
Seperti yang dikatakan Ravendra, begitu Johan masuk ke ruang tengah, Tami langsung menyergap laki-laki itu dengan penuh naf**su. Tanpa berbicara apapun, gadis itu langsung melucuti pakaian yang dikenakan Johan. Sudah terlalu lama memendam rasa dengan gadis itu, akhirnya Johan membuang rasa sungkan dan rasa malunya. Laki-laki itu kemudian membalas perlakuan intim yang diberikan gadis itu padanya.
"Ughhh..., emmmm..., teruskan Johan. Ternyata kamu juga sangat luar biasa sayang..." ceracauan tidak jelas keluar dari mulut Tami. Gadis itu terus mendesah dan melenguh, saat tangan dan bibir Johan mengeksplorasi dan menciumi setiap inci dari kulitnya. Sudah tidak mempedulikan lagi suara ceracauan mereka yang menggema kemana-mana, kedua orang itu terus bergumul dan bergelut. Tanpa kata, Johan terus memacu dan memompa adrenalinnya, dan mulut Tami tidak berhenti mengeluarkan *******-******* kenikmatan.
Robin yang merasa tidak nyaman dengan suara-suara itu, memutuskan untuk meninggalkan mansion itu lebih dulu. Pablo dan Martha saling berpandangan, kedua orang itu segera masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
*******
Pagi hari, Alexa membuka matanya dan melihat dia berada di dalam pelukan Ravendra. Laki-laki itu tersenyum ketika melihat mata gadis itu mengerjap dan terbuka sempurna. Sebuah kecupan lembut, kembali diberikan Ravendra ke kening gadis itu.
"Apakah sekarang sudah pagi hari kak Ravend..?" tanya Alexa, ketika melihat sinar terang dari balik gordyn yang menutup jendela.
"Sudah honey.., bersihkan tubuhmu. Kita akan segera kembali ke hotel pagi ini juga.., rombongan yang berada di tempat penampungan juga sudah sebagian dievakuasi untuk kembali ke hotel tersebut." kata-kata yang diucapkan Ravendra, seperti mengatakan jika laki-laki itu sudah melakukan koordinasi, dan mengatakan jika dia yang bertanggung jawab terhadap keamanan semua karyawan perusahaan Andromega.
"Kakak tidak tidur..? Kok pagi ini sudah terlihat segar dan rapi." dengan perasaan polos, Alexa bertanya pada laki-laki itu. Perlahan, Ravendra melepaskan pelukannya, kemudian mendudukkan Alexa di pinggir ranjang.
"Kakak juga tidur honey..., kakak memelukmu sepanjang malam. Jika kamu sudah menjadi istriku, aku pasti sudah akan menghabisimu," bisik mesum laki-laki itu di telinga Alexa. Pipi gadis itu memerah, dan tangan mungilnya memukul punggung Ravendra.
__ADS_1
"Jangan pernah berpikiran seperti itu kak, jika tidak ingin membuatku takut." ucap lirih Alexa. Tidak mau banyak berpikir, Alexa segera turun dari atas ranjang kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.
Ravendra melihat punggung Alexa sambil tersenyum kecut, dia teringat bagaimana dengan keadaan dirinya menahan ha**srat sepanjang malam. Berkali-kali laki-laki itu harus merendam dirinya di kamar mandi dengan air dingin, untuk meredakan hawa panas yang menguar keluar dari dalam tubuhnya.
"Aku akan menyiapkan baju ganti untukmu." Setelah melihat gadis itu masuk ke kamar mandi, perlahan Ravendra menyiapkan baju ganti untuk Alexa. Ravendra segera menuju ke walk in closet untuk mengambil baju-baju baru koleksi mamanya semasa masih hidup. Setelah memastikan semuanya siap, Ravendra segera keluar dari dalam kamar.
Alexa menyalakan air panas dari dalam kran, dan sekali lagi gadis itu mengagumi kemewahan yang ada di dalam kamar mandinya. Setelah air di bath up penuh, Alexa segera melepaskan semua pakaian, dan kemudian menceburkan diri dan berendam dalam bath up tersebut. Bersama dengan Alexa, Ravendra bisa merasakan bagaimana dia harus menahan diri, tidak berusaha untuk memaksakan diri. Dia berlatih untuk mengenal dan menghayati apa sebenarnya kata sabar.
**************
"Ada apa honey..., apa yang kamu lihat?" Ravendra bertanya pada Alexa, ketika laki-laki itu melihat kekaguman Alexa atas pemandangan di sekitarnya.
"Pemandangan disini bagus sekali kak.., Alexa suka melihatnya." ucap Alexa menjawab pertanyaan Ravendra.
Laki-laki itu tersenyum, kemudian dia melangkah mendekati Alexa dan memeluk gadis itu dari belakang, Tangan kanan Ravendra merapikan rambut Alexa, dan menjepit beberapa rambut di atas telinganya.
"Apakah kita perlu menghabiskan waktu dulu disini, kita tidak perlu kembali ke hotel.. honey." tanya Ravendra di telinga Alexa. Mendengar perkataan itu, Alexa menatap mata hitam dan jernih laki-laki itu.
__ADS_1
"Mungkin some day kak Ravend.,., Alexa akan mengunjungi tempat ini lagi. Kini saatnya.., kita akan kembali ke aktivitas kita. Alexa takut.., teman-teman akan mengkhawatirkanku." gadis itu segera melepaskan diri dari pelukan Ravendra, kemudian berjalan menuju mobil. Johan melihat mereka sambil tersenyum, dan kemudian menutup matanya menggunakan kaca mata hitam. Apa yang terjadi dengan dirinya dengan Tami tadi malam, membawa semangat hidup baru baginya.
Ravendra tertawa kecil, dia segera mengikuti langkah Alexa, dan segera masuk ke dalam mobil. Setelah melihat Tuan Muda dan Alexa memasuki mobil, perlahan Johan segera menjalankan mobilnya. Pablo dan Martha melambaikan tangannya sampai mobil itu hilang dari pandangan.
"Ternyata ngeri juga ya badai dan angin semalam.. Lihatlah kak.., banyak pohon yang bertumbangan." Alexa menunjuk ke arah pohon-pohon yang banyak ambruk menimpa pohon-pohon yang lain.
"Begitulah honey..., kita tidak bisa mengendalikan alam. Kita hanya bisa meramalkan atau memprediksi terjadinya, tetapi dengan tepat kita tidak akan bisa mencegah terjadinya." ucap Ravendra menjawab pertanyaan Alexa. Perlahan laki-laki itu mendekat ke tempat duduk Alexa, dan menyandarkan kepala Alexa ke atas pundaknya.
"Kak Ravend..., nanti tolong kendalikan kakak ya!! Di depan teman-teman Alexa.., kakak kendalikan diri ya, jangan sampai teman-teman dapat mengenali hubungan kita." tiba-tiba seperti teringat sesuatu, Alexa memperingatkan Ravendra. Gadis itu khawatir, jika tiba-tiba di muka umum, laki-laki itu akan mengobral kemesraan pada dirinya.
"Ehmmm..., gimana ya...?? Masak sih.., dengan kekasih hatiku, aku tidak bisa menunjukkannya pada orang lain. Bisa-bisa orang lain akan salah sangka, dan malah akan mengejarmu seperti ulah si bastard Ridwan terhadapmu. Aku perlu memberi pelajaran pada laki-laki itu." teringat dengan perlakuan mesum Ridwan terhadap Alexa, tiba-tiba Ravendra ingin menghajar laki-laki itu.
Alexa menoleh ke arah Ravendra, tangannya mengusap lembut wajah laki-laki itu dan menghadapkannya ke wajahnya.
"Kak Ravend.., ingat apa yang tadi barusan Naura katakan. Jika kakak menolaknya, maka hubungan kita akan berakhir. Alexa yang memutuskan kali ini, bukan kak Ravend." dengan tegas, Alexa membuat peringatan pada laki-laki itu. Mendengar ancaman gadis itu, Johan menutup mulutnya dari depan. Dia tersenyum mendengar gadis itu berani mengancam Tuan Mudanya. Ravendra tidak menanggapi perkataan Alexa, laki-laki itu malah berpura-pura memejamkan matanya.
*************
__ADS_1