Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Rahib


__ADS_3

Ravendra menerima tamu di teras kastil. Laki-laki itu meninggalkan Alexa yang tertidur lelap di atas ranjang. Setelah mereka melakukannya penyatuan, Ravendra meminta Alexa untuk menemani makan malam, dan sesudah itu Alexa langsung tertidur.


"Apakah kamu sudah mengabarkannya kedatanganku pada pemimpin tertinggi manusia vampire original?" dengan nada tegas, Ravendra bertanya pada dua orang laki-laki itu.


"Sudah Tuan Muda..., dan malam ini juga, jika Tuan Muda tidak kelelahan, pemimpin bersedia untuk bertemu dengan Tuan Muda." salah satu dari laki-laki itu menjawab dengan nada tegas pula.


"Baik..., malam ini juga, aku akan berangkat menuju Santorini. Aku harap mereka tidak terkejut dengan kedatanganku nanti malam. Aku akan meninggalkan istriku sendiri bersama dengan maid di kastil ini. Kirimkan orang-orangmu untuk memastikan keselamatan dan keamanan istriku." Ravendra bermaksud untuk meninggalkan Alexa sendirian di kastil hanya ditemani maid dan para pengawal.


"Siap Tuan Muda..., sebenarnya tanpa Tuan Muda instruksi, sejak tadi pagi, saya sudah melakukan sweeping dan sterilisasi di lingkungan sekitar bangunan kastil.. Dapat dipastikan jika Nona muda akan baik-baik saja di dalam kastil." dengan cepat dia orang itu menanggapi keraguan yang ditunjukkan oleh Ravendra.


"Tunggu sebentar aku akan melihat sebentar dulu pada istriku." seusai bicara, Ravendra meninggalkan dua orang itu tetap di beranda kastil. Laki-laki itu langsung naik ke lantai atas, dan masuk ke kamar yang digunakan oleh Alexa istirahat.


"Honey..., istirahatlah sebentar! Aku akan meninggalkan dirimu disini untuk istirahat. Aku tidak mau, ada hal yang buruk menimpamu di bangunan kuno." setelah berbicara sendiri, Ravendra membungkukkan badan dan memberikan ciuman di kening gadis itu. Setelah melihat sekali lagi untuk beberapa saat, Ravendra kemudian meninggalkan Alexa yang tengah tertidur.


Sesampainya di ruang tengah Ravendra memanggil salah satu maid dengan menggunakan tangannya. Maid yang merasa dipanggil, bergegas datang menemui laki-laki itu.


"Siap untuk menerima perintah Tuan Muda..." sambil menundukkan wajah, perempuan paruh baya itu mengajak Ravendra berbicara.


"Jaga Nona muda di dalam. Pastikan tidak terjadi apapun dengan dirinya, atau aku habisi nyawamu.!" dengan nada tegas, Ravendra memberi perintah pada perempuan itu.


"Dengan senang hati Tuan Muda, kami akan menjaga Nona muda dengan nyawa kami." dengan cepat, maid menjawab perintah yang diberikan kepadanya. Tanpa menjawab, laki-laki itu meninggalkan perempuan itu dan langsung bergegas menuju ke beranda.

__ADS_1


"Ayo segera berangkat, aku sudah tidak sabar untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pemimpin pusat." begitu sampai di luar, Ravendra segera mengajak kedua orang itu untuk segera berangkat.


"Siap Tuan Muda..," dengan bergegas, mereka segera menuju ke arah mobil diparkir di halaman yang luas itu. Melihat jika Tuan Mudanya akan pergi, dua orang berlari menuju ke arah gerbang untuk membukakan pintu gerbang.


"Apakah Tuan Muda menghendaki untuk berhenti sejenak sebelum langsung menuju ke bangunan kuno di Santorini?" sambil menjalankan mobil, salah satu dari orang tersebut bertanya pada laki-laki itu.


"Tidak.., aku ingin segera menyelesaikannya urusanku. Kita langsung ke bangunan kuno." dengan nada tinggi, Ravendra minta untuk segera diantarkan ke tempat yang akan mereka datangi.


"Siap Tuan Muda.." dengan sigap, orang itu langsung menjalankan mobil ke arah luar gerbang. Dua penjaga dengan cepat menutup kembali pintu gerbang setelah mobil yang membawa Tuan Mudanya keluar dari halaman.


*******


Satu gelas darah kental disuguhkan oleh seorang Rahib di depan Ravendra, dan tanpa bicara, Ravendra menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.


"Silakan ditunggu, sesepuh sedang berdiskusi. Tidak lama lagi, mereka akan menemui Tuan Ravendra." Rahib itu memberi tahu untuk menunggu para sesepuh manusia vampire.


"No matter..." jawaban singkat keluar dari bibir laki-laki itu. Tangan Ravendra meraih gelas berisi darah kental itu, dan tidak butuh waktu lama, isi gelas itu sudah habis tandas di mulut laki-laki itu.


Rahib itu segera pergi meninggalkan Ravendra sendiri di ruangan itu, dan laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tidak ada yang berubah dari terakhir kali, Ravendra masuk ke ruangan ini ratusan tahun silam. Kala itu dia datang kesini sebagai saksi atas tuduhan kejahatan yang dialamatkan untuk kedua orang tuanya.


"Hmmm..., semua masih sama dengan terakhir kali aku kesini. Semoga saja rahib-rahib senior bertambah bijaksana, tidak menghakimi orang hanya berdasarkan cerita saja." Ravendra bergumam.

__ADS_1


Tatapan laki-laki itu tiba-tiba terarah pada sebuah hiasan baru yang dipajang di atas sebuah ambalan yang terpasang di dinding ruangan tersebut. Merasa tertarik, Ravendra segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke tempat ambalan tersebut.


"Sebuah hexagon..., untuk apa barang ini terpajang disini?? Sepertinya aku pernah melihat beberapa di kastil yang ada di Transylvania, Rumania. Tetapi kenapa barang ini, saat ini bisa berada di sini. Apakah ini barang yang sama?" dahi Ravendra berkerut, matanya dengan cermat mengawasi sebuah kristal berbentuk hexagon yang ada di depannya.


"Hmmm..., tetapi kenapa hexagon yang ini memiliki titik merah seperti darah yang selalu bergerak-gerak?" banyak pertanyaan yang didorong rasa penasaran, berkecamuk di pikiran laki-laki itu.


"Semakin banyak yang kutahu, malah akan bisa mencelakakan aku." akhirnya Ravendra mengingat prinsip yang selalu diingatnya. Laki-laki itu kembali ke tempat duduk semula, meninggalkan ambalan dan kristal berbentuk hexagon itu.


"Pletok.., pletok.., pletok.." terdengar beberapa langkah kaki menuju ke ruangan lain itu.


Ravendra membetulkan posisi duduknya, laki-laki itu pura-pura tidak melihat ke arah datangnya suara tersebut.


"Begitu sombongnya seorang Tuan Muda Ravendra putra dari Tuan besar William tidak memperhatikan kedatanganku." suara dengan nada bariton, tiba-tiba bergema dalam ruangan itu.


Ravendra menoleh ke arah datangnya suara, dan terlihat tiga orang sesepuh sudah berdiri dan menatapnya dengan tajam. Di belakang mereka, tidak asing bagi laki-laki itu. Robin dengan tatapan mencemooh, seakan melecehkan Ravendra di tempat ini.


"Maaf Rahib .., bukan maksudku untuk bersikap acuh kepada para sesepuh. Aku hanya terkejut saja, melihat ada orang yang pintar untuk memanfaatkan kesempatan, saat ini berdiri di belakang para sesepuh." dengan tersenyum, Ravendra menjawab perkataan Rahib dengan nada sarkasme.


Mendengar perkataan itu, wajah Robin menjadi merah. Tetapi dapat terlihat, laki-laki itu menahan emosinya agar tidak sampai meledak di tempat itu.


*********

__ADS_1


__ADS_2