
Beberapa anak buah Johan yang ada di lantai bawah, satu persatu mulai kembali naik ke lantai atas. Mereka menghampiri Johan yang sedang bertanya pada tiga orang yang sudah berhasil mereka bebaskan tersebut. Tiba-tiba pandangan Johan tertuju pada sebuah gaun, yang tergantung pada sebuah hanger yang ada di dalam lemari kaca. Laki-laki itu merasa familiar dengan pakaian tersebut, karena laki-laki itu merasa pernah menyentuh dan melepaskannya dari tubuh seseorang.
"Tami.., sepertinya itu gaun yang dikenakan Tami saat berada di mansion Tuan Muda, yang ada di Star Hill beberapa waktu lalu." ingatan Johan langsung berkelana, saat malam itu dia melepaskan baju Tami di mansion Ravendra. Laki-laki itu tersenyum kecut, tangannya masuk dan memegang gaun tersebut. Perlahan Johan mendekatkan gaun itu ke hidungnya, dan aroma wangi Tami masih tertinggal di gaun tersebut.
"Benar ini aroma parfum yang selalu dikenakan oleh Tami. Berarti..., apakah orang-orang ini tawanan Tami..?? Kenapa gadis muda itu bisa menjadi sedemikian kejamnya, dan kenapa juga aku terlalu mencintainya?" dengan tersenyum masam, Johan berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu kembali mengamati ke sekeliling ruangan, tetapi seperti tadi, tidak ada yang dapat dia temukan di ruangan tersebut.
"Maaf Tuan.., kami tidak dapat menemukan bukti apapun, mengenai pemilik kastil ini. Sepertinya mereka belum lama meninggalkan tempat ini Tuan.." salah satu anak buah Johan, kembali melapor kepadanya.
Johan mengambil nafas sebentar, kemudian..
"Segera tinggalkan kastil ini, dan tempatkan beberapa orang untuk melakukan penjagaan di tempat ini. Jika tidak sekarang, kita pasti akan dapat menemukan siapa yang berada di balik kastil ini suatu saat nanti." dengan penuh keyakinan, jika kastil ini dimiliki oleh Tami atau Robin, Johan meminta semua anak buahnya untuk segera meninggalkan tempat ini.
"Baik Tuan.., untuk tiga orang yang kita temukan tadi bagaimana?" sebelum meninggalkan Johan, anak buah tersebut bertanya seseuatu.
"Pastikan kondisinya pulih, dan antarkan ketiga laki-laki tersebut ke tempat tinggalnya. Jika perlu, minumkan obat penghilang ingatan tragis kepadanya, agar mereka tidak trauma dengan kejadian terakhir yang mereka alami. Aku akan pergi terlebih dahulu.." setelah menyampaikan pesan pada anak buahnya, Johan langsung melangkahkan kaki keluar dari kastil tersebut.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil jeep pergi meninggalkan tempat tersebut, dengan Johan yang berada di belakang setir kemudi.
__ADS_1
**********
Di sebuah apartemen
Tami terlihat tergesa-gesa memasuki apartemennya, dengan diikuti oleh dua orang di belakangnya. Gadis itu terlihat gugup, dan terengah-engah ketika memasuki ruang tamu apartemen tersebut. Tanpa radu, sesampainya di sofa kursi tamu, Tami langsung membaringkan tubuh dan meluruskan kakinya di atas sofa tersebut.
"Buatkan aku hot coffee..!" dengan suara keras, Tami meminta orang yang tadi berada di belakangnya untuk membuatkan kopi.
"Baik Miss.., segera kami siapkan." satu orang segera masuk ke dapur untuk menyiapkan kopi, sedangkan satunya duduk di samping Tami berbaring. Dengan sigap, tangan laki-laki itu memijat kaki dan betis gadis muda itu. Tami menikmati perlakuan itu sambil memejamkan matanya.
"Ukh..., akh... kondisikan tanganmu!" sambil mengerang dan mende**sah, Tami berbicara dengan nada keras.
"Hmm.., hanya untuk menguji saja Miss. Apakah nafsu Miss Tami masih tinggi, ataukah sudah mulai frigid..?" sambil tersenyum smirk, laki-laki itu memberanikan diri menggoda Tami. Tangan laki-laki bernama Arya itu terus merayap melewati paha Tami. Perlahan tangan itu mengusap segitiga bermuda berwarna hitam yang dikenakan gadis muda itu. Tami memejamkan mata, menikmati sentuhan itu dengan mendesah lirih. Melihat respon yang ditunjukkan majikannya, Arya semakin mengusap dan sesekali mencubit pelan bagian inti Tami dari luar kain yang melapisinya.
"Mmmm..., akh... kamu semakin berani Arya.." rintih Tami merasakan sentuhan Arya yang semakin berani. Suara gadis itu sudah mulai serak,
"Arya..., kenapa kamu menikmati sendiri. Ajaklah aku..!" dari arah dapur, muncul anak buah Tami yang satu lagi. Laki-laki itu segera meletakkan cangkir kopi di atas meja, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Tami bangun dan duduk di atas kursi. Setelah Tami duduk, laki-laki bernama Miko itu kemudian duduk di samping Tami, kemudian menyandarkan tubuh Tami di atas dadanya. Jadilah sekarang Tami duduk diapit oleh dua orang laki-laki muda.
__ADS_1
Tami segera mengambil cangkir kopi, dan mulai menyesap perlahan. Tetapi baru satu tegukan, mata gadis itu mulai menyipit. Tami merasa tidak tahan dengan godaan perlakuan dua laki-laki yang duduk di kanan dan kirinya. Tangan dua laki-laki itu sudah meraba-raba dan melakukan remasan ke sekujur tubuh gadis itu, dan Tami hanya menggelinjang hebat. Tanpa disadari gadis itu, pakaian atas yang dia kenakan sudah terlepas dan tergeletak di lantai. Bibir kedua laki-laki itu menjilati dan mengekplore tubuh bagian atasnya.
*********
Sore harinya...
"Bagaimana rencana kita selanjutnya Miss..?" tanya Arya pada Tami. Saat ini Tami masih berbaring di atas dada Arya, dengan Miko tertidur di ranjang yang sama. Gadis muda ini memang memiliki kelemahan, dia tidak bisa menahan diri dari sentuhan laki-laki. Tami hanya merasa Ravendra saja yang bisa memberinya sebuah kepuasan yang maksimal. Tetapi, perlakuan Ravendra saat ini sudah tidak lagi bisa diharapkan darinya.
"Untuk sementara kita aman, semua bukti sudah kita lenyapkan. Kita akan menyusun rencana lagi, kita akan tangkap ALexa. Gadis itu menjadi kelemahan untuk Ravendra saat ini, aku tidak mau laki-laki itu bergaul dengan perempuan sembarangan. Hanya aku yang layak dan pantas untuk mendampinginya." ucap Tami dengan tatapan penuh kebencian.
"Tapi bagaimana jika Tuan Robin tahu, sepertinya tidak lama lagi Tuan Robin sudah akan kembali dari Rumania." Arya masih melanjutkan pembicaraan.
"Kamu jangan khawatir, kak Robin pasti akan mendukungku. Bagaimanapun, aku adalah satu-satunya adik perempuannya, tidak mungkin kak Robin akan membiarkanku menderita. Sudahlah Arya.., aku akan istirahat sebentar. Tenagaku habis terkuras setelah melayani kalian berdua secara bersamaan.." sambil tersenyum, Tami meminta Arya untuk berhenti bicara. Arya tidak menanggapinya, perlahan laki-laki itu turut memejamkan matanya.
Perlahan Tami berdiri, dan meninggalkan kedua laki-laki yang masih tertidur dalam keadaan tidak mengenakan selembar benangpun. Gadis muda itu memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dari sisa-sisa aroma dua laki-laki yang bersama-sama telah mencapai kepuasan bersamanya.
*************
__ADS_1