
Sesampainya di Presidential Suites hotel yang berada di kota Frankfurt, Nyonya Sarah menunggu-nunggu kedatangan putrinya Alexa dengan cucunya Abhimana. Tetapi hampir mendekati tengah malam, perempuan paruh baya itu belum juga mendapati putri dan menantu juga cucunya. Berkali-kali ponsel Alexa juga Ravendra mencoba di hubunginya, namun tidak ada panggilan keluar. Sepertinya pasangan suami istri itu sengaja menon aktifkan ponsel, sedang tidak mau diganggu.
"Mam.. sampai kapan mama menunggu disini. Sudah malam mam.. istirahat dulu kenapa..?" Thomas yang merasa sendiri di dalam kamar keluar mendatangi istrinya.
"Iya pap.. sebentar lagi. Mama masih menunggu Lexa dan Ravendra.. , membawa Abhimana kesini. Tetapi kenapa sampai jam segini mereka belum datang ya pap.. mama merasa sangat khawatir akan keamanan mereka. Mana ponselnya juga tidak bisa dihubungi lagi.." dengan penuh khawatir, Nyonya Sarah terlihat benar-benar mencemaskan keberadaan putri dan cucunya.
Thomas tersenyum, laki-laki itu berjalan mendekati istrinya kemudian memeluk Nyonya Sarah dari belakang. Apalagi melihat istrinya sejak tadi tidak mengenakan coat, padahal udara di kota itu sangat dingin.
"Menantu kita itu orang yang tidak mudah untuk kita pahami mam.. Hilangkan rasa khawatir mama, paling-paling Ravendra ingin punya waktu privacy dengan istri dan putranya. Sudahlah..., ayo kita segera masuk saja, waktunya sudah semakin malam. Papa saja sudah menguap menahan kantuk sejak tadi, memang mama tidak mengantuk apa..?" Thomas mengajak Nyonya Sarah istirahat.
"Ya kalau apa yang papa sampaikan benar, jika tidak bagaimana. Kita hanya putra satu anak pa.. begitu santainya ma.. kenapa kita tidak betul-betul memastikan keselamatan mereka. Sejak dari tempat Robert, mama sudah menginginkan kalau kita gunakan satu pesawat saja. Namun papa selalu bilang jika sudahlah ma.. sudalah ma.. Jadinya seperti ini kan.." Nyonya Sarah berbicara dengan nada tinggi, memprotes sikap yang ditunjukkan suaminya,
Melihat istrinya kalap, Thomas menarik lebih dekat tubuh istrinya dan memeluknya erat. Tidak bisa dipahami rasa khawatir yang dirasakan Sarah, karena sejak kecil istrinya hanya tinggal berdua dengan putrinya Alexa. Ketika sudah saatnya mereka harus berpisah, perempuan paruh baya itu belum bisa menghentikan rasa khawatirnya.
"Masuk dulu saja kita mam ke dalam kamar. Tidak nyaman kan, jika ada orang atau kita berdua gusar di luar ruangan." untuk menenangkan istrinya, Thomas membawa Sarah masuk ke dalam kamar. Perempuan paruh baya itu terlihat seperti ragu-ragu, tetapi Thomas tetap berjalan sambil merangkul pundak istrinya.
"Nanti papa, telpun Ravendra sendiri, menanyakan ada dimana posisi mereka sekarang." mendapatkan jawaban menenangkan dari suaminya, akhirnya Sarah terduduk namun belum mau beristirahat.
__ADS_1
Di dalam kamar akhirnya Thomas melakukan panggilan ke nomor menantunya Ravendra, namun tidak bisa terhubung. Laki-laki itu terus mencoba, namun sampai lima kali panggilan tetap tidak ada tanda-tanda jika nomer ponsel menantunya itu bisa dihubungi. Thomas berganti mencoba menghubungi putrinya Alexa, namun hal yang sama juga terjadi sama persis ketika menghubungi menantunya. Mulai tampak kecemasan di wajah laki-laki itu. Meskipun dengan sumberdaya yang dimiliki Ravendra, laki-laki itu bisa melakukan segalanya. Namun dari kejadian terakhir yang mereka alami bersama-sama, akhirnya Thomas juga merasakan kekhawatiran.
"Bagaimana pap.. apakah sudah ada respon dari putri atau menantu kita..?" dengan tidak sabar, Thomas bertanya pada suaminya. Thomas menjawab dengan mengangkat tangannya ke atas, dan laki-laki itu menghubungi pilot helikopter yang membawa Alexa dan Ravendra ketika berpisah dengan mereka.
Tanpa menjawab, Thomas segera melakukan panggilan keluar. Untungnya meskipun sudah tengah malam, panggilannya masih diangkat oleh pilot tersebut.
"Kami menurunkan tuan muda Ravendra dan nona muda Alexa di bandara Frankruft tuan.. Sepertinya mereka melanjutkan perjalanan menuju negara Swiss, tapi untuk sesudahnya saya sudah tidak tahu informasinya.." jawaban yang disampaikan pilot helikopter, sangat melegakan perasaan laki-laki itu. Setelah berbasa-basi sebentar. Thomas segera mengakhiri panggilan itu.
Laki-laki itu kemudian menyimpan kembali ponselnya ke atas meja, kemudian kembali berjalan mendekati Nyonya Sarah yang masih terlihat cemas menantikan jawaban penjelasan keberadaan putri serta cucunya.
"Benarkah demikian pap.." masih dengan tidak percaya, Nyonya Sarah bertanya pada Thomas. Laki-laki itu tidak menjawab, hanya tersenyum menganggukkan kepala.
**********
Karena tidak bisa menghentikan keinginan istrinya Nyonya Sarah, akhirnya Thomas menemui Johan. Laki-laki itu menanyakan kastil atau sumber daya yang dimiliki menantunya itu, karena Sarah terus merengek minta diantarkan ke tempat Alexa dan Abhimana. Sebenarnya Thomas, sedikit banyak memahami bagaimana karakter dan watak dari keponakannya itu, namun juga tidak bisa mengabaikan keinginan Sarah istrinya.
"Bagaimana Jo.. apakah kamu tahu tempat yang digunakan Ravendra untuk menetap selama berada di kota Swiss." Thomas bertanya pada Johan.
__ADS_1
"Jika sendiri tuan muda biasa menginap di presidential suites. Tetapi sepertinya tuan muda juga memiliki kastil di sekitar pegunungan Alpen, namun aku belum pernah kesana Uncle.. Atau coba aku tanyakan pada Raveena, siapa tahu gadis itu tahu dimana kastil kakaknya itu." Johan ternyata juga tidak mengetahui letak keberadaan kastil Ravendra di Swiss.
"Baiklah.. tapi jangan terlalu lama Jo.. Tahu sendiri bagaimana kerasnya sikap dan kemauan istriku Sarah, mamanya Alexa.." Thomas menanggapi perkataan Johan.
"Mmm.. iya Uncle.. sama persis dengan sikap dan karakter nona muda Alexa.. " sahut Johan.
"Benar, benar Jo.. ternyata buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Okay.. aku akan kembali ke kamar dulu, untuk menyampaikan informasi ini pada Sarah istriku." Thomas segera meninggalkan Johan sendiri di ruang breakfast.
Terlihat Raveena yang membawa vegetable salad di tangan, berjalan mendekati meja yang ditempati oleh suaminya. Johan tersenyum menyambut kedatangan istrinya, segera menyingkirkan gelas dan piring kotor bekas digunakan Thomas.
"Ada apa kak.. untuk apa Uncle Thomas minta waktu khusus pada kak Johan.." Raveena bertanya pada Johan.
"Biasa sayang.. laki-laki BUCIN.. selalu berusaha menuruti keinginan dari istri tercintanya. Kak Ravendra dan kak Alexa kan tidak bersama kita, dan auntie Sarah terus menanyakan keberadaan mereka. Sampai Uncle menghubungi pilot helikopter yang menerbangkan kak Ravend dan kak Alexa ke bandara. Ternyata menurut informasi dari mereka, ternyata kak Ravend dan kak Lexa terbang menuju ke negara Swiss. Apakah sayang tahu, dimana tempat tinggal mereka jika berada di negara Swiss.." Johan segera menanyakan apa yang dijanjikan tadi dengan Thomas.
"Kak Ravendra ada kastil di pegunungan Alpen kak.. Veena yakin, kak Ravend membawa kak Lexa dan Abhimana ke kota kecil itu. Pernah sekali, Veena dan teman-teman menginap di kastil itu ketika melakukan long vacation dengan teman-teman di kota kecil itu." Raveena segera menceritakan keberadaan kastil tersebut.
*********
__ADS_1