
Alexa dengan berhati-hati melihat jalan di depannya, kemudian menaikkan kakinya untuk mendekati papanya Thomas. Laki-laki itu memegangi tangan Alexa, memastikannya agar putrinya tidak jatuh terpeleset ke bawah. Setelah sampai di atas, Thomas membawa tangan Alexa dan diajaknya meraba dan mengamati dinding batu di depannya itu.
"Apa yang kamu rasakan Lexa, apakah kamu menemukan keanehan pada dinding batu ini?" Thomas bertanya pada gadis itu.
"Sepertinya dinding batu yang sebelah sini, bukan merupakan dinding batu asli pa. Coba papa ketuk-ketuk untuk memastikannya, sepertinya suara dinding satunya terdengar berat, namun yang sebelah sini seperti kopong atau tidak ada isinya." Alexa memukul dengan menggunakan tangannya dinding di depannya itu.
"Benar Lexa.., sejak tadi papa juga merasakannya. Dung.. dung.." terdengar bunyi dinding batu yang warnanya lebih cerah dari dinding sebelahnya.
"Seperti ada ruang kosong di sebalik dinding batu ini pa. Bagaimana jika kita buka dinding batu ini, tapi kalau kita menghancurkannya secara kasar, khawatirnya akan mengganggu ornamen yang ada di dalam goa ini," Alexa kembali memukul pelan dinding batu itu.
"Kita harus berhati-hati Lexa.., jangan bertindak sembarangan. Karena seperti ada aura mistis yang menyelimuti tempat ini. Kita akan mencari cara lain untuk dapat melihat ruangan di balik dinding batu ini. Ayo kita susuri wilayah goa di sebelah lainnya." Thomas mengiyakan keinginan putrinya, tetapi juga berpesan untuk tidak bertindak sembarangan.
Dengan hati-hati, Thomas menuruni tempat itu terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Alexa turun dari tempat yang tinggi tersebut. Dengan berpegangan pada tangan papanya, Alexa menuruni batuan itu, dan hampir saja gadis itu tergelincir. Dengan sigap, Thomas menarik dan memeluk tubuh putrinya kemudian membawanya ke tempat yang lebih aman,
__ADS_1
"Terima kasih pa.. untung ada papa. Kita ke sudut di sebelah sana pa.., batu-batuan berharganya terlebih lebih bening." tiba-tiba Alexa melihat tempat di sudut ruangan dalam goa tersebut.
Thomas melihat sudut ruangan yang ditunjukkan putrinya, kemudian menarik Alexa untuk mendatangi tempat itu. Kedua orang papa dan putrinya itu, seperti sedang melakukan explore travelling di dalam goa itu. Keduanya terlihat antusias melihat dan memegang batu-batuan yang sangat indah, dan tanpa memiliki ambisi untuk mendapatkan itu semua.
"Lihatlah Lexa.., ini batu jenis Aqua Marine.., dan sering menjadi koleksi para kolektor-kolektor dunia. Harganya mencapai milliaran rupiah. Amatilah, batu ini sangat indah dan menenangkan seperti warna langit birunya, yang bisa berkisar dari biru muda ke biru tua. Batu ini dipercayai bisa melindungi pemiliknya dari stres dan penyakit tenggorokan. Selain itu, Aquamarine dikenal memiliki efek menenangkan, sehingga sangat baik digunakan untuk meditasi." Thomas memberikan penjelasan pada batu berwarna biru muda yang sangat terang di depannya itu.
"Batu permata ini juga dapat membawa kedamaian kepada pemiliknya, dan membantu mencapai kebenaran dan kebijaksanaan. Itu Alexa pernah membacanya dalam sebuah telaah tentang batuan permata pa.." Alexa menambahkan. Papa dan putrinya terlibat dalam diskusi tentang batu-batuan permata yang ada di dalam goa itu. Bahkan mereka merasa tidak ada rasa capai dan lelah, meskipun sudah hampir seharian berada di tempat itu.
"Papa punya koleksi batuan ini Lexa, namun tertinggal di rumah papa yang ada di Canada. Sometimes.. papa akan memberikannya untukmu, akan sangat cantik jika melekat di kulitmu yang putih bersih." Thomas menjanjikan batuan koleksinya untuk Alexa.
********
Ravendra dan Johan akhirnya sampai juga di pusaran pepohonan yang ada di tengah hutan itu. Sesuai namanya adalah sebuah pusaran, mereka hanya berputar-putar dan menghabiskan waktu di tempat itu beberapa saat. Wajah Ravendra sudah terlihat kesal, laki-laki sampai emosi dan menembakkan peluru ke barisan pohon-pohon tersebut, Johan hanya melihatinya saja, tidak berani untuk mengingatkan tuan mudanya. Setelah beberapa saat, sepertinya Ravendra sudah merasa seperti kecapaian.
__ADS_1
"Betul-betul sangat membosankan tempat ini Johan. Apakah kamu belum pernah memasuki dan tersesat di tempat ini?" Ravendra bertanya pada asisten pribadinya itu.
"Kapan itu saat saya dan beberapa pengawal menyelamatkan nona muda ALexa, kami belum masuk ke tempat ini Tuan Muda. Nona muda Alexa yang sudah masuk ke tempat ini bersama dengan beberapa pengawal, dan akhirnya terlibat konflik dengan para manusia vampire yang banyak berseliweran di tempat ini." Johan menjawab pertanyaan laki-laki yang terlihat gundah dan emosi itu.
"****.., bagaimana kabar istriku saat ini. Istriku sedang mengandung janinku Johan.. kita tidak bisa bermain-main untuk keadaan ini. Keselamatan janin dan istriku merupakan hal yang utama, tidak ada yang lain." Ravendra terus berbicara dengan nada tinggi,
Kedua laki-laki itu hanya terduduk di atas sebuah batang pohon. Mereka sejak tadi berusaha keluar dari tempat itu, namun akhirnya mereka kembali ke tampat pertama kali mereka memasuki tempat itu. Pohon-pohon pinus dan trembesi yang tumbuh di tempat itu, hampir semuanya memiliki bentuk dan pola yang sama. Mereka seperti tertanam dengan terencana, menggunakan lanscape pengaturan yang membentuk sebuah labirin. Burung-burung tampak beterbangan di atas langit. Tiba-tiba...
"Johan.., coba amati burung-burung yang ada di atas. Sepertinya sejak tadi, burung-burung itu selalu bergantian, berarti mereka mengetahui jalan keluar dari dalam hutan ini. Kita perlu mengikuti burung-burung itu Johan. Cepat lihat dan amatilah gerak-geriknya." Ravendra menunjukkan jarinya ke atas, ke arah kawanan burung yang beterbangan di atas mereka duduk.
Tanpa menjawab, Johan ikut melihat ke atas ke tempat burung-burung itu beterbangan. Ketika burung itu membubung tinggi, tiba-tiba burung itu hilang tidak kembali. Beberapa saat mereka menunggu, burung yang ada di atas mereka, ternyata sudah berganti dengan kawanan burung yang lain.
"Benar tuan muda.., sepertinya kita harus mengikuti terbang burung-burung itu. Burung yang sudah terbang membubung tinggi dan keluar dari tempat ini, ternyata tidak kembali lagi kesini. Kita bisa mengikuti burung-burung itu terbang agar kita bisa membebaskan diri dari tempat ini." wajah Johan terlihat cerah, laki-laki itu seperti sudah menemukan jalan untuk keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Laki-laki itu kemudian berdiri diikuti Ravendra, kemudian mengarahkan tangannya ke atas. Kedua laki-laki itu akhirnya terbang ke atas, mengikuti kawanan burung yang terus terbang di atas gugusan pohon-pohon yang ada di tempat itu. Setelah berada di atas pohon, burung-burung itu terbang mengikuti pola lurus, dan tidak melihat ke bawah. Kedua laki-laki itu mengikuti terus kemana burung itu membawa mereka pergi.
*********