
Pagi hari ketika Alexa dan Ravendra berjalan menuju meja makan, kedua orang pasangan suami istri itu terkejut. Mereka melihat keberadaan mama Alexa Nyonya Sarah dan juga Tuan Thomas sudah duduk di meja makan. Di samping kedua orang tua itu, terlihat stroller Abhimana dengan putranya yang sedang tertidur pulas. Tanpa basa basi, ALexa segera berlari dan menubruk ibundanya Sarah.
"Mama.. kapan mama sampai ke tempat ini.. bagaimana papa dan mama bisa tahu, jika kami berada di tempat ini.." Alexa memberondong Nyonya Sarah dengan pertanyaan, bagaimana mereka bisa menjangkau tempat ini.
Nyonya Sarah tidak menjawab, perempuan paruh baya itu menghujani putrinya dengan ciuman, kemudian mendudukkan putriny di kursi yang ada di sampingnya. Ravendra berdiri dan tidak segera duduk, karena laki-laki itu ingin Alexa yang duduk di sebelahnya, tidak mau yang lainnya. Makanya dengan sabar, laki-laki itu menunggu istrinya yang sedang berbincang dengan mamanya.
"Papamu Lexa yang mencari tahu tentang keberadaanmu.. Bahkan papa sampai menelpon pilot helikopter dan pilot private jet yang membawa kalian kesini. Kenapa sih tidak memberi tahu kami tentang keberadaan kalian, kami mengkhawatirkan keadaan kalian.." akhirnya Nyonya Sarah menjawab pertanyaan ALexa.
Ravendra tersenyum dan memahami kekhawatiran mama mertuanya. Laki-laki itu kemudian memegang pundak istrinya, kemudian memeluk Alexa dari belakang..
"Lexa tidak salah mam..., dia juga tidak tahu apa-apa. Ravendra yang membawa istri dan juga putra kami Abhimana ke tempat ini. Yah.. setelah banyak kejadian menegangkan akhir-akhir ini, sepertinya tempat ini bisa menghilangkan rasa trauma istri Ravendr di sini mam.." Ravendra berusaha membela istrinya, agar Nyonya Sarah menimpakan kesalahan kepadanya, bukan pada istrinya.
"Benar yang dikatakan Ravendra mam.. kita makan pagi dulu saja. Toh.. semuanya juga sudah berkumpul kembali, dan makanan juga sudah siap tersaji di depan kita. Lexa.. mau duduk di sebelah mana, jika kamu pindah duduk di samping Ravendr.. biar papa yang duduk di samping mamamu.." Thomas ikut menanggapi, tidak mau memperpanjang perbincangan.
"Ya pap.. Lexa duduk samping papanya ABhimana saja.." begitu selesai menjawab, Ravendra sudah mengajak istrinya berdiri, kemudian menariknya untuk duduk di sampingnya.
Alexa langsung kembali berdiri, kemudian mengambil beberapa potong sandwich tuna dan meletakkan di atas piring suaminya. Selain itu, gadis muda itu juga mengambil salad untuk makanan pembuka..
__ADS_1
"Kakak mau minum apa.. biar Lexa siapkan.." selesai menyajikan makanan, Alexa menawarkan minuman untuk suaminya.
"Hot americano saja.. pakai brown sugar seperti biasanya.." sambil mulai memotong-motong sandwich, Ravendra menjawab pertanyaan istrinya.
"Raveena dan Johan kemana Mam.. Ravendr yakin.. Veena bukan yang memberi tahu letak persis keberadaan kastil ini. Karena Johan saja juga tidak tahu, ketika beberapa warga sekitar Danau Luzern menyediakan kastil ini buatku.." sambil memasukkan potongan sandwich ke mulutnya, Ravendra bertanya pada Nyonya Sarah.
"Iya Vendr.. Raveena yang memberi tahu kami. Sebenarnya mereka berdua juga berada dalam satu pesawat dengan kami, tetapi sepertinya Raveena dan Johan akan melakukan pendakian Alpent Mount.. jadi tidak bisa bergabung dengan kita di kastil ini.." Thomas menjawab pertanyaan Ravendra,
"Iya.., anak itu memang tidak pernah bisa merubah hobby kesenangannya. Sejak dulu, Raveena memang senang sekali melakukan kegiatan out door, hiking, climbing.. dan lain sebagainya, selalu menjadi pilihan gadis itu untuk menyalurkan kesenangannya.." Ravendra bergumam.
"Sama dong sebenarnya dengan Lexa.. mmm.. sepertinya lain waktu kita bisa pergi bareng nih.." tanpa sadar, Alexa menyahut.
"Upss... iya maaf kak.. Lexa lupa jika ada pangeran Abhimana yang selalu mengawal keberadaan lexa dimanapun. Iya deh.. menunggu Abhimana sudah besar, bisa berjalan sendiri., sepertinya sangat menarik untuk kita bisa tracking bareng-bareng.." dengan cepat, ALexa merubah manuver perkataannya.
Ravendra tersenyum, kemudian meletakkan garpu di atas piringnya, dan mengusap rambut istrinya ke bawah.
*********
__ADS_1
Johan dan Raveena berhenti sambil meminum air mineral langsung dari botolnya. Tatapan pasangan pengantin itu pada pegunungan indah yang ada di depan mata mereka. Sedikitpun mereka tidak melakukan kecurangan, dengan terbang seperti layaknya manusia vampire, mereka menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Saat ini mereka sudah sampai di Gunung Pilatus yang megah,yang merupakan pegunungan yang indah dan berada di pusat Swiss. Posisi gunung ini sangat sentral, dan membuat gunung ini menjadi bagian dari tiga kanton: Obwalden, Nidwalden, dan Luzern. Pasangan suami istri itu dapat mencapai puncak gunung melalui Pilatus Railway, dalam 30 menit perjalanan dengan roda gigi paling curam yang pernah dikenal.
"Sebentar lagi kita akan sampai di puncak tertinggi dari kawasan pegunungan ini sayang. Puncak ini terletak di perbatasan antara Obwalden dan Nidwalden." Raveena dengan mata berbinar menjelaskan posisi keberadaan mereka pada Johan suaminya.
"Iya .. aku juga pernah mendengarnya, dan beberapa kali membaca melalui internet. Kita harus segera melanjutkan, dan membuka tenda di puncak sana. Apakah kamu yakin dengan rencana gilamu sayang.." Johan menatap wajah istrinya. Bercinta di atas puncak gunung, ide gila yang ditawarkan Raveena sepertinya sangat menarik untuk mereka lakukan.
"Why not.. kita bisa rasakan sensasinya sayang. Sensasi takut ketahuan oleh pendaki yang lain.. juga menghilangkan rasa dingin dengan kita saling menyatu.. Wow... menakjubkan.." bayangan Raveena secara liar sejenak mengembara, dan membuat gadis itu sejenak terdiam. Bibir gadis muda itu terlihat basah, membayangkan apa yang akan dilakukannya dengan Johan, ketika mereka sudah sampai di atas puncak gunung.
"Hmmm... terserah dengan fantasi liarmu sayang.. Kita harus segera bergegas.. agar kita bisa membuka tenda setelah sampai disana.." melihat istrinya terhenti dalam perjalanan, Johan segera merangkul pundak istrinya dan mengajaknya kembali berjalan,
Sepanjang perjalanan tersebut, pasangan suami istri itu dapat menikmati pemandangan indah yang ditawarkan gunung pada musim ini. Tanpa merasa capai sedikitpun, mereka terus berjalan naik ke atas. Beberapa kali Raveena terhenti, kemudian mengambil beberapa gambar dari ketinggian. Tiba-tiba tepat ketika mereka berada di sebuah tebing, tiba-tiba Johan memeluk Raveena kemudian membawa istrinya lebih minggir ke tepian tebing.
"Arahkan kameramu sayang.. kita belum memiliki dokumentasi foto di tempat ekstrim seperti ini.." bisik Johan di telinga Raveena. Uap hangat dari bibir Johan yang menyentuh belakang telinganya, membuat hati Raveena menjadi berdesir, dan gadis muda itu tiba-tiba menginginkan hal yang lebih.
"Sayang... berani terima tantangan untuk kita bermain di tempat ini.." sambil menjilat leher Johan, Raveena menantang laki-laki muda itu.
"Jangan berpikir dan bertindak gila sayang... aku hanya ingin kita foto bersama saja. not more.." tiba-tiba bibir Johan merangsek dan menangkap bibir Raveena. Sejenak keduanya berpagutan mesra di pinggir tebing, dan tanpa kata Johan berkali-kali mengambil gambar mereka berdua.
__ADS_1
********