Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Terlalu Banyak Bicara


__ADS_3

Tidak diduga, setelah Alexa meletakkan nampan kembali ke ruangan Anyelir, tiba-tiba ada seorang laki-laki muda menghadangnya di depan pintu. Alexa terkejut dan berhenti, kemudian tanpa sadar menatap pada laki-laki itu. Dengan reflek, satu tangan Alexa sudah akan masuk ke saku bajunya, tetapi melihat laki-laki itu tersenyum, Alexa mengurungkan niatnya.


"Ada kepentingan apa Tuan.., kenapa menghentikanku..? Di belakang kami kekurangan orang untuk menjadi pramusaji, sedangkan masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan." untuk mengurangi kegugupan, Alexa mengajak laki-laki itu berbicara.


" Ikut saya sebentar, jangan banyak bicara." tiba-tiba laki-laki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Alexa, kemudian membisikkan kata-kata kepadanya. Merasakan tidak ada aroma permusuhan pada kalimat itu, tanpa sadar Alexa menganggukkan kepalanya, Tanpa memperhatikan sekeliling, Alexa mengikuti langkah laki-laki itu keluar dari ruangan Anyelir.


"Selamat sore nona muda.., terlalu bahaya nona muda untuk kembali. Aku sarankan nona muda segera keluar dari tempat ini, kita berada di tengah-tengah orang yang kejam." bisik orang tersebut. Ternyata laki-laki itu adalah pengawal yang ditugaskan Johan untuk mencuri dengar pembicaraan orang-orang disitu.


"Tidak perlu khawatir, aku dengan kak Ravendra berada di castle ini." Alexa menanggapi perkataan laki-laki itu, matanya memeriksa samping, siapa tahu ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Tuan muda Ravendra ada disini?' pengawal itu terkejut, dan Alexa hanya menganggukkan kepala.


"Sudah ya.., aku harus kembali ke ruang makan. Masih banyak makanan yang belum disajikan.." melihat ada beberapa orang yang berjalan ke arah mereka, Alexa berjalan meninggalkan laki-laki tersebut. Melihat kecerdasan dan kecepatan berpikir Alexa, laki-laki itu tersenyum kemudian kembali berjalan ke ruangan tempat Robin dan beberapa manusia vampire berpesta.


*********

__ADS_1


Alexa sedang bersandar di pinggir dinding di samping ruang makan. Sudah lama jarang beraktivitas, perempuan ini merasakan rasa capai yang teramat sangat. Alexa sengaja mengambil tempat itu untuk beristirahat sebentar, sebelum kembali untuk melanjutkan aktivitasnya mengantar makanan. Tetapi baru saja, gadis itu akan melangkah, tiba sebuah tangan memegang lehernya dari belakang.


"Jangan banyak bicara ikuti aku perempuan ******. Apakah kamu pikir, tidak akan ada yang mengenalimu dengan berada disini. Kamu salah ******..." tiba-tiba terdengar suara Tami di belakangnya. Alexa betul-betul tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan itu di tempat ini.


A;exa terdiam, gadis itu berpikir bagaimana akan membebaskan dirinya dari perempuan itu. Dia mengikuti kemana langkah Tami berjalan membawanya, dan rupanya perempuan itu tidak membawanya ke ruangan dimana Robin berada. Tami membawa Alexa memasuki sebuah ruangan, terlihat sedikit gelap di  dalam ruangan itu, dan di atas sofa tami membanting tubuh ALexa ke bawah.


"Ha.., ha.., ha... ternyata tidak sulit aku membawamu kesini ******.. Tanpa pakai usaha, aku tidak usah menangkapmu, kamu menyetorkan sendiri mukamu ke ruangan ini." sambil tertawa terbahak, Tami berbicara pada ALexa.


Gadis itu diam tidak bereaksi, Alexa mengamati hal apa yang akan dilakukan oleh Tami. Sengaja, ALexa mencari kelemahan Tami dan tempat itu, sehingga dia bisa mencari pertolongan. Tidak terlintas sedikitpun rasa takut pada diri Alexa, meskipun saat ini dia sedang berada dalam kekangan Tami.


Alexa tidak menjawab, gadis itu hanya memandang wajah Tami dengan senyum terkulum di bibirnya. Dalam hatinya, Alexa menyayangkan sikap bodoh perempuan di depannya itu. Yang dengan mudahnya berpindah ke berbagai tubuh laki-laki untuk memuaskan dirinya, dan berusaha mengejar Ravendra tetapi tidak pernah terbalaskan cintanya.


"Untuk apa kamu malah senyum-senyum, mau pamer pada diriku. Jika saat ini kamu sudah mendapatkan surat menikah dengan Ravendra. Ha.., ha.., ha... jangan hanya bangga dengan selembar kertas. Kita dengan mudah akan bisa mendapatkannya di percetakan." masih dengan tatapan meremehkan, Tami menatap Alexa sambil tertawa. Tetapi dalam tawanya itu, Alexa melihat jika ada semburat kesedihan yang terlintas di hati perempuan itu.


"Nona Tami yang cantik.., sebagai sesama perempuan, penting bagiku untuk mengingatkanmu. Kurangi tertawamu, karena biasanya akan ada kesedihan yang datang setelah tertawa tanpa sebab." tidak bermaksud menghina, Alexa mengingatkan Tami.

__ADS_1


Tidak diduga, reaksi mengerikan ditunjukkan Tami di depan Alexa. Perempuan itu mengangkat satu tangan kanannya ke atas, dan membuat gerakan untuk menampar Alexa. Tetapi Tami tidak menyadari dengan siapa dia saat ini berhadapan, dengan cekatan tangan Alexa membuat gerakan menangkap pergelangan tangan Tami. Tubuh Tami tiba-tiba berubah, nadi berwarna hijau terlihat jelas muncul di permukaan kulitnya. Mata perempuan itu mulai memerah, dan Alexa hanya tersenyum melihat semua itu.


Tiba-tiba tubuh Tami melengkung ke belakang, dan pegangan Alexa terlepas. Dengan pandangan nanar, kembali Tami menatap Alexa dengan tatapan membunuh. Dua gigi taring perempuan itu mulai terlihat di kedua sudut bibirnya, dan Alexa mundur dan dengan sigap mengeluarkan senjata apinya.


"Mampuslah kamu ******..." Tami berteriak sambil membuat gerakan menerkam pada Alexa. Tanpa sadar, Alexa menarik pelatuk senjata api yang sudah dipasang peluru perak di dalamnya, dan..


"Dorr..., aawww.. dasar perempuan ******...." Tami berteriak panjang, dengan mata melotot perempuan itu menahan rasa sakit di dadanya. Untung saja, senjata api dilengkapi dengan peredam, sehingga hanya korban yang terkena tembakan yang mendengar suara tembakan tersebut.


Beberapa saat tubuh Tami mengejang, dan terjungkal ke belakang. Dengan darah mengalir di rongga dadanya, perlahan mata perempuan itu terpejam. Melihat hal itu, Alexa duduk kemudian memegang tubuh Tami. Perempuan itu mengecek peredaran darah Tami, dan masih merasakan denyut jantung yang mulai melemah di samping leher Tami.


"Aku akan meninggalkan Tami disini, sebenarnya aku bisa saja membunuh perempuan inbi. Tetapi nuraniku tidak mengijinkan. Biarlah Tami bertarung sendiri dengan takdirnya, apakah akan sembuh dan bertahan, ataukah kalah dan meregang nyawa sendirian." bisik Alexa lirih. Perempuan itu kemudian menarik tubuh Tami, kemudian mengangkatnya ke atas ranjang, dan menyelimuti tubuhnya dengan rapat. Orang yang melihatnya akan mengira jika perempuan ini sedang tertidur, bukan sedang mengalami pingsan,


Beberapa saat kemudian, Alexa membersihkan dan merapikan tubuhnya, kemudian gadis itu melangkahkan kaki keluar dari dalam ruangan tersebut.


*********

__ADS_1


__ADS_2