Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Perkenalan


__ADS_3

Dengan merubah identitas barunya, Robin menikmati hari-hari di Istanbul. Laki-laki itu menyusuri Topkapi Palace, sebuah istana megah peninggalan Turki Utsmani, dan juga sekaligus berubah menjadi pusat pemerintahan Turki. Tatapan matanya mengagumi arsitektur bangunan yang ada di depannya itu, dan tanpa melihat ke depan, Robin terus berjalan dengan pandangan mata ke kanan kiri bangunan tersebut.


"Brukk..., aaawww.." tiba-tiba Robin merasa sedang menubruk seseorang, dan terdengar jeritan suara perempuan di depannya.


"Sorry Miss..., saya tidak sengaja sudah menubruk anda." dengan tatapan menyesal, Robin menurunkan tubuhnya ke bawah untuk memberi pertolongan pada perempuan itu. Buku-buku tampak berceceran di bawah, dan Robin tanpa ragu ikut mengambili buku-buku tersebut.


Ketika akan menyerahkan buku tersebut, Robin terlihat terkesima dengan perempuan cantik di depannya. Sepasang mata yang indah dengan didominasi warna biru mengerjap indah, di tengah wajahnya yang cantik. Tiba-tiba tangan perempuan itu memegang dan akan menarik buku yang masih berada dalam pegangan tangannya.


"Ini buku-buku saya, bisakah saya mengambilnya kembali?" terdengar pertanyaan yang keluar dari bibir perempuan cantik itu, dan sekali lagi Robin tergagap. Matanya tidak mau berpindah dari menatap gadis itu,


"Hmm.., maafkan saya. Please forgive me Miss..." Robin menyampaikan permintaan maaf pada gadis itu, dan laki-laki mengulurkan tangan pada perempuan itu..


"Kenalkan saya Jack..., what your name.., apakah saya bisa mengenal anda..?" Robin mengajak perempuan itu berkenalan, dan mengaku memiliki nama Jack.


"Okay my name is Laura.. You can call me Laura..." dengan ramah perempuan itu mengenalkan namanya adalah Laura, Senyuman kedua orang itu langsung bertemu.


"Miss Laura.., untuk menebus rasa bersalahku. Aku akan mengajakmu untuk makan siang bersama, aku akan mentraktirmu kali ini. Maukah kamu...?" merasa tertarik dengan gadis bernama Laura tersebut, Robin mengajak untuk makan bersama.


"Really..., aku pasti akan menyetujuinya. Kebetulan saya juga ingin mencari makan siang, sehingga tergesa-gesa dan bertubrukan dengan anda." dengan ramah, Laura menyambut baik penawaran yang diberikan oleh Robin.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, kedua orang itu segera berjalan meninggalkan tempat tersebut. Mereka saling berbicara dan mengenalkan diri di sepanjang perjalanan. Rupanya Laura adalah mahasiswa yang sedang menempuh studi di negara tersebut. Untuk negara aslinya, gadis itu berasal dari Norwegia. Beberapa saat mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah restaurant yang bernama Avlu Restaurant, dan Robin langsung mempersilakan duduk gadis itu. Restaurant itu merupakan Mediterranean-Turkish Cuisine All-Day Dining.


"Terima kasih Robin.., kamu sangat perhatian denganku.." Laura tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.


Tangan Robin melambai, mencoba memanggil pelayan untuk mendekat pada mejanya. Seorang pelayan membawa menu book, dan menyerahkan pada Robin dan Laura masing-masing satu buku. Merasa tidak bisa berdamai dengan menu masakan Turki, Robin memilih makanan yang terbuat dari beef.


"Beef steak..., iskender kebab, and Türk Kahvesi." Robin menyebutkan makanan yang dia pesan.


"Laura.., menu makanan apa yang kamu pesan girl..?" setelah menyebutkan menu pesanannya, Robin dengan sopan bertanya pada perempuan Norwegia itu.


"Kebab and Sahlep.." terbiasa dengan makanan berbasis roti, Laura tidak begitu masalah dengan masakan Turki.


*********


Selepas makan siang, Robin dan Laura masih berjalan-jalan bersama. Rupanya gadis itu tertarik dengan Robin, karena kesopanan dan perilaku laki-laki itu yang dapat menarik perhatiannya. Sedangkan Robin merasa bosan dengan hidup sendiri di kota itu, tidak mau memanfaatkan kesempatan yang sia-sia. Laki-laki itu terus berusaha mengambil perhatian dari gadis tersebut..


"Laura.., bagaimana jika untuk sementara kamu ikut denganku. Kita pulang ke guest house tempatku menginap. Kebetulan aku menempati kamar yang besar sendirian, dan aku akan sangat tersanjung jika kamu mau bergabung denganku untuk kesana saat ini." menggunakan jurus merayu gadis, Robin mencoba mengajak Laura untuk mampir ke guest house tempat laki-laki itu menginap.


"Hmmm..., tapi Jack.. Apakah tidak akan melanggar norma kesopanan, jika aku ikut denganmu ke guest house?" dengan rasa ragu, Laura bertanya pada laki-laki itu.

__ADS_1


"Laura..., look at me...! Apa yang kamu katakan cantik.., kita sama-sama manusia yang sudah dewasa. Tidak akan ada yang mempermasalahkan kita, dan kamu jangan khawatir. AKu hanya butuh teman untuk mengobrol dan berbicara, aku harap kamu tidak berburuk sangka padaku..." merasa khawatir dikira akan memanfaatkan gadis itu, Robin mencoba menepis keraguan Laura.


Gadis itu melihat ke wajah RObin, dan laki-laki itu tersenyum padanya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya muncul senyum merekah di bibir gadis itu.


"Okay Jack.., aku setuju dengan ajakanmu. Tapi kamu harus memegang janji dan perkataanku, jika kita hanya bicara.., tidak ada yang lain." Laura menegaskan kembali pada laki-laki itu.


Robin tersenyum dan menganggukkan kepala. Tanpa banyak bicara, Robin memegang pundak gadis itu, kemudian mengajaknya berjalan meninggalkan tempat terakhir kali mereka berada. Laki-laki itu sengaja mengajak Laura berjalan kaki, karena memang untuk menuju ke arah guest housenya tidak terlalu jauh,


"Jika aku main ke guest house, apakah tidak akan ada yang marah atau jealous padaku Jack..? Aku harus memastikan dulu kepadamu, aku tidak mau menimbulkan salah sangka dan permusuhan pada perempuan lain." Laura dengan ceplas-ceplos mengutarakan isi hatinya.


"Jangan khawatir Laura.., I.m free man. Tidak akan ada yang marah kepadamu..., dan bahkan malam nanti kamupun bisa menginap di guest house. No matter..." Robin menegaskan jawabannya ada Laura.


"Okay.., aku pegang kata-katamu." ucap Laura sambil tersenyum akhirnya. Keduanya tetap bergandengan tangan, dan sesekali Laura mengajak Robin untuk berhenti di pedagang kaki lima, untuk membeli makanan khas negara Turki yang banyak dijual di jalanan. Sebagai seorang mahasiswa, Laura sama saja dengan mahasiswa di negara manapun, yang masih suka membeli barang-barang unik dan lucu yang mereka temui di perjalanan mereka.


"Robin..., is that you...?" tiba-tiba terdengar panggilan suara laki-laki di belakang Robin. Laki-laki itu mendadap pias, karena dia sengaja menutup identitas aslinya dari perempuan yang ada di sampingnya. Setelah melirik Laura sudah menyelesaikan urusannya, laki-laki itu segera bergegas menggandeng tangan Laura dan membawanya pergi. Sedetikpun laki-laki itu tidak menoleh ke arah orang yang memanggilnya,


"Kenapa sepertinya kita tergesa-gesa Jack.., apakah kamu sedang dalam urusan..?" merasa ganjil dengan berubahnya sikap Robin, Laura memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku ingin segera menuju toilet Laura.., dan aku tidak terbiasa untuk join di toilet umum.." untuk mengurangi kecurigaan perempuan itu, Robin mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


***********


__ADS_2