
Johan menghentikan langkahnya, laki-laki itu bersembunyi di balik batu besar. Mereka memutuskan untuk menunggu siapa yang datang ke arah mereka. Tiba-tiba senyuman muncul di bibir Johan, melihat Tuan Thomas tampak mengendap dan berusaha mencari tahu keadaan di pintu goa. Melihat hal itu, Johan segera keluar dari balik batu dan berdiri menghadang Thomas.
"Tuan.. Tuan Thomas.." Johan berinisiatif memanggil papa Alexa itu. Thomas menghentikan langkahnya, dan setelah mengetahui siapa yang sudah memanggilnya, senyuman lebar muncul di bibir laki-laki itu. Apalagi di belakang Johan, muncullah Ravendra, Mata laki-laki suami dari putrinya itu menatap Thomas dengan tatapan tajam menghunus, seakan melucuti persenjataan papa mertuanya,
"Syukurlah kalian sampai di tempat ini juga akhirnya. Putriku pasti akan sangat bahagia melihat kedatangan kalian berdua. Masuklah.. Alexa sedang duduk di depan pendiangan.." Thomas melebarkan kedua tangannya ke samping, dan Johan kemudian memeluk laki-laki itu.
"Iya Tuan.. syukurlah feeling kami tepat. Kami bisa keluar dari pusaran hutan, karena mendapatkan pertolongan dari sekawanan burung. Begitu melihat ada aliran sungai, akhirnya kami memutuskan untuk turun, dengan harapan akan dapat menemukan nona muda Alexa. Insting kami ternyata tepat paman.. " Johan menanggapi perkataan Thomas.
Wajah Ravendra sangat tajam menatap Thomas, dan jika laki-laki itu tidak mengingat jika Tuan Thomas adalah papa dari istrinya Alexa, mungkin pukulan sudah diberikan kepada laki-laki paruh baya itu. Kedatangan ke kastil tanpa kabar, dan malah mengakibatkan perginya Alexa dari dalam kastil.
"Okay.. okay.. Ravendra.. Uncle mengaku salah, karena menuruti dan bahkan menemani kemauan istrimu. Uncle tidak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Masuklah ke dalam, Alexa sedang duduk bersandar pada batuan. Barusan putriku terbangun, karena mencium daging bakar dari arah luar." Thomas tersenyum pahit, dan berusaha memahami reaksi yang ditunjukkan oleh menantunya itu. Laki-laki itu memberi tahu keberadaan Alexa saat ini.
Ravendra tidak menjawab, masih dengan tatapan tajam, Ravendra segera menerobos masuk ke dalam goa untuk menemui istrinya. Johan hanya melongo melihat apa yang dilakukan oleh tuan mudanya,
__ADS_1
Thomas berkedip pada Johan, seakan memberi isyarat pada laki-laki itu untuk tidak mengganggu pasangan suami istri itu. Untungnya Johan cepat tanggap, sambil mengulum senyum laki-laki itu menganggukkan kepala. Kedua orang itu kemudian berjalan kembali ke mulut goa, dan membiarkan Ravendra untuk menghabiskan waktu berdua bersama dengan Alexa di dalam goa.
"Kita keluar dari dalam goa saja.. daripada ada suara-suara yang akan mengganggu fokus kita nantinya." seperti memahami apa yang akan terjadi di dalam goa, Thomas mengajak Johan untuk keluar dari dalam goa. Johan tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian berjalan mengikuti langkah Thomas keluar dari dalam goa. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk-duduk di depan goa sambil membuat perapian di tempat itu,
*********
Alexa menoleh ke arah depan karena mendengar langkah kaki masuk ke dalam goa tersebut. Tetapi tiba-tiba jantung perempuan itu seperti berdebar-debar, mencium aroma maskulin yang selalu dirindukannya seakan masuk ke dalam goa tempatnya berada. Tidak lama kemudian, Alexa beberapa kali mengucek-ucek matanya, Gadis itu seakan tidak percaya, melihat laki-laki yang sangat dirindukannya tersenyum dan berjalan menghampirinya.
"Kak Ravend.." dengan suara tercekat, Alexa mengucap sebuah nama.
"Bagaimana kakak bisa sampai disini, maafkan Lexa kak.. Alexa tidak mengindahkan pesan dan peringatan yang diberikan kak Ravend. Akhirnya di tempat inilah, Alexa terdampar." Alexa terlihat sangat menyesali apa yang telah terjadi. Berkali-kali suaminya sudah menyampaikan peringatan kepadanya, namun dia sendiri yang melakukan pelanggaran. Sejak awal sebenarnya Alexa juga tahu jika kedatangan Bibi Cathy seperti menyiratkan sesuatu, namun hasrat di dalam hatinya tetap memperhatikan perempuan tersebut,
"Tidak perlu lagi untuk diungkit lagi honey. Untunglah aku bisa menemukan keberadaanmu honey.. Jika tidak.., dunia bisa aku hancurkan. Kamu harus paham itu, betapa berartinya keberadaanmu untukku." Ravendra menatap mata Alexa dengan tajam. Gadis itu hanya malu menundukkan wajah, seakan menyadari dimana letak-letak kesalahannya.
__ADS_1
"Iya kak.., maafkan Alexa. Sekali lagi Alexa sudah membuat kesalahan yang fatal, karena tidak tega pada Bibi Cathy. Perempuan tua itu hidup sendiri di hutan, dan Alexa pernah berjanji untuk mengunjunginya kapan-kapan." ucap Alexa lirih.
"Naif sekali kamu istriku. Sekarang kamu harus mengobati dan meredakan kemarahanku.." bisik pelan Ravendra di belakang telinga gadis itu. Hati Alexa berdesir mendapat bisikan dari suaminya, ditambah dengan posisi mereka yang hanya berdua di dalam goa, menjadikan nafas pasangan suami istri menjadi terburu.
Ravendra menyentuh dagu gadis itu dengan menggunakan ujung jarinya, kemudian laki-laki itu menurunkan wajahnya sendiri. Ciuman lembut kembali dilakukan oleh dua manusia itu, tanpa mempedulikan sekeliling dan dimana mereka saat ini berada. Bahkan satu tangan laki-laki itu sudah menyusup di balik pakaian yang dikenakan Alexa, dan perlahan menyentuh dan meremas benda kenyal di dada gadis itu..
"Ukh.. aakhhh... kak.. ada papa di dalam goa ini.." sesaat kesadaran Alexa kembali datang menghampiri gadis itu. Mengingat jika kedatangannya ke goa ini bersama dengan papanya, gadis itu mencoba mengingatkan suaminya, Kedua tangan Alexa mencoba melepaskan satu tangan suaminya, yang sudah sedemikian cepatnya melepaskan kancing baju pakaian atasnya. Tetapi dengan cepat, Ravendra menyingkirkan tangan gadis itu, dan semakin menundukkan wajahnya ke bawah untuk memberikan ciuman ke leher dan belakang telinga Alexa.
"Hmm... tenanglah honey.. jangan terlalu banyak berpikir. Dengan adanya aku disini, papamu tidak akan berani masuk ke dalam. Hari ini untuk kita, honey harus bertanggung jawab dengan kerinduan dan kepanikanku seharian ini." ucap Ravendra sambil tersenyum smirk, laki-laki itu tidak mempedulikan perkataan istrinya. Dalam pikirannya kali ini, menyatu dengan istrinya adalah tujuannya,
Laki-laki itu kembali menyentuh bagian-bagian sensitif gadis itu, dan lenguhan, serta desa**han bergema di dalam ruang goa. Sangat menggetarkan siapapun yang mendengarnya. Alexa yang semual merasa khawatir jika aktivitas percintaan mereka akan mengganggu Johan dan Thomas, sudah tidak mampu lagi bersuara. Dengan lihainya, Ravendra memabukkan gadis itu, jilatan dan pagutan terus diberikan Ravendra di sepanjang titik-titik sensitif di tubuh gadis itu.
"Kak Ravend... ugh... ssh..." Alexa menjerit lirih, menikmati perlakuan menggetarkan yang diberikan Ravendra. Mendengar lenguhan istrinya, menjadikan laki-laki itu semakin bernafsu untuk menguasai medan di seluaruh tubuh istrinya. Untungnya Thomas dan Johan berada di luar pintu goa, sehingga suara-suara itu tidak mengganggu fokus dan konsentrasi mereka.
__ADS_1
***********