
Alexa terbangun, mata gadis itu mengerjap sebentar. Ingatan gadis itu langsung terkoneksi dengan keadaan Ravendra, dia masih teringat terakhir kali melihat bagaimana suaminya sedang dilepaskan gelang besi dari pergelangan tangannya. Tanpa menghiraukan keselamatan dirinya, gadis itu bergegas bangun dari posisi berbaringnya.
"Honey..., kamu sudah sadar sayang..?" kata-kata lembut Ravendra mengagetkan gadis itu. Alexa tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya, gadis itu kembali memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mata perlahan, dan terlihat senyum Ravendra masih berada di atas wajahnya.
"Kak Ravend..., kakak sudah sadar?" gadis itu langsung memeluk tubuh Ravendra. Kedua manusia itu berpelukan erat, dan perlahan Ravendra mengusap punggung gadis itu. Setelah beberapa saat kemudian,....
"Minumlah dulu honey..., jangan banyak berpikir. Tubuhmu masih terlalu lemah, kata Rahib kamu sudah menyumbangkan energimu untuk kesembuhanku. Terima kasih honey..." Ravendra memberikan kecupan di kening gadis itu, kemudian mengambil air minum dalam gelas. Perlahan laki-laki itu membantu Alexa meminumkan air ke mulut istrinya.
"Kak Ravend sudah sehat.., tidak terlihat lemas lagi?" tanpa mempedulikan kesehatannya sendiri, Alexa kembali memberondong suaminya tentang kesehatan laki-laki itu.
Ravendra tersenyum kemudian menganggukkan kepala, sambil menatap dengan penuh perasaan pada gadis yang ada di depannya itu. Alexa kembali memeluk tubuh Ravendra dengan erat. Laki-laki itu membiarkan istrinya menumpahkan semua perasaannya. Tidak lama kemudian...
"Honey sudah memiliki tenaga? Jika sudah, Uncle Thomas menunggu kita di bawah dengan para Rahib. Kita harus menemui mereka, karena kedatangan mereka, aku bisa cepat kembali pulih seperti semula. Tetapi jika honey masih merasa lemas, biarkan mereka yang datang ke kamar ini," setelah merasa jika kondisi istrinya sudah terlihat pulih, Ravendra bertanya pada Alexa.
"Sudah kak..., mereka lebih tua. Kita tidak boleh merepotkan pihak yang lebih tua, aku akan turun ke bawah untuk menemui mereka. Aku belum sempat menyambut dan mengucapkan salam pada papa. Alexa ingin mengetahui kabar tentang mama." Alexa terlihat merasa senang dengan ajakan suaminya itu. Gadis itu langsung beranjak dari tempat tidur, dan akan berdiri. Tetapi kedua tangan laki-laki di sampingnya lebih cepat dari gerakannya. Dengan sigap, Ravendra mengangkat tubuh ALexa dengan kedua tangannya dengan gaya bridal style. Alexa langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher laki-laki itu. Ravendra tersenyum, dan kedua pasang mata itu saling bertatapan dan melangkah keluar dari dalam kamar.
***********
Ketiga Rahib, Johan, dan Thomas menoleh ke arah anak tangga. Terlihat dari lantai atas, Ravendra sedang menuruni anak tangga dengan menggendong Alexa di kedua tangannya. Tampak wajah senang tergambar di wajah Thomas, melihat kebahagiaan yang dirasakan putrinya dengan Ravendra. Johan langsung berdiri, dan berjalan menghampiri mereka di bawah tangga. Laki-laki itu merasa khawatir, karena melihat wajah Ravendra masih terlihat lemas, Dia tidak ingin terjadi kejadian yang tidak diinginkan pada pasangan itu,
__ADS_1
"Johan.., menyingkirlah. Jangan meragukanku, aku ini laki-laki. Masih memiliki tenaga yang kuat untuk membawa istriku." melihat kekhawatiran di wajah Johan, Ravendra langsung menegur laki-laki itu.
"Jangan begitu Tuan muda. Saya hanya terlalu mengkhawatirkan kesehatan Tuan Muda. Belum lama, Tuan muda baru tersadar dari siuman, sekarang malah sedang membawa Nona Muda Alexa di kedua tangan tuan muda." Johan membela diri,
"Apakah menurutmu tubuhku terlalu besar kak Johan.., sehingga akan memberatkan kak Ravendra." terdengar suara Alexa memprotes over protective Johan pada suaminya. Para Rahib dan Thomas tersenyum mendengar perkataan Alexa.
"Jangan tersinggung Nona Muda.., bukan maksud Johan mengatakan jika nona muda berat. Ya sudahlah.., daripada menjadi salah tafsir, mending Johan diam saja." sambil tersenyum masam, akhirnya Johan berjalan kembali menuju meja makan,
"Ha.., ha..., ha... ternyata ada yang patah semangat jadinya. Sudahlah Johan.., duduklah kembali disini. Kita kalau melawan orang yang sedang dirundung asmara, tidak akan pernah bisa menang." dari kursinya, Thomas mengomentari Johan yang ditindas Alexa.
Ravendra hanya tersenyum tidak ikut berkomentar. Laki-laki itu segera mendatangi para tetua di meja makan. Melihat hidangan yang sudah tersaji, tiba-tiba perut Alexa berbunyi. Gadis itu tersenyum malu..
Tanpa bicara, Ravendra segera mengambilkan makanan dan meletakkan di atas piring di depan Alexa. Setelah itu baru laki-laki itu menuangkan untuk dirinya sendiri, Memperhatikan jika para tetua yang duduk di meja makan sudah selesai melakukan makan, Ravendra segera mengajak Alexa untuk mencicipi makanannya.
"Honey.., kita harus segera makan. Para Rahib dan semua yang ada disini sudah selesai menikmati makanannya. Tinggal kita yang belum." ucap Ravendra. Alexa segera mulai menikmati makannya.
*********
Seusai Makan
__ADS_1
"Papa..., mama ada dimana?? Alexa kangen ingin ketemu mama." dengan tatapan memohon, ALexa menanyakan tentang Sarah pada Thomas.
"Jangan khawatir Alexa.., besok pagi papa akan membawa mamamu kesini. Mama sudah ada di Yunani, hanya agar tidak mengganggu papa, mama sengaja papa tinggal di ibukota Yunani." sambil tersenyum, Thomas menjawab pertanyaan yang diajukan Alexa.
"Iyakah pa.., kenapa papa tidak membawa mama sejak awal kesini?" seperti lupa akan kejadian yang baru saja menimpa Ravendra, Alexa bertanya hal yang tidak masuk akal pada Thomas. Ravendra menepuk pundak istrinya itu.
"Honey..., jika mama Sarah ikut kesini, Uncle Thomas ga jadi membawa Rahib kesini dong. Jadinya malah liburan sambil honey moon?" bisik Ravendra di telinga Alexa.
"Heh iya juga ya..." sahut Alexa malu.
"Oh ya Rahib..., kami dari Andromega Group tidak akan melupakan kebaikan dari Rahib bertiga. Atas bantuan dari para Rahib, akhirnya saya bisa terbebaskan dari kungkungan gelang besi itu." seperti mengingat kembali kejadian yang terjadi sebelumnya, Ravendra menyampaikan ucapan terima kasih pada para Rahib.
"Sudah menjadi tugas kami Tuan Ravend. Kami yang tidak bisa menjaga keselamatan kastil itu, sehingga kastil diinjak-injak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kami bertiga juga tidak menyangka kedatangan Tuan Robin dan Slovasky ternyata memiliki niat yang tidak baik kepada kastil. Kami menurut saja ketika diajak bertemu dengan mereka, yang akhirnya malah menjebloskan kami ke penjara bawah tanah. Selain itu juga mengobrak abrik tempat penyimpanan barang-barang pusaka kastil." Rahib menanggapi perkataan Ravendra.
"Untungnya Tuan Thomas segera datang, dan dapat membebaskan kami dengan segera. Jika tidak, mungkin nyawa Tuan Ravendra tidak akan dapat tertolong, karena kekuatan terserap oleh gelang besi tersebut." Rahib satunya turut menjelaskan,
Alexa dan Thomas hanya diam membiarkan Ravendra berbincang dengan ketiga Rahib tersebut.
*************
__ADS_1