
Tubuh Alexa terguncang, dan perlahan gadis itu membuka matanya perlahan. Di depan gadis itu, tampak duduk Thomas papanya yang terlihat khawatir sambil memegangi bahunya. Dengan penuh kekhawatiran laki-laki itu mengambilkan air minum, dan Alexa meminumnya secara perlahan.
"Ada apa Lexa.., kamu mimpi lagi. Tenanglah ada papa disini, tidak akan ada yang berani untuk mengganggumu," masih dengan rasa khawatir., Thomas bertanya pada putrinya.
Perlahan Alexa menganggukkan kepalanya, gadis itu masih kebingungan. Namun tiba-tiba Alexa masih mengingat dengan jelas kata-kata yang diucapkan oleh kakek tua yang datang dalam mimpinya. Tanpa sadar, Alexa memegang erat bahu papanya Thomas.
"Tenanglah lexa.. ada papa disini. Apakah ada yang akan kamu sampaikan, sepertinya wajahmu mengisyaratkan ada informasi yang akan kamu sampaikan." dengan hati-hati, Thomas bertanya pada putrinya.,
"Papa... papa harus mencari stalagtit yang ada sinar di ujungnya. Setelah ditemukan, papa harus pecahkan ujungnya, kata kakek tua yang datang dalam mimpi ALexa, kunci untuk membuka dinding batu itu ada di dalam sana. Kita bisa mengambilnya." dengan lancar, Alexa menyampaikan informasi yang diperoleh dari kakek tua dalam mimpinya barusan.
Thomas terhenyak, laki-laki itu meluruskan perlahan punggungnya ke belakang. Otak kanan Thomas tidak mau mencerna keinginan tidak masuk akal yang disampaikan oleh Alexa, namun putrinya juga terus menatapnya dengan pandangan penuh permintaan,
"Okay.. okay.. Sekarang Alexa kembalilah tidur. Kamu harus banyak istirahat, ingat janin yang sedang ada di rahimmu. Besok pagi, Lexa temani papa untuk mencarinya, karena kamu yang persis mendapatkan informasi itu." Thomas menyanggupi untuk mencari stalaktit sesuai yang dibicarakan putrinya.
Laki-laki itu membantu putrinya Alexa menurunkan tubuhnya ke bawah. Untuk membantu agar gadis itu cepat tertidur, Thomas mengusap-usap dahi Alexa, dan sesuai dengan perkiraan, tidak lama kemudian gadis itu sudah kembali dalam keadaan tertidur,
__ADS_1
"Kasihan dirimu Lexa.., kamu muncul dan hadir dalam komunitas kami yang penuh kerumitan. Papa tidak menginginkan jika kamu memang perempuan yang diinginkan oleh leluhur, untuk meneruskan tongkat perdamaian pada kaum kita." Thomas berbicara sendiri, sambil terus melihati Alexa yang masih tertidur nyenyak.
"Tapi apakah aku harus mencari stalagtit yang dikatakan Alexa tadi ya. Mumpung gadis ini sedang tertidur, aku akan mencarinya saja jika begitu." dengan hati-hati, Thomas melepaskan tangannya. Laki-laki itu kemudian berdiri, dan meregangkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Setelah kembali melihat wajah putrinya untuk beberapa saat, perlahan Thomas meninggalkan Alexa yang sudah terlelap tidur.
Mata Thomas kembali diedarkan ke sekeliling tempat itu. Laki-laki itu benar-benar mencari tahu apakah yang dikatakan putrinya merupakan sebuah kebenaran. Untuk mencegah terpeleset, Thomas melepaskan sepatunya, dan dengan lincah kakinya mencengkeram di batu-batuan yang ada di dalam goa tersebut. Setelah beberapa saat mencari, tatapan Thomas tidak mau berpindah dari sebuah batu stalagtit yang tepat berada di tengah-tengah goa tersebut,
"Hmm.. sepertinya stalaktit itu memiliki keanehan.. apakah di lokasi batu itu, kunci yang dikatakan putriku tadi berada. Sepertinya aku perlu melakukan pengamatan lebih lanjut, siapa tahu., di tempat itu ternyata benar-benar tersimpan kunci untuk membuka dinding batu yang kita temukan sore tadi. Jika boleh meminta, aku ingin tidak ada keterkaitan dan sangkut paut putriku dengan dunia vampire." Thomas kembali bergumam.
Terbayang di matanya, wajah kemarahan Ravendra jika tahu istrinya terlibat dalam masalah kehidupan manusia vampire di dunia ini. Tetapi begitu laki-laki itu mengembalikannya tentang nasib, takdir dan keinginan dari leluhur manusia vampire, akhirnya Thomas hanya bisa mengambil nafas panjang.
********
Ravendra dan Johan yang berjalan menyibak simak belukar, terus berjalan lurus ke depan. Mereka belum menemukan apapun di tempat itu, bahkan untuk kembali saja, Ravendra enggan untuk melakukannya. Laki-laki itu terus bersikeras jika mereka akan tetap berada di tempat itu, sampai mereka bisa menemukan dan membawa pulang Alexa. Namun.. sampai sejauh ini, mereka berdua belum mendapatkan titik terang sekecil apapun.
"Tuan muda.. sepertinya kali ini kita perlu untuk istirahat tuan muda.." tiba-tiba Johan memberanikan diri untuk mengajak Ravendra berbicara.
__ADS_1
"Mmmm.. what your mean? Apakah kamu sudah merasakan kelelahan, sehingga sudah minta berhenti dan beristirahat?" Ravendra menghentikan langkahnya. Dengan dahi berkerut, laki-laki itu bertanya pada asisten pribadinya.
"Ampun tuan muda.., jangan salah paham. Lihatlah langit di atas kita, sepertinya sebentar lagi sudah memasuki malam hari. Yang saya khawatirkan adalah jika hujan turun dari langit, sedangkan kita belum mendapatkan tempat untuk berteduh. Apalagi tuan muda tadi mengatakan, jika kita tidak akan kembali pulang sebelum menemukan nona muda Alexa." dengan suara pelan dan hati-hati, Johan menyampaikan maksud hatinya.
Ravendra diam tidak menjawab, dan tiba-tiba laki-laki itu mengangkat wajahnya ke atas. Setelah beberapa saat kemudian, laki-laki itu menoleh ke wajah Johan.
"Apakah kamu memiliki ide.. atau kita akan menginap di atas dahan saja untuk malam ini?" tiba-tiba laki-laki itu balik bertanya pada asisten pribadinya.
"Bagi saya tidak masalah tuan muda..kita akan istirahat dimanapun. Namun.. jika hujan turun, saya tidak akan bisa membiarkan tuan muda untuk kehujanan. Sehingga mau tidak mau, kita harus menyiapkan tempat untuk berteduh. Apalagi, keberadaan kita saat ini berada di dekat aliran sungai, sehingga bisa jadi banjir akan datang dan menghampiri kita." Johan membuat penjelasan.
Kembali Ravendra terdiam. laki-laki sampai saat ini belum bisa berpikir lurus, Ingatannya selalu menghampiri Alexa dan janin yang ada di kandungannya. Setelah menghela nafas panjang, ..
"Carilah tempat yang agak tinggi untuk kita bertahan malam ini. Karena kita tidak mungkin akan menggunakan peralatan camping, karena memang kita tidak membuat persiapan. Apalagi kita juga belum tahu, bagaimana kabar istriku Alexa, apakah istriku bisa mendapatkan tempat nyaman untuk berteduh atau tidak." kembali jawaban laki-laki muda itu berputar ke arah keadaan istrinya.
Kali ini Johan yang terdiam, dan dalam hati laki-laki ini menyalahkan dirinya sendiri. Sebenarnya Johan sudah lama mengenal Alexa, bahkan sebelum nona mudanya itu melangsungkan pernikahan dengan tuan mudanya. Alexa memiliki hati yang keras, dengan pendirian yang keras pula. Beberapa kali, Johan pernah bersitegang dengan gadis itu. Namun dalam hati Johan juga menyadari jika Nona muda Alexa merupakan gadis yang tidak pantang menyerah, dia bisa bertahan hidup dimanapun dengan kecerdikan dan kecerdasannya.
__ADS_1
Namun melihat keterpurukan yang dialami tuan mudanya saat ini, muncul kepedihan dan rasa bersalah di hati Johan. Untuk itu, apapun keinginan yang dimaui Ravendra.., Johan akan menurutinya. Setelah berhasil menenangkan hatinya, Johan kemudian melangkahkan kaki untuk mencari tempat berlindung seperti yang diucapkan oleh tuan mudanya.
********