Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Keinginanku


__ADS_3

Sesuai apa yang diucapkan di bandara, Ravendra tidak mengijinkan adik kandungnya Raveena ikut tinggal di Presidential Suites miliknya. Gadis itu terdiam hanya menatap pintu kamar yang ditutup oleh Ravendra. Melihat perlakuan tuan mudanya, muncul rasa iba pada hati Johan pada gadis yang sudah memporak porandakan hatinya. Laki-laki itu berdiri di depan pintu kamarnya, dan menunggu beberapa saat..


"Apakah nona muda akan berdiri seterusnya di luar pintu kamar. Jika dalam hitungan tiga kali, nona muda tidak beranjak dari tempat tersebut, maka pintu akan otomatis tertutup kembali." terdengar suara Johan mengajak bicara Raveena.


Gadis itu menengok ke sumber suara beberapa saat, tampak Johan yang masih berdiri di pintu dengan bersandar pada salah satu sisi pintu. Tetapi laki-laki itu melihat ke arah lain, seakan tidak mau beradu pandang dengan gadis itu. Raveena terdiam, dan tidak mau membuang waktu. Gadis itu bergegas masuk ke PResidential Suites yang ditempati untuk Johan tinggal selama di pulau Batam.


Melihat ada dua kamar dalam Presidential Suites, Raveena tersenyum, Tanpa bertanya gadis itu masuk ke dalam kamar dengan pintu yang sudah terbuka, dan tanpa meminta ijin pada Johan langsung masuk ke dalam kamar tersebut. Johan hanya mengangkat tangan untuk melarangnya, namun tidak ada suara yang keluar dari tenggorokan laki-laki tersebut.


********


Di dalam kamar


Merasa tubuhnya pegal-pegal, karena hampir dua hari penuh hanya melakukan aktivitas di dalam pesawat, Raveena membaringkan tubuhnya di atas king size bed. Meskipun mereka juga transit di beberapa airport, namun kebanyakan mereka malas untuk keluar dari dalam pesawat, dan tetap memutuskan untuk beristirahat di dalam pesawat.


"Tuhan.. harus sampai kapankah aku sabar untuk menunggu hati kak Johan terbuka untukku?" Raveena berpikir sendiri. Gadis itu hampir kehilangan kesabarannya, berkali-kali mendapatkan penolakan dari Johan asisten pribadi kakak kandungnya.

__ADS_1


Terbayang bagaimana perlakuan kelembutan yang terkadang diberikan Johan kepadanya, dan Raveena tersenyum. Perlahan gadis itu mengusap bibirnya dengan menggunakan jarinya, seperti mencoba mengingat dan merasakan kembali bagaimana bibir laki-laki itu memainkan bibirnya. Bahkan tanpa sadar, Raveena membuka bibirnya perlahan dan mengingat rasa hangat yang diberikan oleh laki-laki itu kepadanya.


"Aku bisa gila jika mengingat ini semua. ****... kenapa harus ada perbedaan di antara kita..? Mama.. papa.. aku akan pergi dari dunia ini selamanya, jika sampai kapanpun mama tidak dapat menerima kehadiran kak Johan dalam hidupku. Hanya laki-laki itu yang akan bisa memberiku kehangatan dan kedamaian. No body... " tanpa sadar, tangan gadis itu membuat gerakan menyapu lampu hias yang ada di atas meja kecil di samping king size bed.


"Prak.. prang..." lampu hias untuk penerang bed itu terjatuh ke atas lantai, dan menimbulkan bunyian nyaring di dalam kamar. Namun sedikitpun gadis itu tidak terusik atas suara itu, Raveena masih melanjutkan lamunannya.


Tetapi sedikitpun tidak diduga oleh gadis itu, dari arah luar kamar Johan berlari menerobos masuk ke dalam kamar. Laki-laki yang sama masih terganggu pikirannya memikirkan Raveena, dengan sigap segera berlari ketika mendengar suara dari dalam kamar gadis itu. Tanpa melihat pada Raveena yang terlentang di atas bed, Johan langsung melihat ke arah lantai kamar gadis itu.


Raveena tersenyum melihap sikap reflek laki-laki yang sangat dirindukan dan dicintainya itu. Perlahan bibir gadis itu membentuk sebuah senyuman, Tanpa bicara, Johan mengambil dan membetulkan lampu hias itu kemudian meletakkan kembali ke atas meja kecil di samping bed yang digunakan untuk tiduran Raveena,


Mata kedua manusia itu beradu, dan terjadilah untuk beberapa saat mereka saling memandang. Namun.. seperti merasa tidak kuat melihat mata puppy eyes gadis yang menantang keberanian untuk merengkuh dan menciumnya, Johan mengalihkan pandangan. Merasa tidak tahan untuk mengendalikan dirinya, Johan bergegas melangkahkan kakinya.


Johan terdiam sebentar, dan laki-laki itu merasa terbuai dan terlena mendapatkan perlakuan intim dari adik kandung tuan mudanya. Telapak tangan Raveena mengusap lembut dada bidang laki-laki itu, dan perlahan masuk ke dalam baju kemeja yang dikenakan Johan. Mendapat sentuhan itu, Johan memejamkan mata dan menikmati belaian tangan Raveena di dadanya. Nafas Johan sangat memburu, dan tubuh laki-laki itu menjadi bergetar ketika terasa ada hembusan hangat di belakang telinganya.


"Kakak.. hug me please. I miss you.." bisik Raveena di telinga Johan. Lidah gadis itu tanpa permisi menari-nari di belakang telinga Johan, dan terlihat jika laki-laki itu menikmati dan terbuai dengan perlakuan dari gadis di belakangnya itu. Tampak jelas terlihat.. kebutuhan dasar Johan meminta untuk dipuaskan. Namun tiba-tiba.. laki-laki itu kembali tersadarkan. Dengan cepat Johan melepaskan tangan Raveena, dan dengan lembut membanting tubuh gadis itu ke atas ranjang. Tanpa bicara.. Johan berjalan keluar meninggalkan Raveena sendirian di dalam kamar. Dengan tatapan kecewa, dan nafsu yang sudah menguasainya, Raveena memandang punggung laki-laki itu meninggalkannya.

__ADS_1


**********


Di dalam kamar satunya


Johan membaringkan tubuhnya di atas king size bed di dalam kamarnya. Nafas laki-laki itu masih memburu, dan nafasnya belum teratur. Masih jelas bagaimana kelembutan perlakuan yang diberikan perempuan yang sangat dicintai dan disayanginya sejak kecil itu. Johan memejamkan matanya, terus membayangkan dan tidak bisa melupakan sikap intim yang diberikan Raveena kepada dirinya.


"Veena.. love you baby..." terdengar suara geraman dari bibir Johan.


Tanpa bisa dicegah, tangan laki-laki itu self service sambil beberapa kali mendesis menyebut nama adik kandung Tuan Muda Ravendra. Ada aliran keras di dalam perutnya yang ingin membuncah keluar, dan laki-laki itu hanya memejamkan matanya sambil merasakan sentuhan kehangatan yang tadi diberikan Raveena pada tubuh kekarnya.


"Damn it.. I want you Veena..." tiba-tiba Johan mengumpat. Laki-laki itu dengan tatapan masam dan prihatin menatap bagian tubuh yang terletak di tengah bagian tubuhnya. Bagian tubuh yang ada di tengah laki-laki itu terlihat sangat tegak dan ingin meronta. Perlahan tangan Johan memegang dan mengusapnya, dan karena terasa sesak menyakitkan, laki-laki itu sampai melepas pakaian yang dikenakannya.


Johan merasa sesak dan tersiksa dengan apa yang terjadi pada bagian tubuhnya itu. Tangan laki-laki itu terus mengusap perlahan sambil terus menyebut nama Raveena, dengan bibir mendesis.


"**** me baby... Raveena.. .." ceracauan tidak jelas terus keluar dari bibir laki-laki itu, sambil Johan berdiri.

__ADS_1


Merasa tersiksa, Johan sambil berpegangan pada sisi ranjang dan berjalan menuju ke dalam kamar mandi. Keinginan untuk menuntaskan dan mengakhiri apa yang dirasakannya saat ini, menguasai keinginan Johan saat ini.


**********


__ADS_2