Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Rasa Akrab


__ADS_3

Dengan mata berbinar, Thomas sekali lagi mengawasi pucuk stalaktit yang tadi dari jarak yang cukup jauh, sempat mengeluarkan sinar cahaya. Tetapi begitu laki-laki itu berada di dekatnya, pucuk stalaktit tidak lagi mau mengeluarkan sinar. Tangan Thomas terulur ke atas, kemudian perlahan mengusap dan mengitari pucuk stalaktit itu. Setelah berusaha untuk meyakinkan hatinya, laki-laki itu mengambil pisau dari balik saku mantel yang dikenakannya.


"Mohon diijinkan leluhur.. tidak ada sedikitpun niat untuk membuat kekacauan di tempat ini. Aku hanya ingin mencari petunjuk yang dikirimkan via mimpi putriku." sebelum memutuskan untuk memukul pucuk stalaktit dengan menggunakan pisau di tangannya, Thomas meminta ijin terlebih dahulu.


Setelah kembali meyakinkan hatinya, Thomas perlahan memukulkan gagang pisau ke pucuk batuan stalaktit tersebut. Namun  gagang pisau itu seperti membentur benda tumpul, dan sedikitpun tidak terlihat goresan di bebatuan tersebut.


"Clang.., clang.., clang.." suara benturan pisau dan bebatuan menggema ke seluruh goa. Untungnya suara itu tidak mengganggu tidur Alexa. Dari tempatnya berdiri, Thomas bisa melihat putrinya masih nyenyak tertidur pulas. Mungkin gadis itu benar-benar kelelahan, ditambah lagi faktor kehamilan yang saat ini dirasakannya, membuatnya ingin tidur terus.


"Aku tidak bisa seperti ini terus, aku harus meningkatkan kekuatanku. Sepertinya jika hanya begini terus, sedikitpun tidak ada pergerakan. Bahka retakpun tidak bisa aku lihat.." kembali Thomas bergumam,


Laki-laki itu mengeluarkan kekuatan vampirenya. Urat-urat nadi berwarna hijau tampak jelas muncul di permukaan kulitnya. Dengan mata sedikit merah menatap tajam, Thomas menyeringai. Dengan memegang pisau di tangan kanannya, laki-laki itu dengan kencang mengangkat tangannya ke atas, dan..


"Clang... kretak.. kretak... dung..." tidak lama kemudian, pola retak sudah terlihat di permukaan stalaktit itu. Melihat ke bawah yang berisi genangan air, menjadikan laki-laki itu kembali berpikir.


"Jika aku memukul terlalu keras, dan pucuk stalaktit ini patah, maka jika memang di dalamnya ada kunci, maka kunci itu akan jatuh dan masuk ke dalam air. Jadi aku harus lebih berhati-hati.." kembali Thomas berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk menyimpan kembali pisau di tangannya. Hanya dengan menggunakan kedua tangan kosongnya, laki-laki mengeluarkan dengan sekuat tenaganya. Perlahan retakan permukaan stalaktit semakin lebar, dan dengan sekali hentak, Thomas akhirnya dapat menarik pucuk stalaktit lepas dari batuan di atasnya. Terlihat sebuah kilau keemasan dari dalam stalaktit yang masih menggantung di bebatuan,


"Sepertinya itu adalah barang yang aku cari-cari. Aku harus berhati-hati untuk melepaskannya." senyum melebar di bibir Thomas setelah menajamkan penglihatannya. Dengan hati-hati, laki-laki itu memasukkan tangannya untuk menyentuh benda berkilau itu. Setelah merasakan anak kunci itu berada dalam pegangannya, Thomas menarik kunci itu keluar dari dalam batuan tersebut,


"Slerrp... slup..." akhirnya setelah beberapa saat, senyum Thomas semakin lebar. Anak kunci itu sudah dengan sukses berada di telapak tangannya. Laki-laki itu menimang-nimang sebentar anak kunci itu, kemudian menyimpannya ke dalam saku. Perlahan Thomas menengadahkan wajahnya ke atas, seulas senyum diberikannya sambil melihat stalaktit yang sudah pecah itu. Setelah mengusapnya perlahan dengan menggunakan telapak tangannya, perlahan Thomas mulai memundurkan kakinya.


"Akhirnya aku mendapatkan anak kunci ini.  maafkan bukan maksudku untuk membuat kerusakan di tempat ini. Hanya saja, kami ingin mendapatkan jalan keluar dari dalam tempat ini. Kami masih ingin melanjutkan kehidupan kami." Thomas berujar, kemudian laki-laki itu berjalan menuju ke tempat Alexa tertidur,


**********


"Besok lagi, dimanapun posisimu selalu tinggalkan jejak. Jadi kita tidak akan tersesat berputar-putar lagi seperti ini." di depan mulut goa, Ravendra memberi omelan pada Johan.


"Siap tuan muda.. tidak akan saya ulangi lagi di masa depan kesalahan seperti ini. Kita harus segera masuk tuan muda, karena angin sudah mulai berhembus, Johan khawatir jika terjadi hujan badai di tempat ini." Johan mengajak Ravendra untuk segera masuk ke dalam, Ravendra hanya diam, laki-laki itu masih melihat ke arah pintu masuk ke dalam goa. Tidak tahu mengapa, laki-laki itu seperti menemukan rasa akrab di dalam goa itu.


"Baik. kamu jalan duluan saja.." Ravendra meminta Johan untuk berjalan lebih dulu ke depan.

__ADS_1


Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, Johan segera memasuki mulut goa dan diikuti Ravendra di belakangnya. Tetapi mereka merasa keheranan, dari arah luar, goa itu terlihat sangat kecil. Namun ketika mereka masuk, ternyata goa itu memiliki ruangan yang sangat luas, dan sangat panjang.


"Tuan muda.. apakah kita akan langsung masuk menelusuri tempat ini, ataukah kita cukup berada di sekitar sini saja?" Johan menoleh ke belakang, laki-laki itu bertanya pada Ravendra.


"Di depan sini saja, besok pagi kita lebih jauh menelusuri ke dalam. Sekarang kita harus mengisi perut kita terlebih dahulu, carilah darah segar. Aku merasakan kekuatanku sudah mulai melemah.." Ravendra mendudukkan dirinya di sebuah batu yang ada di pinggiran dinding goa. Tiba-tiba saja , laki-laki itu merasakan jika kekuatannya mulai berkurang.


"Baik tuan muda.. tunggulah sebentar. Johan akan pergi sebentar untuk mencari darah binatang, dan kita bisa menggunakan dagingnya untuk kita bakar " dengan cepat, Johan merespon perintah Ravendra. Laki-laki itu meletakkan semua barang bawaannya ke atas lantai goa, kemudian tanpa bicara lagi Johan segera keluar menerobos kegelapan malam.


Ravendra merenung sambil mengawasi ke sekeliling tempatnya duduk. Mata vampirenya dengan jelas dapat menembus kegelapan malam. Laki-laki itu tidak mengetahui sebabnya, tiba-tiba saja merasa akrab dengan goa itu, seperti menemukan sesuatu yang sudah lama hilang dan pergi meninggalkannya.


"Tempat ini sedikit aneh.. harusnya aku merasakan kedinginan di tempat seperti ini. Tapi tidak tahu mengapa, kenapa tempat ini terasa hangat, tidak sedikitpun aku merasakan sesuatu yang dingin." Ravendra berpikir sendiri.


"Firasatku juga mengatakan, jika sebelum aku dan Johan datang ke goa ini, seperti ada aroma manusia lain yang sudah datang kesini. Ataukah itu istriku Alexa dan Uncle Thomas.. apakah benar yang aku pikirkan?" tiba-tiba Ravendra teringat akan keberadaan istri dan papa mertuanya.


Laki-laki itu langsung berdiri, dan akan melangkahkan kaki untuk masuk ke area goa yang lebih dalam. Tetapi tiba-tiba saja, Johan sudah kembali datang dan masuk ke dalam goa dengan membawa satu ekor binatang kancil di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2