Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Aku Memiliki Akses


__ADS_3

Johan kaget mendapati panggilan dari bagian receptionis yang mengabarkan kedatangan Tuan Besar Abraham bersama Nyonya Besar Nancy. Hilang keberanian laki-laki itu untuk memberi tahu pada Raveena tentang kedatangan kedua orang tua gadis itu. Antara ingat langsung berangkat turun ke lobby, atau memberikan informasi pada kekasih itu.


"Kak Johan.. what happened?? Aku amati, sejak tadi kak Johan seperti orang yang sedang kebingungan. Kenapa tidak cerita pada Veena, mungkin aku bisa bantu untuk memecahkan masalah." tiba-tiba Raveena berbicara.


Johan diam, laki-laki itu tersenyum pahit. Sepertinya apa yang diucapkan oleh gadis itu ada benarnya, kenapa harus ragu dan khawatir. Bukankah dirinya memang sedang bersama dengan Putri Tuan Besar Abraham dan Nyonya besar Nancy. Akhirnya muncul keberanian Johan untuk memberitahukan pada kekasihku jika kedua orang tuanya ada di tempat ini.


"Kenapa malah terdiam kak..?" tiba-tiba suara Raveena menyentaknya dari lamun.


Johan tersenyum kecut, kemudian laki-laki itu mendatangi Raveena. Johan meletakkan kedua tangannya di atas bahu gadis itu..


"Veena.. mungkin kali ini sudah menjadi saatnya. Aku akan melamarmu langsung pada Tuan Besar Abraham dan Nyonya besar Nancy."


Raveena terkejut mendengar perkataan itu. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba Johan mengatakan hal itu. Dalam hati, Raveena merasa bahagia, namun merasa ada sesuatu yang salah.


"Apa maksudmu kak.. jangan membuatkan bingung. Tapi jika kak Johan sudah merasa yakin, hari ini juga Veena akan menemani kak Johan terbang ke Canada. Kita akan bersama-sama untuk menyampaikan hubungan kita pada papa dan Mommy.." Raveena menyambut baik usulan ulyanh dikatakan Johan.


"Veena.. kita tidak perlu pergi kemana-mana. Tenanglah aku akan menghadapinya sendiri. Jika ada apa-apa aku akan beritahukan kepadamu, percayalah. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Johan berusaha meyakinkan tekad dan janjinya pada perempuan itu.


Raveena menatap bingung pada kekasihnya.


"Tuan besar Abraham dan Nyonya besar Nancy ada di lobby. Receptionis hotel baru saja memberi tahuku untuk menemuinya, karena tuan muda Ravendra tidak mau bertemu dengannya. Jika ada helikopter dari atas roof top pergi meninggalkan hotel ini, berarti itu adalah tuan muda Ravendra dan nona muda Alexa. aku akan menemuinya." akhirnya Johan menjelaskan pada Raveena.

__ADS_1


Raveena bingung, dan tangan melarang Johan untuk menemui kedua orang tuanya sendiri. Johan menganggukkan kepala, akhirnya Raveena melepaskan tangannya dari badan laki-laki itu.


"Aku ke bawah dulu ya.." sambil tersenyum, Johan berjalan meninggalkan Raveena sendiri. Gadis itu hanya menatap punggung suaminya yang berjalan meninggalkannya menuju pintu keluar.


"Doaku bersamamu kak.. dalam keadaan apapun aku akan selalu menemanimu. Bahkan jika hari ini, Mommy dan papa menolak hubungan kita, hari ini juga aku akan mengesahkan hubungi kita. Aku tidak akan peduli dengan penilaian dari siapapun." Raveena berbicara pada dirinya sendiri.


Perlahan Raveena berdiri, untungnya beberapa waktu yang lalu, gadis itu sudah mencari informasi tentang pernikahan di negara Indonesia. Karena saat ini, dirinya berstatus sebagai warga negara Amerika, sedangkan Johan berstatus sebagai warga negara Rumania. Tetapi dengan menggunakan koneksi dan uang, Raveena dengan tanpa susah payah sudah berhasil mendapatkan semuanya.


Raveena menyusun dengan rapi semua berkas tersebut, jika sewaktu-waktu dibutuhkan dia tinggal melalui panggilan telpon pada orang-orang bayarannya. Semua akan terjadi hari ini juga, jika dia mau dan menghendakinya.


********


Di lobby


"Tidak biasanya papa mengurus ijin sangat lama. Sehebat apa identitas gadis itu, sampai sebegitunya petugas hotel melindunginya." Nancy berani pada dirinya sendiri.


Perempuan ini memang tidak mengetahui ada dimana saja aset-aset yang dimiliki suaminya. Sehingga di hotel ini, tuan besar Abraham memilih saham terbesar setelah Ravendra putranya juga tidak diketahuinya. Terlihat sekali, sikap tidak sabaran sudah terlihat di wajah Nyonya besar Nancy.


Tiba-tiba mata Nancy menatap seseorang yang dikenalnya sedang masuk ke dalam hotel. Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, perempuan itu menajamkan pandangannya.


"Bukankah itu Thomas, untuk apa dia ada di hotel ini. Bagaimana Abraham tidak tahu jika saudara sepupuku itu ada disini?" Nancy berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun seperti biasanya, terlalu gengsi jika dirinya menghampiri laki-laki itu lebih dulu. Perempuan itu hanya menunggu sampai Thomas melihat kepadanya. Tidak lama kemudian, Thomas merasa terkejut ketika tatapan matanya bertabrakan dengan tatapan mata Nancy. Laki-laki itu kemudian berjalan menghampirinya perempuan itu.


"Nancy.. ada apa kamu berada di kota ini. Ravendra tidak bercerita apapun jika kamu juga ada di Batam." Thomas langsung bertanya pada perempuan itu.


Nancy tersenyum kemudian mereka bersalaman. Melihat Thomas kebingungan, Nancy menunjuk keberadaan Abraham yang sedang berbicara dengan petugas hotel. Melihat hal itu, otak Thomas mulai berpikir. Tuan besar Abraham memiliki saham di hotel ini, dan laki-laki itu juga tahu jika putranya Ravendra sudah menjalin ikatan dengan putrinya Alexa.


"Apakah Abraham mencoba melindungi Ravendra dan Alexa, sehingga perlu untuk bernegara dengan petugas hotel." Thomas berpikir sendiri.


"Aku harus mengakhiri semuanya. Apalagi putriku tidak lama lagi sudah akan melahirkan. Aku tidak butuh ijin atau restu dari Nancy, apapun akan aku lakukan untuk Alexa " tanpa perlu mendengar jawaban keluar dari mulut Nancy, Thomas segera berjalan meninggalkan perempuan itu dan menghampiri Abraham.


"Tuan besar Abraham... tidak aku sangka, kita bisa bertemu lagi di kota Batam.." Thomas menyapa papa Ravendra dari belakang.


Abraham menoleh dan melihat keberadaan Thomas di belakangnya, laki-laki itu tersenyum lebar kemudian memeluk Thomas.


"Thomas... tidak usah aku beri tahu kepadamu. Kamu pasti sudah bisa menebak untuk apa aku berada di hotel ini bukan?" Abraham menyambut Thomas dengan pertanyaan.


"Aku paham Abraham.. dan memang tidak perlu ada lagi yang akan kita tutupi. Semua juga sudah terjadi.. dan aku sudah membulatkan tekadku. Aku akan mengatasi hal yang sebenarnya pada Nancy. Mengatakan jika putra laki-lakinya sudah menikahi putriku, dan tidak akan ada yang bisa memisahkannya hubungan itu kembali. Termasuk istrimu Abraham.." Thomas berbicara dengan nada sarkasme.


"Kamu salah sangka terhadapku Thomas. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita bisa menuju ke Penthouse. Aku kesulitannya untuk menuju ke sana sejak tadi." sahut Abraham dengan senyuman di bibirnya.


"Okay.. ikuti aku. Aku akan mengajakmu untuk naik ke atas, aku memiliki hak khusus untuk masuk ke Pent house kapanpun aku mau." ucap Thomas.

__ADS_1


*******


__ADS_2