
Canada
Nancy terlihat membanting tas tangan di atas sofa, padahal disitu terlihat suaminya Tuan Besar Abraham sedang membuka laptop. Dengan tatapan sengit, Tuan Besar Abraham melihat ke arah istrinya. Tanpa bicara, Nyonya Besar Nancy duduk di atas sofa, kemudian menatap balik mata suaminya dengan berani,
"Apakah ada yang berani membuatmu kesal hari ini Nyonya Besar Nancy.. hingga dengan berani kamu menumpahkannya di depanku.." dengan nada sarkasme, Tuan Besar Abraham bertanya pada istrinya. Masih dengan mata berkilat, laki-laki itu memandang istrinya. Di sisi lain, Nyonya Besar Nancy memang terlihat tidak menghargai keberadaan suaminya.
"Aku kesal pa.. kita ini memiliki dua anak. Tidak yang laki, yang perempuan sama saja, tidak ada sedikitpun mereka menghargaiku sebagai mamanya. Mereka saat ini tidak tahu sedang berada dimana, tidak ada yang memberi tahu tentang keberadaan mereka kepadaku. Untuk teman-teman sosialitaku... memang ada yang mereka berani membuat mama kesal.." perempuan paruh baya yang masih terlihat padat dan cantik itu mengomel. Tenryata perempuan itu sedang merindukan Ravendra dan Raveena, tetapi gengsi untuk mengatakannya.
"Hmmm.. begitukah? Jadi hanya mereka yang kamu tuntut untuk mengerti dan menghargaimu Mom.. Tetapi tidak ada sedikitpun keinginan dalam hatimu untuk berdamai dengan mereka, Untuk apa Mom.. kita menahan gengsi.. menahan rasa.. tetapi di balik itu kita tersiksa.." dengan senyum sinis, Tuan Besar Abraham balas menyindir istrinya,
"Papa selalu begitu.. membela mereka, dan bahkan tidak memberi tahu mereka, jika apa yang mereka lakukan adalah merupakan sebuah kesalahan." Nancy tetap mengotot dan tidak mau mengalah.
"Mom.. terserah apa katamu.. Jika kamu seperti ini terus.. jangan salahkan papa. Mungkin suatu saat, akupun juga akan pergi meninggalkanmu. keegoisanmu yang membuatmu terpisah dengan keluarga Mom.. sadarlah." merasa sudah malas berdebat dengan istrinya, Tuan Besar Abraham beranjak berdiri. Laki-laki itu merasa malas, karena dengan berada di samping istrinya, bukannya ketenangan yang didapatkannya, namun malah emosi yang menguasai mereka. Untuk itu, menjauh dari Nancy akan membantunya untuk menenangkan diri.
Nancy berdiri, perempuan itu memegang tangan Tuan Besar Abraham. Tidak diduga, ternyata perempuan itu menahan kepergian suaminya.
"Kenapa Mom.. lepaskan tanganku. Masih banyak masalah perusahaan kita yang ada di negara Singapura, lebih baik aku membantu untuk menyelesaikannya. Karena negara SIngapura, merupakan negara payung yang mensupplay negara-negara di sekitarnya. Jutaan orang bergantung hidup pada perusahaan-perusahaan itu, papa ingin berbuat sesuatu.." Tuan Besar Abraham membuat alasan untuk pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Namun dengan erat, istrinya Nancy memegang tangan suaminya. Perempuan itu ternyata tidak mau ditinggalkan sendiri. Melihat kelemahan istrinya yang tampak sedih, akhirnya hati Abraham terketuk juga. Laki-laki itu membiarkan tangannya digelondoti istrinya. Setelah beberapa saat mereka dalam dia,. akhirnya..
"Pa.. bantu mommy berdamai dengan anak-anak dong pa.. Mommy sangat merindukan mereka, mommy sudah bosan dengan kehidupan menjemukan yang ada di lingkungan Mommy.." tiba-tiba Nancy menangis. Perempuan itu mengutarakan kebosanannya dalam mengisi hari-harinya.
"Turunkan standarmu Momm... Putra dan putri kita bukan lagi anak-anak, yang dengan mudah mereka bisa kita kendalikan. mereka sudah memiliki tujuan hidup sendiri, apalagi Ravendra. Apakah Mommy sudah tahu, jika putra kita itu sudah akan menjadi seorang Daddy..?" mendengar perkataan terakhir yang diucapkan Abraham suaminya, perempuan itu terkejut.
"Maksud papa.. Ravendra putraku sudah memiliki istri..?? Gadis mana yang demikian beruntungnya dapat memiliki keturuanan dengan putra kita. Bukankah Ravendra yang kita kenal, selalu merasa alergi jika berada di tengah-tengah perempuan." Nancy seperti tidak mempercayai berita yang dikabarkan suaminya itu.
Abraham tersenyum, kemudian laki-laki itu kembali duduk di sofa, dan membawa Nancy untuk duduk di sampingnya. Dengan penuh kasih sayang, Abraham merapikan rambut istrinya kemudian menjepitnya di atas telinga Nancy. Perlakuan sepele itu ternyata sangat menyenangkan hati perempuan di sampingnya itu.
Nancy melihat ke wajah suaminya, perempuan itu mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Abraham mengakui kelebihan seorang perempuan. Apalagi perempuan itu adalah menantunya.
"Maksud papa..?" Nancy bertanya pada Abraham
"Momm... mommy perlu kenal dengan Alexa, menantu kita. Papa janji, kamu akan jatuh hati dengan gadis itu. Tapi harus janji, apapun yang terjadi jangan berbicara kasar padanya. Saat ini, menantu kita sedang mengandung janin calon cucu kita momm.." Abraham dengan serius bercerita tentang Alexa.
"Really.." Nancy masih tidak percaya. Abraham tidak menjawab, laki-laki itu menganggukkan kepala berusaha meyakinkan istrinya.
__ADS_1
*******
Keesokan Paginya
Merasa penasaran dengan pemberi tahuan Abraham, akhirnya Nancy dan Abraham segera terbang menggunakan private jet menuju Indonesia. Perempuan ini akan melihat sendiri dan mengenali perempuan yang sudah berhasil mendapatkan hati putra laki-lakinya. Nancy berpikir, sebagai mama dari anak muda itu, dirinya sudah puluhan tahun tidak berhasil bertatap muka dengan Ravendra. Karena kesalah pahaman, putranya tidak mau lagi menemuinya,
"Kenakan seat belt dulu Momm... bentar lagi pesawat akan take off.." Tuan Besar Abraham mengambil seat belt. kemudian memasangkan di samping pinggang istrinya.
Sebenarnya Tuan Besar Abraham memang sangat mencintai istrinya Nancy, seorang bangsawan Inggris. Membutuhkan waktu lama untuk dapat menundukkan perempuan itu, dan Abraham merasa bersyukur berhasil dipilih Nancy untuk menjadi suaminya. Namun mendapat perlakuan istimewa sejak kecil, Nancy kurang bisa bergaul dengan kebanyakan orang. Ingin selalu dilayani, dan diperhatikan menjadi prioritas utamanya. Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, perempuan itu juga sangat susah untuk mengalah. Sampai Ravendra, kemudian diikuti Raveena memilih pergi berkeliling dunia, meninggalkan kedua orang tuanya.
"Thank,s pa.. kira-kira berapa jam perjalanan akan kita tempuh sampai di Indonesia?" Nancy yang belum pernah ke Indonesia, menanyakan berapa lama waktu tempuh perjalanan.
"Arround 11 hours, dengan sekali transit untuk pengisian Avtur.. Tidurlah jika mommy capai.. agar tidak jenuh di perjalanan nantinya. Dari Toronto, tadi pilot sudah sampaikan kita akan ke Singapore dulu, baru ke Batam." dengan sabar, Abraham menjelaskan pada istrinya. Mengetahui niat istrinya untuk membuka hati, mau merendahkan diri, Abraham sangat menjaga agar perasaan itu tidak redup dan hilang kembali.
"Kita sudah lama tidak pergi bersama pap.. aku ingin menikmati saat-saat ini kembali." Nancy menatap wajah suaminya yang tidak pernah merasa lelah menghadapinya. Tanpa kata, biasanya Abraham akan pergi ke luar negeri sendiri, jika sedang ribut dengannya selama ini. Menyadari sikap kekanak-kanakannya, Nancy hanya tersenyum kecut. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di dada Abraham suaminya.
**********
__ADS_1