Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Aku Meminta Raveena


__ADS_3

Di ruang tengah, Johan duduk menghadap Tuan besar Abraham dan Nyonya besar Nancy. Dari depan kamar Alexa, Ravendra duduk mengamati percakapan itu sambil mengawas istrinya yang sedang membaca majalah di dalam kamar. Sebenarnya Tuan Abraham sedikit terkejut, ketika Johan memberi tahunya untuk meminta waktu untuk berbicara dengannya dengan istrinya.


"Minumlah dulu Johan.. tidak perlu terlalu formal." tuan besar Abraham mengambil gelas, dan minum teh manis panas dari gelas besarnya. Di sebelahnya duduk Nyonya besar Nancy yang tidak begitu respon menanggapi permintaan Johan. perempuan itu masih asyik bermain dengan ponsel di tangannya, dan membuka chat dengan rekan-rekan sosialitanya di berbagai negara.


Johan mengambil cangkir yang berisi teh manis panas yang masih mengepul, setelah menunggu beberapa saat sampai teh itu sedikit hangat, Johan mulai menyesapnya beberapa teguk. Laki-laki itu kemudian meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja. Setelah itu, Johan memberanikan diri menatap mata Tuan besar Abraham.


"Sebelumnya mohon maaf tuan besar Abraham, Nyonya besar Nancy.. saya meminta dan mengganggu waktu tuan besar dan juga nyonya besar. Hal ini karena dilandasi keinginan saya untuk meminta ijin dan restu dari tuan besar dan Nyonya besar.." dengan hati-hati, Johan mengutarakan keinginannya pada pasangan suami istri itu.


Tuan besar Abraham terkejut dengan keseriusan yang ditunjukkan oleh Johan. laki-laki itu menyenggol nyonya besar Nancy agar memperhatikan Johan. Setelah nyonya besar Nancy juga memandang Johan dengan serius..


"Apa maksudmu Johan.. ijin dan restu apa. Jangan pernah kamu katakan, jika kamu akan pergi meninggalkan Ravendra, sehingga perlu meminta ijin dan restu dariku. Jelaskan Johan, apa maksud dari perkataanmu.." Tuan besar Abraham dengan serius bertanya pada laki-laki muda itu. Nyonya besar Nancy juga memperhatikan Johan dengan serius.


"Maksud saya begini Tuan besar, Nyonya besar. Johan bermaksud untuk meminta ijin untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan nona muda Raveena. Jika diperkenankan, dalam waktu yang tidak lama, kami berdua akan segera meresmikan kedekatan kami berdua.." dengan berani, Johan mengutarakan keinginannya untuk menikah dengan Raveena.

__ADS_1


Tuan besar Abraham terkejut mendengar perkataan Johan, hal tampak terlihat dari wajah laki-laki itu. Tetapi dengan cepat laki-laki papa raveena itu menyesuaikan wajahnya. Laki-laki itu melihat wajah Johan dan sebuah senyuman keluar dari bibir laki-laki tua itu. Nyonya besar Nancy tidak kalah terkejutnya mendengar penuturan dari laki-laki muda yang sudah dikenalnya sejak anak laki-laki itu lahir. Dengan rasa ingin tahu, pasangan suami istri itu melihat ke wajah Johan.


"Aku tidak bisa memahami kalimatmu Johan.. Putriku Raveena sudah bertahun-tahun mengikuti jejak kakaknya Ravendra juga pergi dari rumah. Kalau keberadaan Ravendra, aku masih bisa mengikutinya lewat perusahaan-perusahan yang berada di berbagai negara. Orang-orangku selalu melaporkan keberadaan putra laki-lakiku. namun untuk Raveena, putriku itu seperti hilang ditelan bumi. Sudah lama, kami berdua belum pernah bertemu dengannya. Kali ini, kamu memberanikan diri meminta doa dan restuku untuk menyetujui keinginanmu. APakah kamu tidak salah bicara.." Tuan besar Abraham meminta penegasan dari kata-kata Johan.


"Jelaskan juga padaku Johan.. apa yang kamu maksudkan." dari samping tuan besar Abraham, Nyonya besar Nancy turut berbicara.


Johan tersenyum kecut, sudah menduga akan muncul keterkejutan dari dua orang yang ada di depannya itu. Laki-laki itu mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya kembali secara perlahan.


"Tetapi beberapa kali kami akhir-akhir ini bertemu, kami berdua berani untuk mengungkapkan perasaan kami masing-masing. Kami sudah bicara, dan juga sudah sepakat untuk melegalkan hubungan kami baik secara agama maupun secara pemerintah. Untuk itu tuan besar, nyonya besar, saya memberanikan diri untuk meminta nona muda Raveena untuk saya jadikan sebagai pendamping hidup saya selamanya." Johan melanjutkan.


Tuan besar Abraham dan nyonya besar Nancy menyandarkan punggung mereka di sandaran kursi. keduanya mengambil nafas panjang, dan menatap tajam pada laki-laki yang ada di depannya itu. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, apalagi ditambah keberadaan putrinyapun sampai sekarang belum diketahuinya. Setelah beberapa saat kemudian..


"Johan.. aku tidak pernah melihat orang dari asal usul, bobot bebet, atau hal ***** bengek lainnya. Masalah doa dan restu kita bicarakan nanti, hal terpenting saat ini adalah bagaimana kita bisa menemukan keberadaan Raveena. gadis itu sudah lama pergi meninggalkan rumah, dan selalu menutupi dimana keberadaannya. Bagiku sebagai papanya, semua yang kamu katakan tadi, jawabanya ada pada diri Veena, kami hanya akan menyetujuinya." ucap tuan besar Abraham akhirnya.

__ADS_1


"Akupun demikian pa.. Mommy sudah tidak akan lagi berpikir terlalu tinggi, karena keberadaan Mommy adalah ketika kita bisa berada dengan dikelilingi putra dan putri kita." ucap nyonya besar Nancy perlahan. Dari sampingnya, Tuan besar Abraham memegang kepala perempuan itu, kemudian menyandarkan di pundaknya.


Johan terkejut mendengar perkataan kedua orang di depannya, anak muda itu melihat ke wajah dua orang itu dengan tidak percaya. Harapan untuk dapat menjalin ikatan dengan Raveena menjadi meningkat, dan perasaan bahagia muncul di sudut hatinya.


"Temukan putriku Raveena Johan.. bawalah gadis itu kesini, maka papa dan Mommy akan merestui hubungan kalian berdua. Tetapi itupun juga harus dengan kehendak putriku, karena kami sudah tidak akan melakukan pemaksaan lagi pada putri kami. Mereka sudah dewasa, dan sudah saatnya untuk menentukan jalan hidup sendiri." ucap tuan besar Abraham.


Dari depan pintu kamar Alexa, Ravendra tersenyum dan mengacungkan ibu jari memberikan ucapan selamat [ada Johan. Namun Johan sendiri malah kebingungan, karena saat ini Raveena sedang bersama dirinya. Laki-laki muda itu tidak akan dapat melihat bagaimana reaksi tuan besar Abraham dan Nyonya besar Nancy jika putrinya sudah tinggal bersama dengan Johan untuk beberapa saat.


"Papa.. mommy..." tiba-tiba semua yang duduk di ruangan itu terkejut. Mereka melihat kedatangan Raveena berlari ke arah sofa yang sedang diduduki pasangan suami istri itu.


"Veena putriku... benarkah ini kamu nak..?" Nyonya besar Nancy tidak percaya dengan apa yang saat ini dia lihat di depannya. perempuan itu kemudian berdiri, dan memeluk tubuh Raveena putrinya dengan erat.


*********

__ADS_1


__ADS_2