil CEO perusahaan. Tidak lama kemudian, Ravendra mengikuti Alexa turun dari pintu yang ada di sebelah kiri, tanda tanya Ridwan semakin menguat.
"Alexa...," terdengar teriakan Aniss yang juga baru saja menuruni shuttle. Gadis itu langsung berjalan dengan memegangi salah satu kakinya.
"Aniss.., apa yang terjadi denganmu. Oh my God..., aku harap kamu baik-baik saja An.." dengan perasaan cemas, Alexa melihat ke arah Aniss yang berjalan dengan salah satu kaki kesakitan. Irwan berjalan di belakangnya dan membantu memegangi salah satu pundak gadis itu.
"Kemarin terjatuh Lex..., saat ada angin ribut disusul badai. Untung saja aku bisa menyelamatkan diri, jika tidak aku mungkin sudah tertimpa pohon besar." Aniss menceritakan kejadian yang sudah dia alami kemarin sore.
"Kamu kelihatan segar lexa.., sepertinya kamu baik-baik saja. Padahal Lexa..., jika kamu tahu, semalam Aniss dan Alana terus mengkhawatirkanmu. Mereka berdua bahkan berargumentasi dengan pemandu outbound, mereka memaksa mereka untuk mencarimu. Ketika mereka mengatakan jika kamu berada di tempat yang aman, dan dalam kondisi yang baik-baik saja, mereka tetap tidak percaya." Alexa tersenyum malu mendengarkan cerita Irwan. Dia memang berada dalam kondisi yang baik-baik saja, karena Johan dan Ravendra sudah memperkirakan jika akan terjadi angin besar, dan juga badai akan datang. Tanpa mereka, mungkin Alexa juga akan mengalami hal yang sama, seperti yang dialami Aniss.
"Aku baik-baik saja Aniss.., Irwan. Kan kalian tahu, aku dipanggil Tuan Johan, dan saat aku bersamanya, tiba-tiba terdengar badai turun. Tuan Johan membawaku ke sebuah mansion, disanalah aku semalaman dengan laki-laki itu." Alexa menceritakan apa yang terjadi dengannya, tetapi gadis itu menutupi identitas Ravendra. Dia tidak mau menjadi bahan bully-an teman-temannya.
"Hmmm..., aku pikir kamu gadis yang polos Lexa... Ternyata kamu lebih cerdik dan pintar, kamu bisa menangkap umpan yang lebih kaya dan memiliki posisi tinggi." tiba-tiba terdengar sindiran yang disampaikan Boss Ridwan pada Alexa. Dengan pandangan tidak suka, Irwan menatap balik mata pimpinan divisinya itu dengan berani.
"Apa maksud perkataanmu laki-laki yang selalu berpikiran mesum..? Jangan kamu sama ratakan Alexa, dengan gadis-gadis yang dengan gampang memanjat tempat tidurmu? Kamu boleh menjadi pimpinan di tempat kerja, tetapi hal itu tidak berarti kamu bisa bertindak bebas untuk menindas kami." tanpa diduga, Irwan dengan suara ketus menjawab tuduhan tidak berdasar yang diberikan Boss Ridwan pada Alexa.
__ADS_1
"Irwan..., biarkan anjing itu menggonggong. Kita tidak akan rugi kok, jika hanya sedikit saja mendengarnya." mengingat perlakuan menjijikkan yang dilakukan laki-laki itu padanya kemarin, Alexa dengan berani menanggapi perkataan Ridwan. Tangannya menarik pergelangan tangan Irwan, dan membalikkan badan laki-laki itu untuk membelakangi Boss Ridwan. Dengan tatapan penuh kemarahan, Aniss juga menatap laki-laki menyebalkan itu dengan pandangan menyebalkan.
Dari arah samping, terlihat Alana sedang bergandengan tangan dengan Rado, dan Ronny berjalan di belakang mereka. Melihat Aniss, Alexa dan Irwan sudah berkumpul jadi satu, mereka segera mendatangi dan bergabung.
"Kalian sudah sampai disini rupanya. Aku pikir kalian masuk rombongan belakang." seru Alana kegirangan bertemu kembali dengan rekan-rekan kerjanya.
"Masuk kamar saja yukk, daripada kita ngobrol disini. Tapi..., partner kamarku belum kelihatan. Gimana dong...?" Alana belum menemukan teman sekamarnya, gadis itu kebingungan. Alexa ingin menawarkan agar teman-temannya bergabung dengannya di kamarnya, tetapi dia tidak mau membuat kegaduhan. Gadis itu memahami jika dia mendapatkan sebuah suites yang ditempatinya sendiri. Sedangkan teman-temannya yang lain, mereka hanya mendapatkan fasilitas kelas Deluxe dan Standard.
"Kamu ke kamarku dulu saja Lan.., kebetulan aku sendiri kok. Tadi pagi, teman sekamarku sudah pamitan mau balik dulu ke rumah. Dia trauma dengan kejadian yang kita alami kemarin." Aniss menawarkan bantuan kamar untuk Alana.
Akhirnya mereka ramai-ramai kembali menuju kamar masing-masing. Alexa dengan hati-hati melihat ke sekelilingnya, dia tidak mau bertemu dengan Boss Ridwan, laki-laki menyebalkan itu.
**********
"Apakah ada orang yang berada di kamarku ya..., atau timernya sudah habis?" Alexa bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Gadis itu hanya mengkhawatirkan jika dia berjumpa dengan Boss Ridwan, karena laki-laki itu berada satu lantai dengannya.
__ADS_1
Sekali lagi Alexa mencoba menempelkan acces card pada gagang pintunya, tetapi tetap tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jika pintu kamar itu akan terbuka. Dengan cepat Alexa membalikkan badannya, gadis itu akan kembali menuju lobby untuk melaporkan kejadian itu pada room service.
"Aaaaww.." Alexa memekik, karena tiba-tiba mulutnya dibekap orang dari belakang. Orang tersebut langsung menarik dan memeluk Alexa, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar.
Merasa keamanannya terancam, tanpa sadar Alexa mengeluarkan jurus taekwondonya. Dengan cepat kakinya memutar dan menendang ke atas.
"Aduh..., nakal kamu ya honey..." terdengar teriakan suara laki-laki. Gadis itu langsung menutup mulutnya, melihat Ravendra kesakitan sambil mendekap senjata laki-lakinya.
"Uuupss... sorry kak Ravend.. Habisnya kak Ravend nakal sih.., masak bisa-bisanya masuk kamar yang ditempati Alexa." gadis itu kebingungan ingin mengusap tempat yang sakit, tetapi melihat tempatnya mengirimkan tendangan dengan menggunakan lututnya itu, Alexa meringis sendiri. Dia tidak mungkin akan mengusap atau meniup tempat yang kesakitan itu.
"Honey jahat ya sekarang..., masak kamu akan menghancurkan mesin pembuat keturunan kita sih." ucap Ravendra dengan ekspresi yang membuat gadis itu tertawa ngakak.
"Ha.., ha... ha... kak Ravend lucu..." Alexa tertawa sambil membaringkan tubuhnya di atas bed. Ravendra menyusul gadis itu dan mengangkat tubuhnya di atas tubuh Alexa. Tanpa banyak kata, Ravendra menutup bibir gadis itu dan menghentikan tawanya dengan memberinya ciuman dalam. Alexa tersengal-sengal, kedua tangannya menahan agar tubuh laki-laki itu tidak jatuh menindihnya. Tiba-tiba Alexa merasa ngeri.., melihat sikap yang ditunjukkan Ravendra padanya. Perlakuan laki-laki itu terlalu intim padanya.
"Kak..., kak Ravend.., hentikan. Alexa jadi takut kalau sikap kakak seperti ini." teriak Alexa ketakutan. Melihat reaksi itu, Ravendra menghentikan gerakannya. Laki-laki itu segera menggulingkan badannya ke kanan, dan dia berbaring di samping gadis itu. Beberapa saat mereka terdiam tak bersuara, hingga..
__ADS_1
"Bagaimana kak Ravend bisa tahu letak kamar Alexa?? Jangan-jangan kakak yang memesan kamar ini untukku, dan jamuan makan siang di hari pertama kedatangan, itu juga ulah dan atas perintah dari kak Ravend?" Alexa langsung menanyai laki-laki disampingnya itu. Ravendra tidak menjawab, dia hanya senyum-senyum sambil melihati wajah Alexa.
***********