
Pada pukul 20.30, akhirnya Nyonya Besar Nancy keluar dari dalam kamar. Semua orang berkumpul di sofa ruang tengah, dan Alexa yang berniat untuk mendekati Mommy mertuanya ditahan oleh Ravendra. Nyonya Sarah terlihat khawatir, namun Tuan Thomas berusaha menenangkan istrinya dengan memegang tangan perempuan paruh baya itu. Suasana di ruang tengah itu terlihat sepi, tidak ada yang memulai pembicaraan. Johan juga merasa seperti orang gagu, hanya menatap orang-orang itu dengan perasaan serba salah.
"Sudahlah Mommy... sapalah menantumu. Siapa yang memintaku untuk mengajak kesini, mencari keberadaan Lexa, perempuan muda yang telah memberimu pertolongan.." Tuan besar Abraham mengajak bicara istrinya. Laki-laki itu berusaha menjadi penengah antara keluarga putranya dengan istrinya. Apalagi memperhatikan kehamilan menantunya, Alexa tidak boleh terlalu banyak pikiran.
Terlihat Nyonya Besar Nancy menghela nafas, kemudian menatap tajam pada Alexa. Mendapat tatapan tajam seperti itu, Alexa tersenyum dan menganggukkan kepala. Perempuan muda itu berdiri, dan mengibaskan tangan Ravendra yang berusaha menahannya. DI bawah tatapan kecemasan semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut, ALexa berjalan menghampiri Nyonya Besar Nancy.
"Selamat malam Mommy... bagaimana kondisi Mommy sekarang. Apakah sudah jauh lebih baik...? Oh ya.. saya Alexa putri papa Thomas dan mama Sarah, yang sudah resmi menjadi istri dari kak Ravendra. Kami sudah sah di mata negara dan di mata masyarakat." dengan ramah, Alexa mengenalkan dirinya pada perempuan paruh baya yang masih duduk mematung di hadapannya. Di belakang gadis itu, Ravendra memegangi pundaknya, seakan berjaga-jaga, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di ruangan itu.
Nyonya Besar Nancy menengadahkan wajahnya melihat ke arah Alexa, kemudian berpindah ke arah Ravendra. Alexa tersenyum tulus, memberikan rasa tenang di hati perempuan paruh baya itu. Senyuman itu sangat berbeda, jika dibandingkan dengan senyuman tadi siang, kala mereka bertemu di Nagoya Mall. Senyuman kali ini lebih tulus, dan menenangkan.
Tidak diduga, semua yang berada di dalam ruangan itu menahan nafas, ketika Nyonya Besar Nancy. Namun.. keterkejutan kembali menghampiri orang-orang itu, karena di depan keluarga besar itu, perempuan paruh baya itu memeluk erat Alexa dengan kedua tangannya. Tangisan haru pecah di pundak perempuan muda yang sedang hamil itu, dan hal itu berlangsung untuk beberapa saat. Beberapa orang turut meneteskan air mata haru, menyaksikan keharuan yang terjadi.
"Putriku Alexa.. ternyata kamu adalah putri menantuku sayang.. Titip putraku Ravendra sayang.., cairkanlah hati dan perasaannya, agar menjadi lebih lunak." Nyonya Besar Nancy berbisik di telinga Alexa.
"Baik Mommy.. Alexa janji akan merubah kak Ravend.." jawab ALexa mantap.
__ADS_1
Tidak diduga, di depan semua orang, Nyonya Besar Nancy membuktikan keinginannya untuk mencium perut buncit gadis itu. Perempuan itu membungkukkan badannya, kemudian beberapa kali memberikan usapan dan ciuman di perut Alexa. Nyonya Besar Nancy tidak bisa menghilangkan rasa harunya, ketika tangan dan pipinya merasakan gerakan dari dalam rahim Alexa.
"Bayi ini sangat pintar papa.. Mommy diajak bermain oleh cucu kita.." tiba-tiba Nyonya besar Nancy berteriak histeris memanggil suaminya Tuan besar Abraham.
Tuan besar Abraham turut mendatangi Alexa, dan sesuai arahan istrinya, laki-laki tua itu ikut meletakkan tangannya di atas perut Alexa. Kegembiraan seketika melingkupi ruangan itu. Dan sepertinya bayi yang ada di dalam perut Alexa, turut merasakan kedatangan kakek dan neneknya. Berkali-kali bayi itu membuat gerakan di dalam perut perempuan itu, dan kesedihan yang semula ada di dalam ruangan itu, berubah menjadi sesuatu yang membahagiakan.
********
Ketika semua orang sudah berpamitan pulang, demikian juga dengan Johan, Ravendra dengan ditemani istirnya Alexa, datang dan masuk ke kamar yang digunakan Nyonya Besar Nancy beristirahat. Setelah bertemu dengan menantunya yang sedang hamil, Nyonya besar Nancy memang tidak mau kembali ke Presidential SUites yang sudah mereka datangi, mereka memutuskan untuk tinggal dan berada di dalam Pent house Ravendra.
"Mommy... kak Ravend minta ijin untuk bertemu dengan Mommy. Ada sesuatu yang akan disampaikan kak Ravend.." terdengar suara lirih Alexa.
"Lexa.. Ravend.. kemarilah. Papa sedang melihat acara televisi menemani Mommy kalian.." tuan besar Abraham menjawab sapaan Alexa.
Alexa kemudian menarik tangan suaminya, kemudian duduk di depan perempuan paruh baya itu. Sejenak, kesunyian berada di tempat itu, dan tiba-tiba Ravendra menjatuhkan kakinya ke atas lantai, serta duduk bersimpuh di depan Nyonya Besar Nancy.
__ADS_1
"Maafkan Ravendra Mommy... sudah puluhan tahun, Ravendra pergi meninggalkan Mommy, dan tidak memiliki niat untuk menjenguk mommy barang sedetikpun.." Ravendra menangis, dan meminta maaf pada orang tua yang sudah melahirkannya itu.
Dengan penuh perasaan, Nyonya Besar Nancy mengeluarkan tenaganya untuk mengangkat tubuh Ravendra, kemudian memeluknya erat. Air mata kebahagiaan tumpah di dalam ruangan itu, dan Alexa serta Tuan besar Abraham hanya terdiam melihat keduanya saling berpelukan dan menangis. Setelah beberapa saat..
"Terima kasih putri menantuku Lexa.. , kamu sudah membuktikan janjimu padaku. Tidak membutuhkan waktu lama, kamu sudah mengembalikan putraku Ravendra kepadaku. Mommy sangat senang dan bahagia putriku.." tangan Nyonya besar Nancy melambai, berusaha memanggil ALexa untuk mendekat. Perempuan muda itu segera mengikuti ajakan itu, kemudian ketiga orang itu saling berpelukan.
Melihat hal yang membahagiakan di depannya, tuan besar Abraham tidak mau ketinggalan. Laki-laki tua itu segera berjalan menuju ke arah mereka, kemudian merangkul ketiga orang di depannya dengan penuh kasih sayang. Beberapa saat kemudian, karena merasa kasihan dengan kehamilan Alexa, semua melepaskan pelukannya. Tampak sinar cerah kebahagiaan terlihat jelas dari mata dan wajah Nyonya Besar Nancy. Perempuan paruh baya itu sudah menemukan separuh hatinya yang sudah hilang puluhan tahun lamanya. Tugas terakhirnya adalah mencari keberadaan putri kandungnya Raveena, dan membawanya kembali ke dalam pelukannya.
"Kita harus merayakan acara bahagia ini.. kita akan mengadakan sebuah pesta untuk merayakannya.." tiba-tiba Nyonya besar Nancy membuat sebuah usulan.
"Mommy.. jangan bertindak berlebihan Momm.. Usia kehamilan Lexa saat ini sudah hampir masuk ke bulan sembilan, jadi untuk waktu dekat ini.. kita harus menjadi keluarga siaga. Sewaktu-waktu istriku bisa melahirkan setiap saat. Jadi tidak perlu menyelenggarakan pesta yang aneh-aneh.." terlalu protectif dengan kehamilan istrinya, Ravendra kurang setuju dengan usulan yang digagas oleh Mommy nya.
"Tapi.. bagaimanapun kebahagiaan ini harus dirayakan. Kita tidak boleh berhenti untuk mengucap rasa syukur atas anugrah ini.." Nyonya Besar nancy masih tetap mengotot.
"Hmm.. atau kita bisa merayakan dengan keluarga kita saja Momm.. Kita bisa mengundang chef untuk memasak menu kesukaan kita, dengan mendatangkan keluarga papa Thomas dan mama Sarah, keluarga Johan, dan juga para pengawal. Lexa yakin.. itu sudah sangat ramai kok.." Alexa membuat sebuah usulan.
__ADS_1
"Good idea Lexa.. segera kita apresiasikan kebahagiaan ini.." sahut tuan besar Abraham.
***********